Masuk Rumah Sakit

Sekitar sebulan lalu, gue sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Awalnya, gue merasa ada nyeri di ulu hati. Tapi, karena gak terlalu mengganggu dan masih bisa beraktivitas, gue gak terlalu menghiraukan. Apalagi, gue orangnya gak suka ke dokter kalo (menurut gue) gak perlu-perlu amat. Namun apa daya, gue pribadi merasa ada yang gak beres di tubuh gue. Singkat cerita, setelah beberapa kali periksa ke dokter, tes urin, dan tes darah, diputuskan lah bahwa gue harus dirawat inap di rumah sakit.

Ini bukan pertama kalinya gue dirawat (walau alhamdulillahnya juga gak sering), tapi gue masih ingat sekali gak enaknya dirawat di rumah sakit dulu. Sebenarnya, yang paling gue gak suka dari dirawat inap adalah karena harus diinfus.

Continue reading

Advertisements

Repost

Mau repost sekaligus dokumentasiin cerpen2 jaman dulu (tahun 2013) gpp ya…. hehe…. Serial Sepi Paling Tepi ini hasil karya kolaborasi sama rekan saya Muhammad Akhyar, berisi beberapa cerpen yang dibuat secara bergantian tanpa diskusi. Alur bisa maju mundur dan penokohan bebas mengikuti jalan cerita yang dibuat penulis sebelumnya. Link disusun sesuai dengan urutan waktu pembuatan cerita. Enjoy 🙂

  1. Pergi ( https://annisariani.wordpress.com/2013/01/02/pergi/ ) by A.R
  2. Serial Sepi Paling Tepi ( https://annisariani.wordpress.com/2013/03/04/serial-sepi-paling-tepi/ ) by M.A
  3. Melesatkan Rindu ( https://annisariani.wordpress.com/2013/03/17/melesatkan-rindu/ ) by A.R
  4. Pasti Datang ( https://annisariani.wordpress.com/2013/04/24/pasti-datang/ ) by A.R
  5. Pengakuan ( https://annisariani.wordpress.com/2014/04/23/pengakuan/ ) by M.A

Anyway, kapan nulis cerpen lagi ya? hmm….

This Too Shall Pass

this.jpg

Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji?

Qur’an Menjawab : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Lihat QS.Al-Ankabuut : 2).

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Lihat juga QS.Al-Ankabuut : 3)

Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik?

Qur’an Menjawab : “…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Lihat QS.Al-Baqarah : 216)

Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?

Qur’an Menjawab : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya……….” (Lihat QS.Al-Baqarah : 286)

Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?

Qur’an Menjawab : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Lihat QS.Ali Imraan : 139)

Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?

Qur’an Menjawab : “…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Lihat QS.Yusuf : 87)

Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?

Qur’an Menjawab : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (Lihat QS.Ali Imraan : 200)

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. (Lihat QS.Al-Baqarah : 45)

Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?

Qur’an Menjawab : “….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal…….” (Lihat QS.At-Taubah : 129)

Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?

Qur’an Menjawab : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan surga – Nya……….” (Lihat QS.At-Taubah : 111)

 

*copas dari website apa lupa

SABAR

Dulu, kepada seseorang, kalau gue sedang berkeluh kesah, selalu dijawab dengan, “sabar….”. Gue kesal banget deh. Apaan sih apa-apa masa disuruh sabar. Bilang aja males dengerin curhatan gue. Huh.

Tapi, akhir-akhir ini, justru gue yang gantian sering memberi kata “sabar” tersebut ke kawan-kawan yang curhat sama gue. Bukan, bukan karena gue malas dengerin curhatan mereka. Tapi karena setelah gue pikir-pikir memang gak ada jalan keluar lain dari masalah yang mereka curhatin ke gue itu selain mesti SABAR.

Sabar itu… gimana ya ngartiinnya. Gue memaknai sabar adalah suatu kondisi dimana saat itu gak ada yang bisa disalahkan, gak ada pihak yang salah (not even your self), dan ada hal-hal yang di luar kendali kita. Sabar itu menahan.

