FTV Bikin Senewen

Alkisah, di suatu hari yang cerah dan indah, gue yang lagi kurang kerjaan menyalakan tv dan mencari acara yang menarik. Setelah berganti-ganti channel, apa daya hanya ada FTV diantara acara-acara yang kurang kece. Gue lupa judulnya apa FTV ini. Yang jelas, kisahnya bercerita tentang seorang perempuan namanya Juleha. Juleha ini diceritakan sebagai orang yang miskin, hidup berdua sama ibunya, dan bekerja sebagai cleaning service. Walau miskin, Juleha dan ibunya punya mimpi yang sama, yakni agar Juleha bisa punya suami yang kaya raya. Oh sungguh mulia~

Jadi, dimulailah perjalanan Juleha mencari pasangan yang kaya. Oya, Juleha ini emang chantique banget yah jadi bisalah bikin cowok-cowok klepek2, kalo lagi berada diantara cleaning service, doi keliatan paling kinclong. Juleha sadar, bahwa dengan posisi nya sebagai cleaning service doi gak akan bisa ngegaet cowok kaya, maka kalau doi lagi pengen pdkt dengan seorang cowok tajir, doi berubah. Penampilan di make over layaknya cewek2 kaya sosialita dan nama pun diubah dari Juleha menjadi July. Syalala~

Kebetulan, Juleha alias July punya sahabat yang kerja di tempat londri, alhasil dengan bujuk rayu, Juleha selalu bisa meminjam baju2 mahal dan modis yang sedang dititipkan untuk di londri. Totalitas Juleee!

Pada suatu hari, bertemulah Juleha dengan pria idamannya. Ganteng, bawa mobil, banyak duit, ow owww tentu saja Juleha langsung kesengsem sama cowok yang memenuhi kriteria duniawi doi dan ibunya ini. Kita sebut saja cowok ini namanya Adit. Tak butuh waktu lama, bermodal kedip2 dan kibas rambut, akhirnya Juleha berhasil pacaran dengan lelaki yang mementingkan hal-hal artifisial dari seorang perempuan ini. Tak lama pacaran, Adit sudah langsung mau memperkenalkan Juleha ke orangtuanya. Wooww… Juleha dan ibunya tentu girang bukan kepalang. Suami tajir di depan mata!

Tetapi oh tetapi, ada yang bersedih dibalik kebahagiaan Juleha dan pacar barunya. Orang itu adalah Joko. Joko adalah teman sesama cleaning service yang bekerja di perusahaan yang sama dengan Juleha. Diam-diam, Joko sudah lama memendam rasa pada Juleha yang chantique mempesona ini. Apa daya, Joko yang asli Jawa dan bicaranya super medhok itu hanyalah seorang cleaning service yang tentu tidak akan dilirik oleh Juleha untuk dijadikan pasangan. Namun, Joko yang baik hati ini tetap membantu Juleha dalam banyak hal. Joko yang polos terjerat dalam friendzone, kacungzone, disuruhsuruh-zone, dan zone zone lainnya. Sabar eaa Joko.

Pada saat Juleha menyampaikan ke ibunya bahwa ia akan dilamar oleh Adit dan dibelikan cincin berlian mahal, Joko yang saat itu sedang berkunjung ke rumah Juleha mendadak lemas. Wajahnya sedih dan semangatnya pupus. Ibu Juleha yang melihat hal ini pun langsung mendekati Joko. Kebetulan saat itu Juleha sedang masuk kamar untuk menerima telpon dari Adit. Dengan jiwa keibuannya, sang Ibu bicara penuh kelembutan kepada Joko, “Joko, elu sabar ye, emak tau elu naksir ama Juleha, cuma gimana ya… Elu kan tau emak pengen punya menantu kaya”. Sungguh menginspirasi, saya nyaris menitikkan air mata.

