Pasti Datang

Dimas menatap layar komputer. Mengetikkan username dan password untuk mengaktifkan layanan messenger nya. Berselang satu menit, masuklah sebuah pesan dari seseorang yang sangat dikenalnya. Teman baiknya. Rasya.

“Ciieee Dimas sekarang mainnya udah berduaan sama cewek :p “

“Hoi Sya! Eh, apaan nih maksudnya?”

“Hehehe….aku lihat kamu lho tadi siang di kantin fakultas. Sama Rei :p “

“Oalah, itu rame-rame tau Sya sebenernya. Berlima. Cuma yang lain lagi ngantri beli makan.”

“Iya percaya percaya….”

“Lagian kamu juga bukannya negor atau gabung aja.”

“Nggak ah. Takut ganggu. :)

“Apaan sih… Nggak lah. Cuma teman Sya”

Pesan terakhir yang muncul membuat Rasya termangu. Jarinya berhenti di atas tuts keyboard. Kalau kita, apa?

☼ ☼ ☼

Rasya kembali menggeleng. Entah ini sudah yang keberapa kalinya. Di hadapannya, Sita, sahabat baiknya di kantor sudah nyaris putus asa membujuknya. Wajahnya sudah cemberut dan terlihat tidak sabaran.

“Apa salahnya sih dicoba dulu, Sya? Ketemuan dulu gitu. Selanjutnya terserah kamu lah” ujar Sita sambil mendekapkan tangan. Tampangnya masih cemberut. Terlihat sekali lelah upayanya untuk membujuk Rasya.

“Enggak deh, Ta.” Rasya kembali menggeleng. Kali ini sedikit menunduk sambil memilin ujung bajunya.

“Susah amat sih Sya dibilangin. Udah, gini, nanti sore dia mau dateng kesini. Mau nemuin kamu. Aku bilang sama dia ketemuan di kantin bawah aja. So, nanti jam 5 temuin ya! Jangan telat!”

Rasya terbelalak.

“Ta, please Ta, enggak ah Ta, woooiii Ta…!!” 

Sia-sia Rasya berteriak. Sita sudah menyelonong pergi sambil melambaikan tangannya. Rasya panik. Aduh bagaimana ini! Ia sekarang mau tidak mau harus menemui lelaki itu. Haryo. Senior Sita di kampusnya dulu yang ingin dijodohkannya dengan Rasya. Sudah satu bulan ini Haryo gencar mendekati Rasya. Rasya sendiri hanya menanggapinya datar. Kalau ditanya sudah makan atau belum? Rasya jawab pendek, sudah. Makan apa? Nasi. Nasi apa? Lama-lama Rasya senewen, besok-besoknya Rasya jawab saja, puasa.

Dan sore ini Haryo mau datang menemuinya. Memang, selama sebulan kenal mereka belum pernah bertemu langsung. Di dunia maya saja Rasya malas. Apalagi ketemu langsung. Walaupun promosi Sita tentang lelaki yang 5 tahun lebih tua darinya ini sudah gencar, Rasya tetap bergeming.

Pukul 16.50. Duh, 10 menit lagi. Perut Rasya rasanya sakit. Haryo sudah sejak 5 menit yang lalu mengirim pesan padanya, dia sudah di kantin bawah. Rasya serba salah ingin turun. Setelah sedikit merapikan barang dan memasukkan semuanya ke dalam tas, ia pun terpaksa turun dengan wajah kikuk. Di kantin bawah, Haryo sudah menunggu di meja pinggir agak ke tengah kantin. Tak butuh waktu lama bagi Rasya untuk mengenalinya. Jam-jam segini kantin tidak ramai, melihat ada seorang lelaki sendirian sambil serius menatap ponselnya sudah pasti itu Haryo. Sejak tadi dia memang mengirim pesan, yang tidak dibalasnya.

“Halo…” 

Rasya menghampiri dengan kaku. Menarik bangku dan duduk di hadapan Haryo dengan senyum tipis yang agak dipaksakan. Haryo meletakkan ponselnya. Memberi senyuman terbaiknya dan menyapanya hangat,

“Halo Rasya. Sudah makan?”

Pertanyaan yang sama seperti yang biasanya. Rasya mengangguk dengan wajah bingung. Ya iyalah sudah makan, ini kan sudah jam 5. Haryo kemudian memesankan dua gelas jus dan berinisiatif membuka pembicaraan. Sepanjang percakapan, Rasya lebih banyak mendengarkan dan menjawab pendek-pendek, seadanya. Sisanya ia hanya mengangguk, menggeleng, atau ber-ooh panjang. Dua puluh menit berlalu. Gelas Rasya sudah kosong sedari tadi. Rasya sendiri sudah bosan dan ingin pulang. Namun lawan bicaranya nampaknya masih ingin berbincang lebih lama. Berkali-kali Rasya melirik jam tangan di pergelangan kirinya,

“Kenapa Sya? Kamu ada janji lain?”

Haryo bertanya saat melihat Rasya sekali lagi melirik jam tangannya.

“Oh…mmm…nggak. Cuma….takut kemaleman aja pulangnya.”

Haryo berdehem pelan. Merapikan posisi duduknya. Mencondongkan tubuhnya lebih ke depan. Mimiknya menjadi lebih serius.

“Oke Sya. Aku mau terus terang saja sama kamu. Aku mau serius sama kamu Sya. Aku mau mengenal kamu lebih jauh. Aku mau….ya, aku mau serius sama kamu”

Rasya terhenyak. Lelaki ini terlalu berterus terang. Terlalu cepat. Rasya tidak siap. Rasya tidak menyangka hal ini akan diucapkan sekarang. Saat ia bahkan sama sekali belum nyaman dengan keberadaannya.