Kadang, kita ngerasa udah ngelakuin hal-hal dengan benar dan sesuai dengan yang diperintahkan atau disyariatkan, tapiii kok belum keliatan hasilnya yaa? katanya man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil, tapi kok sering udah usaha keras dan berdoa, tapi blum dapet hasilnya juga? nah bisa jadi, menurut gue, gak ada yang perlu disalahkan dan emang ga ada yang salah, tapi memang ada episode SABAR yang mesti dilewatin dulu.

Sebab gue percaya prinsip hidup itu:

  1. Gak semua yang lo pingin bisa lo dapetin
  2. Even lo bisa dapetin, belom tentu sekarang/saat ini juga

Itu sebabnya kita butuh SABAR.

Yha, kok gue baru sadar ya sekarang. Wkwk. Eh lagipula, SABAR itu besar pahalanya loh. Makanya berat dijalaninnya, karena ganjarannya surga. Kalo gampang, paling dapetnya kipas angin *krik*. Dah gitu aja. Jangan marah kalo curhat jawabannya itu2 aja ya. Sabar….

 

FTV Bikin Senewen

Alkisah, di suatu hari yang cerah dan indah, gue yang lagi kurang kerjaan menyalakan tv dan mencari acara yang menarik. Setelah berganti-ganti channel, apa daya hanya ada FTV diantara acara-acara yang kurang kece. Gue lupa judulnya apa FTV ini. Yang jelas, kisahnya bercerita tentang seorang perempuan namanya Juleha. Juleha ini diceritakan sebagai orang yang miskin, hidup berdua sama ibunya, dan bekerja sebagai cleaning service. Walau miskin, Juleha dan ibunya punya mimpi yang sama, yakni agar Juleha bisa punya suami yang kaya raya. Oh sungguh mulia~

Jadi, dimulailah perjalanan Juleha mencari pasangan yang kaya. Oya, Juleha ini emang chantique banget yah jadi bisalah bikin cowok-cowok klepek2, kalo lagi berada diantara cleaning service, doi keliatan paling kinclong. Juleha sadar, bahwa dengan posisi nya sebagai cleaning service doi gak akan bisa ngegaet cowok kaya, maka kalau doi lagi pengen pdkt dengan seorang cowok tajir, doi berubah. Penampilan di make over layaknya cewek2 kaya sosialita dan nama pun diubah dari Juleha menjadi July. Syalala~

Kebetulan, Juleha alias July punya sahabat yang kerja di tempat londri, alhasil dengan bujuk rayu, Juleha selalu bisa meminjam baju2 mahal dan modis yang sedang dititipkan untuk di londri. Totalitas Juleee!

Pada suatu hari, bertemulah Juleha dengan pria idamannya. Ganteng, bawa mobil, banyak duit, ow owww tentu saja Juleha langsung kesengsem sama cowok yang memenuhi kriteria duniawi doi dan ibunya ini. Kita sebut saja cowok ini namanya Adit. Tak butuh waktu lama, bermodal kedip2 dan kibas rambut, akhirnya Juleha berhasil pacaran dengan lelaki yang mementingkan hal-hal artifisial dari seorang perempuan ini. Tak lama pacaran, Adit sudah langsung mau memperkenalkan Juleha ke orangtuanya. Wooww… Juleha dan ibunya tentu girang bukan kepalang. Suami tajir di depan mata!

Tetapi oh tetapi, ada yang bersedih dibalik kebahagiaan Juleha dan pacar barunya. Orang itu adalah Joko. Joko adalah teman sesama cleaning service yang bekerja di perusahaan yang sama dengan Juleha. Diam-diam, Joko sudah lama memendam rasa pada Juleha yang chantique mempesona ini. Apa daya, Joko yang asli Jawa dan bicaranya super medhok itu hanyalah seorang cleaning service yang tentu tidak akan dilirik oleh Juleha untuk dijadikan pasangan. Namun, Joko yang baik hati ini tetap membantu Juleha dalam banyak hal. Joko yang polos terjerat dalam friendzone, kacungzone, disuruhsuruh-zone, dan zone zone lainnya. Sabar eaa Joko.