Kita kembali ke Juleha. Walau senang akan dikenalkan dengan orangtua Adit, Juleha resah. Sebab, pada suatu ketika Juleha baru menyadari bahwa ibunya Adit adalah bos di kantor Juleha yang paling galak. What a coincidence yah pemirsah! Akhirnya, saat Juleha dan ibunya diajak makan malam bersama di sebuah resto mahal oleh Adit dan ibunya, Juleha bela-belain memakai masker dengan alasan sedang sakit flu agar ibuk bos tidak menyadari bahwa calon mantunya adalah cleaning service kantornya yang paling sering ia marahi karena tidak becus kerjanya. Kejadian selanjutnya adalah upaya kucing2an Juleha dengan ibuk bos saat ia sedang menjadi July. Termasuk menyembunyikan identitas asli ia dan ibunya di depan Adit. Setiap Adit mengantarnya pulang, Juleha selalu berhenti di sebuah rumah gedong yang ia akui sebagai rumahnya kepada Adit dan dadah dadah cantiq sampai mobil Adit pergi. Ketika situasi sudah aman, Juleha langsung melepas high heelsnya dan jalan kaki masuk kampung di belakang perumahan mewah tersebut.

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Singkat cerita, ibuk bos akhirnya tau bahwa July sang calon menantu adalah cleaning service di kantornya. Merasa dibohongi, ibuk bos ngamuk dan memecat Juleha saat itu juga. Joko si baik hati tentu tergerak jiwanya melihat pujaan hati dipecat begitu saja. Joko pun berusaha membela Juleha dan ibuk bos yang sedang emosi akhirnya memecat Joko juga.

Juleha dan Joko pun akhirnya berjalan lunglai keluar kantor. Juleha gak jadi dilamar, gak jadi dapet cincin berlian, dan kehilangan pekerjaan. Joko juga kehilangan pekerjaan dan memutuskan akan pulang kampung. Juleha pun bertambah sedih. Sudah kehilangan pacar, sekarang kehilangan teman baik yang gampang disuruh-suruh pula. Kan cedih.

Singkat cerita, tiba-tiba setting film berubah menjadi “6 bulan kemudian”. Enam bulan kemudian, datanglah sebuah mobil mewah ke rumah sederhana Juleha. Juleha dan ibunya yang sedang bersantai di halaman rumah tentu terkejut. Aih, mobil mewah. Apakah ini jawaban atas segala doa?? Begitu mungkin mereka membatin.

Belum habis rasa terkejutnya, keluarlah seorang ibu berwajah ningrat berperawakan gemuk, bersanggul dan berkebaya sambil kipas-kipas (i know you guys can imagine!).

“Betul ini rumah Juleha?”. Tanya nya dengan logat jawanya yang anggun berwibawa. Juleha dan ibunya yang masih terkejut hanya bisa mengangguk. Tiba-tiba, keluarlah sesosok pria gagah dan tampan dari dalam mobil. Dengan sedikit mengibaskan rambut klimisnya, dia menyapa, “Hai Juleha” 

Juleha terpana sekaligus kaget. Ia mengucek-ucek matanya memastikan, “Jok…Joko… Ini elu kan Jok??”

Joko dengan senyum tipis ala putra keraton pun menjawab, “Iya Juleha, ini aku Joko. Kamu masa sudah tidak mengenali aku?”. ASLI ILANG MEN MEDHOKNYA. Oke marilah kita berprasangka baik bahwa selama bekerja sebagai cleaning service Joko hanya berpura-pura medhok atau kepergian beberapa bulan membuat logatnya berubah total.

“Saya ingin melamar Juleha sebagai calon istri anak saya”. Tanpa basa basi si ibu ningrat mengutarakan maksud kedatangannya. Mungkin juga karena durasi film yang sudah kelamaan.  Juleha dan ibunya pun saling pandang tak percaya. Mereka tak henti-henti memandangi mobil mewah Joko dan ibunya dan kemudian berkata, “Akhirnya Juleeee…. alhamdulillah doa kita terkabuuuullll”

TAMAT.