Melihat Rasya yang diam dan sedikit kaget, Haryo menjadi serba salah. Setelah hening cukup lama, Haryo akhirnya kembali berinisiatif melanjutkan ucapannya,

“Maaf Sya kalau menurut kamu ini terlalu cepat. Hanya saja, aku yakin sekali dengan kamu. Tapi aku janji Sya, aku akan menunggu kamu siap…”

Rasya bergeming.

“….Aku janji akan bahagiain kamu, Sya. Seluruh tabungan aku, hasil kerja kerasku, memang aku persiapkan untuk calon pendampingku kelak. Aku janji kamu gak akan susah hidup sama aku. Aku janji kamu bisa dapatkan yang kamu mau selama aku bisa penuhin….”

Rasya terkesiap. Bukan karena janji-janji manis Haryo, bukan pula karena kagetnya ia melihat Haryo begitu cepat mengungkapkan semuanya. Ia hanya tidak menyangka, lelaki ini menilainya serendah itu.

“Aku janji akan kasih kamu mobil pribadi Sya, sebenarnya aku kasihan mendengar kamu yang setiap hari pulang dengan bis kota, macet-macetan, penuh, sumpek. Kalau perlu, aku janji akan cari rumah yang dekat dengan kantormu supaya….”

“Maaf…..” Rasya menyela omongan Haryo yang sudah berlebihan. “….saya yang tidak bisa berjanji apa-apa.”

Kantin serasa lengang. Terdengar jelas suara langkah Rasya yang berdiri dan meninggalkan tempat itu.

☼ ☼ ☼

Hari ini hari Rabu. Satu hari setelah pertemuannya dengan Haryo yang berakhir menyakitkan. Menyakitkan bagi Haryo, lebih lagi menyakitkan bagi Rasya. Sore ini, Rasya duduk bersama Sita di salah satu kedai kopi yang nyaman di pusat perbelanjaan depan kantor mereka. Rasya sudah menceritakan hasil pertemuan mereka. Semuanya. Sita sedari tadi hanya menghela nafas. Setelah sekian lama mendengarkan sambil menyeruput capuccino nya, Sita akhirnya angkat bicara.

“Sebenarnya aku agak sedih juga sih perjodohan ini gak bisa lanjut….”

“Haryo anggep aku matre, Ta. Dia pikir aku….”

“Bukan…”  Sita mengibaskan tangan. “Bukan masalah kamu harus sama Haryo. Tapi aku sebenarnya berharap kamu bisa jadi dengan seseorang”

Rasya hendak menjawab, namun sebelum ia bersuara, Sita sudah kembali memotong.

“Kenapa? Kamu masih berharap sama temen lama kamu itu? Siapa namanya? Dimas?”

Rasya tertunduk. Mati kutu.

“Dunia luas Sya. Masih ada milyaran orang lainnya. Ayolah…”

Rasya menggeleng. Sita tak akan mengerti.

“Kamu terlalu cinta sama dia, Sya…” Sita menghela nafas. “Sayangnya, dia enggak.

Rasya menarik nafas tertahan.

“Maaf, Sya. Tapi sudah berapa lama kamu kenal dia? Lima? Sepuluh tahun? Umur kamu sekarang dua puluh tujuh. Dia juga. Kalian bukan lagi anak kecil. Sya, dengerin aku. Kalau dia cinta sama kamu, kalau dia cinta sama kamu Sya, dia akan melakukan sesuatu…. he’ll make a move.”

Ada yang rasanya menusuk hati Rasya. Sakit sekali. Bukan karena perkataan Sita yang terlalu ceplas ceplos, tapi justru karena ucapan itu terlampau benar.

“Aku…..aku akan menunggu, Ta.”  Rasya menjawab pelan.

“Gimana kalau dia tidak datang?”  nada suara Sita sedikit menantang.

“Pasti datang, Ta. Dia pasti datang.”

☼ ☼ ☼

Hari ini hari Minggu. Dua hari sebelum datangnya ‘kejutan’ Sita untuk Rasya. Sore ini Rasya kembali ke taman itu. Ia dan Dimas memang terbiasa menghabiskan Minggu sore di taman dengan angin semilir yang sejuk mengalir. Rasya duduk di atas ayunan dengan karet tebal kesukaannya. Berderit setiap kali tubuhnya melaju. Sepuluh tahun yang lalu, deritnya belum sekeras ini. Dimas duduk santai membaca buku di kursi taman yang nyaman. Tepat di samping ayunan berkaret tebal tersebut.

“Dim….kamu percaya cinta itu ada?”

Dimas melepaskan pandangannya dari buku bacaannya. Menolehkan kepalanya ke sumber suara yang bertanya, yang kini sedang asyik mengayunkan dirinya sambil menatap langit biru yang indah tanpa awan.

“Percaya. Kenapa bisa gak percaya?”

“Bukan nggak percaya. Hanya saja….aku seperti hanya mempercayainya, tapi ia mungkin tidak benar-benar ada.”

Dimas tersenyum.

“Bila seperti itu, bukan berarti ia tidak ada. Mungkin ia hanya belum datang.”

Rasya menghentikan ayunannya. Menatap wajah yang sedang menatapnya.

“Lalu apakah ia akan datang?”

“Cinta sejati pasti datang, Sya. Pasti datang.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s