Pada saat Juleha menyampaikan ke ibunya bahwa ia akan dilamar oleh Adit dan dibelikan cincin berlian mahal, Joko yang saat itu sedang berkunjung ke rumah Juleha mendadak lemas. Wajahnya sedih dan semangatnya pupus. Ibu Juleha yang melihat hal ini pun langsung mendekati Joko. Kebetulan saat itu Juleha sedang masuk kamar untuk menerima telpon dari Adit. Dengan jiwa keibuannya, sang Ibu bicara penuh kelembutan kepada Joko, “Joko, elu sabar ye, emak tau elu naksir ama Juleha, cuma gimana ya… Elu kan tau emak pengen punya menantu kaya”. Sungguh menginspirasi, saya nyaris menitikkan air mata.

Kita kembali ke Juleha. Walau senang akan dikenalkan dengan orangtua Adit, Juleha resah. Sebab, pada suatu ketika Juleha baru menyadari bahwa ibunya Adit adalah bos di kantor Juleha yang paling galak. What a coincidence yah pemirsah! Akhirnya, saat Juleha dan ibunya diajak makan malam bersama di sebuah resto mahal oleh Adit dan ibunya, Juleha bela-belain memakai masker dengan alasan sedang sakit flu agar ibuk bos tidak menyadari bahwa calon mantunya adalah cleaning service kantornya yang paling sering ia marahi karena tidak becus kerjanya. Kejadian selanjutnya adalah upaya kucing2an Juleha dengan ibuk bos saat ia sedang menjadi July. Termasuk menyembunyikan identitas asli ia dan ibunya di depan Adit. Setiap Adit mengantarnya pulang, Juleha selalu berhenti di sebuah rumah gedong yang ia akui sebagai rumahnya kepada Adit dan dadah dadah cantiq sampai mobil Adit pergi. Ketika situasi sudah aman, Juleha langsung melepas high heelsnya dan jalan kaki masuk kampung di belakang perumahan mewah tersebut.

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Singkat cerita, ibuk bos akhirnya tau bahwa July sang calon menantu adalah cleaning service di kantornya. Merasa dibohongi, ibuk bos ngamuk dan memecat Juleha saat itu juga. Joko si baik hati tentu tergerak jiwanya melihat pujaan hati dipecat begitu saja. Joko pun berusaha membela Juleha dan ibuk bos yang sedang emosi akhirnya memecat Joko juga.

Juleha dan Joko pun akhirnya berjalan lunglai keluar kantor. Juleha gak jadi dilamar, gak jadi dapet cincin berlian, dan kehilangan pekerjaan. Joko juga kehilangan pekerjaan dan memutuskan akan pulang kampung. Juleha pun bertambah sedih. Sudah kehilangan pacar, sekarang kehilangan teman baik yang gampang disuruh-suruh pula. Kan cedih.

Singkat cerita, tiba-tiba setting film berubah menjadi “6 bulan kemudian”. Enam bulan kemudian, datanglah sebuah mobil mewah ke rumah sederhana Juleha. Juleha dan ibunya yang sedang bersantai di halaman rumah tentu terkejut. Aih, mobil mewah. Apakah ini jawaban atas segala doa?? Begitu mungkin mereka membatin.

Belum habis rasa terkejutnya, keluarlah seorang ibu berwajah ningrat berperawakan gemuk, bersanggul dan berkebaya sambil kipas-kipas (i know you guys can imagine!).

“Betul ini rumah Juleha?”. Tanya nya dengan logat jawanya yang anggun berwibawa. Juleha dan ibunya yang masih terkejut hanya bisa mengangguk. Tiba-tiba, keluarlah sesosok pria gagah dan tampan dari dalam mobil. Dengan sedikit mengibaskan rambut klimisnya, dia menyapa, “Hai Juleha” 

Juleha terpana sekaligus kaget. Ia mengucek-ucek matanya memastikan, “Jok…Joko… Ini elu kan Jok??”

Joko dengan senyum tipis ala putra keraton pun menjawab, “Iya Juleha, ini aku Joko. Kamu masa sudah tidak mengenali aku?”. ASLI ILANG MEN MEDHOKNYA. Oke marilah kita berprasangka baik bahwa selama bekerja sebagai cleaning service Joko hanya berpura-pura medhok atau kepergian beberapa bulan membuat logatnya berubah total.