Kemudian gue hanya bisa terpana memandangi FTV yang sudah tamat itu. Bener nih udah tamat?? Seriusan?? Begitu akhirnya?? Trus, apa pesan moral dan nasihat kehidupan yang bisa gue petik dari acara yang gue tonton nyaris 2 jam itu?? Apaaaa????

*sabar nis sabar*

Gue rasa hikmah yang bisa gue dapat adalah jangan menghabiskan waktu untuk nonton acara yang sia-sia. Disaat orang-orang sibuk membangun bisnis, memberantas korupsi, memerangi narkoba dan membantu korban perang, gue malah menonton kisah tentang seorang wanita gold digger. Begitulah. Sedih barbie.

_____________

Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.

(HR Muslim)

 

 

Pesantren I’tikaf di Daarut Tauhid Bandung

4 Juli 2016

Assalamu’alaykum akhii ukhtiii~

 

b768211f-ee68-4d17-98a0-27860d4d0c46

Sederhana dan bersahaja

Pagi ini gue baru saja sampe Jakarta lagi setelah sekitar 9 hari mengikuti kegiatan pesantren i’tikaf yang diadakan masjid Daarut Tauhid (DT) di Bandung. Sejak beberapa tahun terakhir gue memang suka ke mesjid ini, termasuk menghabiskan beberapa hari terakhir bulan Ramadhan disana. Rasanya ada magnet aja dari mesjid itu, gak tau kenapa. Kalo suasana hati lagi gak enak, gue suka kesana. Tapi, 2 tahun terakhir gue absen berhubung masih di benua tetangga. Mumpung tahun ini gue berpuasa di Indo, gue pun berniat menghabiskan 10 hari terakhir Ramadhan disana lagi.

Biasanya, gue dan temen2 kantor datang mandiri aja. Gak pake ikut kegiatan apa-apa gitu. Ternyata, temen gue menginfokan bahwa DT punya program pesantren i’tikaf. Ihh… gue jadi pingin ikut, walau agak-agak ragu juga sih. Pesantren? Sanggup apa ya gue?

Continue reading

Cerita Gorengan

Setiap orangtua pasti punya nilai-nilai yang ingin mereka turunkan kepada anak-anaknya ya. Entah kenapa hari ini gue teringat salah satu pengajaran orangtua gue yang membekas sekali sampai sekarang.

Dulu, waktu gue mungkin masih SD, gue inget kita sekeluarga pernah makan di sebuah restoran. Setelah membayar dan keluar resto, saat mobil sudah jalan, mama gue ngecek struk yang diberikan restoran tadi. Fyi mama gue emang selalu ngecek bon atau struk kalo kita abis belanja atau makan. Satu hal yang nyaris gak pernah gue lakukan karena malas.

“Loh, kok empingnya cuma diitung 4? Papa kan tadi ambil 2 ya empingnya? Mestinya jadi 5 dong totalnya.” tanya mama gue sambil ngeliatin struk.

“Gak keitung kali ya tadi bungkus empingnya sama masnya. Yaudah kita balik.” kata papa gue.

Akhirnya papa gue pun muter balik mobil untuk kembali ke restoran. Gue jujur aja heran yah, ngapain kita repot-repot balik ke resto cuma buat bayar emping seribu-dua ribu. Daaaan… itu kan bukan kesalahan kita yah. Salah mas-masnya aja yang lalai, gak ngitung kalo bungkus empingnya 5, bukan 4. Harusnya, itu rejeki anak sholeh dong, dapet gratisan emping sebungkus. Tapi apa kata ortu gue?

“Dek, kita gak boleh memanfaatkan kelengahan orang lain”

This.

Continue reading

Lulus!

Weww! Sudah seabad rasanya gue gak update blog. Kalau diperhatikan, cuma seiprit tulisan gue selama gue merantau di ostrali. Kemana oh kemana saja dirimu, nis. Sampe sekarang udah balik ke indo baru ngeblog lagi. Beginilah nasib orang yang moody-an saat nulis dan somehow lebih sering gak memprioritaskan nulis blog dibanding urusan lain. Lah bahkan tulisan kelulusan aja baru diposting sebulan setelah pulang ke Indo.

Baiklah.

Jadi sekarang gue telah kembali ke tanah air. Alhamdulillah, kuliah gue (akhirnya) selesai dan gue sudah lulus. Iya, lulus. Bukan di-DO. Saking gak adanya berita wisuda ataupun foto-foto dengan atribut toga yang menandakan kelulusan, banyak juga yang mempertanyakan apa gue udah beneran lulus. Jadi sekalian gue ceritakan bahwa wisuda gue baru diadakan bulan November 2015 ini, sedangkan gue sudah lulus tengah Juli 2015. Berhubung sangatlah tidak ekonomis kalau gue bela-belain mendatangi perayaan wisuda, gue memutuskan tidak mengikuti wisuda dan balik ke indonesia akhir Juli 2015.

Sejujurnya, salah satu anugerah yang sangat gue syukuri adalah berhasil lulus dan mendapatkan gelar master dari perkuliahan gue. Jujur aja, gue sungguhlah dihantui perasaan takut luar biasa kalau gue tidak bisa menyelesaikan perkuliahan karena satu dan lain hal. Kuliah s2 gue ternyata sangat berbeda dengan s1. Dan masa-masa kejayaan s1 gue telah menghilang entah kemana. Mungkin juga kapasitas otak gue yang udah menyusut saat gue berkuliah kedua kalinya ini. Entahlah. Yang jelas gue sungguhlah penuh perjuangan menyelesaikan 3 semester perkuliahan ini.

Kenapa gue merasa berat sekali saat s2 ini?

1. Gue sama sekali belum terbiasa dengan sistem perkuliahan yang gue jalani. Sedikit banyak, gaya dan cara belajar gue masih meniru saat gue s1. Dan tentu saja itu salah besar. Seinget gue, gue gak pernah baca buku sebelum masuk perkuliahan dulu. Tapi saat s2 ini, sebelum masuk kelas gue harus selalu rutin membaca bahan yang diberikan dosen, mengerjakan studi kasus, mencoba menjawab contoh soal, dan ngeprint semua bacaan yang dibutuhkan. Still, pas perkuliahan ada aja penjelasan yang gue masih skip. Biasanya, ini karena beberapa dosen mengasumsikan ada “previous knowledge” yang sudah diketahui dan masih diingat mahasiswa karena sudah diajarkan sewaktu s1 atau bahkan waktu SMA. Cmon, i dont even remember what i had for breakfast.

2. Terkadang gue gagal paham dengan standar penilaian dosen. Saat kita udah berusaha kerjakan dengan sebaik-baiknya, eh tetep aja nilainya mungil. Padahal feedbacknya berbunga-bunga dan bertabur pujian. Ini gimana sih? Gue kan udah geer. Untuk yang satu ini caranya mungkin perlu cari tau sebaik mungkin yah ekspektasi sebenarnya dari bapak dan ibu dosen ini bagaimana. Dan usahakanlah memenuhi ekspektasi tersebut.

3. Gue sungguhlah tidak tau belajar finance kok ya sampai nyasar-nyasar ke fisika dan matematika yang njelimet begini. Waktu s1, gue belajar beberapa mata kuliah finance dasar semacam manajemen keuangan atau manajemen investasi. Dan gue bener-bener gak tau bahwa yang gue pelajari dulu ituh betul-betul dasar yang dasaaaarrr banget. Ibaratnya cuma nyolek-nyolek doang. Tertamparlah gue ketika menghadapi ragam jenis investasi ajaib yang memakai teori yang juga dipakai dalam teori fisika. HAH? FISIKA? becanda ngana.