“Saya ingin melamar Juleha sebagai calon istri anak saya”. Tanpa basa basi si ibu ningrat mengutarakan maksud kedatangannya. Mungkin juga karena durasi film yang sudah kelamaan.  Juleha dan ibunya pun saling pandang tak percaya. Mereka tak henti-henti memandangi mobil mewah Joko dan ibunya dan kemudian berkata, “Akhirnya Juleeee…. alhamdulillah doa kita terkabuuuullll”

TAMAT.

Kemudian gue hanya bisa terpana memandangi FTV yang sudah tamat itu. Bener nih udah tamat?? Seriusan?? Begitu akhirnya?? Trus, apa pesan moral dan nasihat kehidupan yang bisa gue petik dari acara yang gue tonton nyaris 2 jam itu?? Apaaaa????

*sabar nis sabar*

Gue rasa hikmah yang bisa gue dapat adalah jangan menghabiskan waktu untuk nonton acara yang sia-sia. Disaat orang-orang sibuk membangun bisnis, memberantas korupsi, memerangi narkoba dan membantu korban perang, gue malah menonton kisah tentang seorang wanita gold digger. Begitulah. Sedih barbie.

_____________

Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.

(HR Muslim)

 

 

Pesantren I’tikaf di Daarut Tauhid Bandung

4 Juli 2016

Assalamu’alaykum akhii ukhtiii~

 

b768211f-ee68-4d17-98a0-27860d4d0c46

Sederhana dan bersahaja

Pagi ini gue baru saja sampe Jakarta lagi setelah sekitar 9 hari mengikuti kegiatan pesantren i’tikaf yang diadakan masjid Daarut Tauhid (DT) di Bandung. Sejak beberapa tahun terakhir gue memang suka ke mesjid ini, termasuk menghabiskan beberapa hari terakhir bulan Ramadhan disana. Rasanya ada magnet aja dari mesjid itu, gak tau kenapa. Kalo suasana hati lagi gak enak, gue suka kesana. Tapi, 2 tahun terakhir gue absen berhubung masih di benua tetangga. Mumpung tahun ini gue berpuasa di Indo, gue pun berniat menghabiskan 10 hari terakhir Ramadhan disana lagi.

Biasanya, gue dan temen2 kantor datang mandiri aja. Gak pake ikut kegiatan apa-apa gitu. Ternyata, temen gue menginfokan bahwa DT punya program pesantren i’tikaf. Ihh… gue jadi pingin ikut, walau agak-agak ragu juga sih. Pesantren? Sanggup apa ya gue?

Continue reading

Cerita Gorengan

Setiap orangtua pasti punya nilai-nilai yang ingin mereka turunkan kepada anak-anaknya ya. Entah kenapa hari ini gue teringat salah satu pengajaran orangtua gue yang membekas sekali sampai sekarang.

Dulu, waktu gue mungkin masih SD, gue inget kita sekeluarga pernah makan di sebuah restoran. Setelah membayar dan keluar resto, saat mobil sudah jalan, mama gue ngecek struk yang diberikan restoran tadi. Fyi mama gue emang selalu ngecek bon atau struk kalo kita abis belanja atau makan. Satu hal yang nyaris gak pernah gue lakukan karena malas.

“Loh, kok empingnya cuma diitung 4? Papa kan tadi ambil 2 ya empingnya? Mestinya jadi 5 dong totalnya.” tanya mama gue sambil ngeliatin struk.

“Gak keitung kali ya tadi bungkus empingnya sama masnya. Yaudah kita balik.” kata papa gue.

Akhirnya papa gue pun muter balik mobil untuk kembali ke restoran. Gue jujur aja heran yah, ngapain kita repot-repot balik ke resto cuma buat bayar emping seribu-dua ribu. Daaaan… itu kan bukan kesalahan kita yah. Salah mas-masnya aja yang lalai, gak ngitung kalo bungkus empingnya 5, bukan 4. Harusnya, itu rejeki anak sholeh dong, dapet gratisan emping sebungkus. Tapi apa kata ortu gue?

“Dek, kita gak boleh memanfaatkan kelengahan orang lain”

This.

Continue reading