4. Ini yang paling sering gue hadapi sih: apa yang gue pelajari gak keluar di ujian, dan yang keluar di ujian adalah yang gak gue pelajari. Atau paitnya, gue pelajari tapi gue lupa pas ujian! Masalahnya, di jurusan gue, nilai ujian punya bobot yang amatlah besarrrr. Jadi, gagal ujian bisa jadi gagal segalanya. Disini gue paham sekali perasaan dedek2 SMA yang geram dengan UN. Hasil belajar lama cuma ditentukan oleh ujian beberapa hari. Gue dan teman-teman sekelas pernah mendapat ‘zonk’ dalam sebuah mid exam dimana satu pertanyaan dengan bobot sangat besar berisi pertanyaan yang sungguh tidak kita sangka. Alhasil, lembar jawaban hanya terisi untaian puisi atau ucapan maaf kepada sang dosen akan kekhilafan kita. Kapok, akhirnya kami memutuskan membaca semua bahan sampai detail untuk final exam. Sampai ketika ditanya, “so which one do you read for final?” merujuk pada bahan jurnal mana yang kita baca saking banyaknya jurnal yang dibahas saat perkuliahan, dan jawabannya, “i read them all, ask me anything!”.

5. Tugas yang menumpuk dalam satu waktu diiringi deadline yang berderet. Asli, yang ini bikin stres banget. Kadang, gue merasa ini gak adil deh. Kenapa jurusan gue ada tugas pribadi, ada tugas kelompok, ada essay, dan ada ujian juga?? Sedangkan jurusan dan fakultas sebelah biasanya kesibukannya bisa terbagi. Kalau banyak assignment, ya bisa tenang di akhir karena gak ada ujian. Atau kalau ada ujian, gak ada assignment yang perlu dikumpulkan. Hih. Jekpot sekali ini.

Ada sih masa dimana kita cukup berbangga berkuliah di jurusan accounting & finance terbaik di australia dan no.12 di dunia*. Semacam keren gitu ya. Tapi makin lama………makan tuh bangga. Bangganya sebentar, kesiksa nya lama. Tapi yah, segala sesuatu itu, kalau dapetinnya pake perjuangan, rasa syukurnya akan jauh lebih berlipat. Apapun yang didapatkan, semua sudah gue lakukan dengan effort sebaik yang gue bisa. Alhamdulillah semua cuma kekhawatiran gue dan ketika nilai akhir kuliah finally rilis, rasa leganya luarrr biasah sodara-sodara!

Jadi, kisah gue di ostrali memang banyak mengharu biru di soal perkuliahan, dan hepi-hepi di soal yang lainnya. Walaupun hectic, paling hanya di minggu deadline atau masa ujian dimana gue harus stuck setiap harinya dengan buku dan kertas. Di minggu lain, gue selalu menyempatkan diri untuk (at least) take one day off dalam seminggu dari belajar. Dan hari itu biasanya gue isi dengan jalan-jalan, belanja, masak, atau apa aja yang bikin kepala rada ringan. Gue senang sekali karena dengan begitu hidup gue kerasa lebih balance.

Gak dipungkiri, masa-masa dimana gue jenuh, kewalahan, pusing, patah hati semangat, kadang gue mempertanyakan, “ngapain ya gue kesini? nyusah-nyusahin diri aja!”, untungnya sering banget temen-temen gue mengingatkan bahwa kesempatan kuliah di luar negeri itu bukan kesempatan yang bisa didapatkan semua orang. Jangankan kuliah di luar negeri, kuliah itu sendiri aja jadi barang mewah bagi sebagian besar anak muda di negeri kita. Jadi apapun kondisinya, jangan sampai keluhan keluar lebih banyak dari mulut kita dibanding ucapan syukur.

Well, setelah selesai kuliah, as i expected, moving back to indonesia is another hard thing. Even a harder one. People said, it’s easier to adapt when you arrive in sydney than once you have to go back to indo. Gue yakin kehidupan di indo akan lebih sulit dibanding ketika dulu kuliah di sydney. Iya sih. Telan lah semua kemudahan yang gue dapatkan disana. Kini gue harus kembali ke realita, mengasah diri jadi manusia tahan banting dengan kemampuan bertahan hidup lebih besar. KRL, jalanan macet, asep knalpot, penyeberangan dengan resiko diserempet motor, keganasan buibu di gerbong wanita, antrian busway mengular, HERE I COME!

 

*based on QS university ranking by subject 2015

resize

 

 

Satu Tahun

16 Februari 2014

Hujan rintik menyambut saat pertama kali saya keluar bandara Kingsford Smith Airport. Hmm, begini ya Sydney di penghujung musim panas. Dua puluh lima derajat celcius, ditambah gemericik hujan, tidak terlalu panas dibandingkan Jakarta-Depok yang saat itu panasnya bisa mencapai 35 derajat. Saya masuk ke dalam taksi yang akan membawa saya ke tempat tinggal sementara, menatap setiap jengkal jalanan dari pinggir jendela taksi, memperhatikan lalu lalang kendaraan dan gedung-gedung bertingkat di sepanjang jalan. Ah, akhirnya, ternyata disini rejeki saya!

Tepat satu tahun lalu, saya menginjakkan kaki di Sydney. Sebuah kota yang benar-benar baru, dalam negara dan benua yang juga baru. Tahun 2012, saya masih berencana kuliah di Singapur. Dalam bayangan saya, saya akan tinggal dan kuliah di Singapur, sampai-sampai saya lebih dulu traveling ke Singapur di awal 2012 untuk merasakan sendiri suasana kota dan negaranya. Apa daya, setelah serangkaian tes, saya dinyatakan tidak lulus ke kampus yang diinginkan. Sedih sih, tapi bukan rejeki, ya gapapa. Setengah tahun setelah itu saya sempat vakum untuk mencari beasiswa. Bingung. Bingung mau ambil kuliah kemana lagi. Dalam otak saya saat itu emang cuma ada Singapur. Gak kepikiran negara lain.

Begitulah saat kita terlalu berfokus pada satu hal tanpa melihat kesempatan lain yang terbuka luas di sekitar kita. Untungnya, Allah baik dan memberi saya pikiran untuk merambah benua lain melalui obrolan dengan kawan-kawan. Awalnya, saya ingin daftar ke New Zealand, namun dengan beberapa pertimbangan, termasuk karena jurusan yang saya ambil adanya di Australi, akhirnya saya memutuskan memilih Australia. Daftar kampus, daftar beasiswa, urus ini itu, voila! Tiba-tiba saya udah ada di Sydney. Bedaaaa banget prosesnya kayak waktu saya daftar ke Singapur kemarin. Kali ini, saya merasa semua proses lancar tanpa drama-drama yang berarti. Membuat saya makin yakin bahwa kita akan dimudahkan untuk sesuatu yang ditakdirkan untuk kita.

Satu tahun di Sydney, banyak banget pengalaman dan kejadian yang berkesan buat saya. Bagi banyak orang, kuliah di luar negeri itu enak. Memang betul enak. Apalagi kalau dilihatnya dari postingan facebook. Bisa jalan-jalan ke tempat wisata yang keren-keren, bisa nyobain makanan yang enak-enak, bisa ngelakuin kegiatan yang gak ada di indonesia, bisa melatih kemampuan bahasa, bisa menambah kenalan dan koneksi, bisa merasakan sistem pembelajaran yang baru, bisa merasakan kehidupan di negara maju, bisa main salju, bisa ini, bisa itu. Kuliah di luar negeri bikin banyak orang iri. Saya pun bersyukur sekali. Terlalu banyak hal menyenangkan yang terjadi disini.

Tapi tentu kisah-kisah di balik layar nggak bisa kita lupakan begitu saja. Namanya juga hidup. Kalo ada seneng, pasti ada sedihnya. Di balik postingan kebahagiaan selesai ujian, ada malam-malam tanpa tidur di gedung kampus, ada tangisan hasil stress perkuliahan, ada kantung mata yang membesar dan menghitam. Di balik tawa bahagia bersama teman dan kenalan baru, ada air mata yang selalu jatuh tiap rindu dengan keluarga, ada rasa perih saat berhari raya tidak bersama keluarga, ada masa-masa sakit dan sendiri. Di balik foto-foto dengan wajah ceria di landmark setiap kota, ada masa-masa kesulitan memahami bahasa yang diucapkan orang lokal, ada culture shock, ada kejadian-kejadian rasis yang tidak dipungkiri tetap ada dan meninggalkan bekas tersendiri.

Begitulah. Satu tahun memberi saya banyak pelajaran. Akan semua nikmat maupun ujian yang saya rasakan selama di sini, saya hanya bisa mengumpulkannya dalam satu kata: alhamdulillah🙂

Perjuangan belum selesai, masih ada beberapa bulan lagi (Insya Allah). Semoga, semoga selalu dimudahkan😉

Alhamdulillah

Alhamdulillah

 

Saranghaeyo

Saat sedang jalan-jalan di mall waktu boxing day kemarin, pusing liat orang antri belanja akhirnya jajan di counter snack. Saat mbak-mbak pelayannya lagi nyiapin pesanan, ada babang pelayan lain yang tampangnya mirip artis-artis korea tiba-tiba bertanya,

“Why do you wear that?” katanya sambil nunjuk jilbab gue.

“Oh, it’s for religious purpose”

“Where are you from?”

“Indonesia”

Doi kemudian seperti diam sejenak seperti berpikir, mengingat-ngingat, kemudian berucap sambil setengah membungkuk,

“Aku cinta kamu”

Sekali, dua kali, tiga kali, ini yang keberapa kalinya ya orang asing kalo gue bilang gue dari indonesia ngomongnya aku cinta kamu terus? Wahai orang asing, pelajarilah kalimat lain selain aku cinta kamu. Bosan nih bosan.

 

Social Media

I’m right now getting really upset on how social media drive our way of life. Here, we’re living in the world where personal things become public consumption. Don’t get me wrong, don’t ever think for a second that i’m the one avoiding an interaction with socmed. In fact, i can be classified as an addicted one. I had whatever now most famous socmed  installed in my phone. That’s why i’m really annoyed, to my own self probably.

We’re now getting used to share our personal thoughts, stories, or even some kind of feelings or secret. We let anybody knows what’s going on, what we feel, what happen. And worse, most of them seeing are the ones we don’t really know in person. It’s now easy to know some info about our friends or even families, with only some clicks or touch. The wall page or timelines give much more information than what they tell to us. They just don’t want to tell us personally. Instead, they update status.

What is going on here? We give a huge privilege to “friends” by giving less respect to our closest ones.

At this point, we’re not only losing our privacy, but also intimacy. But, who cares? People become more comfortable engaging to this weird relationship. A relationship with hundreds of likes, loves, or retweets. As if they really care. Sadly, most don’t really care, they just curious.

It is started to be admitted that we feel we know someone through their socmed. I can say it might be true. Your thoughts, way of thinking, or passion could be reflected on what you write on those. But sometimes it becomes too naive that we believe (like, seriously believe) those all perfectly reflect one’s personality and life. We give too much weight on what is presented in the screen when judging. And trust it. And feel like it’s no need to be confirmed.

I can’t say i will stop these socmed thingy, no ofcourse not (i even doubt if i can leave them!) :p but sometimes those things are pissed me off. And it’s getting me tired. Like, too much information more than needed. I’m just trying to appreciate more who sit and stand with me. Who can give me a real touch. Or at least a personal talk. Put more effort to meet up and have each other’s laugh. Appreciate those who’s been here with me. Not always physically, but i know their presence is real. I wanna read more book and less timeline.

Maybe that’s all.

(Nb: also, socmed tricks on me. It made me think that i had already write something, just because i typed some passages sometimes, well it’s actually not. I need to write more.)