Masihkah Kau Mencintaiku?

Rabu, 13 April 2009


Malam itu, sekitar pukul 22.15 gw sedang asyik mengerjakan tugas satu matakuliah yang paling gw sukai, merasa bosan dengan acara-acara politik di TV One yang masih membahas koalisi JK-Win serta SBY-budiono atau Bukan Empat Mata yang sudah tidak ampuh lagi menghilangkan rasa kantuk, gw mulai mengganti-ganti channel demi mengharapkan acara lain yang lebih menarik untuk menemani gw mengerjakan tugas sampai tengah malam nanti. Ketika tombol remote sampai pada channel RCTI, gw sedikit tertegun dengan acara yang sedang ditayangkan: Masihkah Kau Mencintaiku???

Gw penasaran. Gw inget reality show ini pernah gw omongin dengan teman-teman di PI BEM dan sampai saat ini gw sendiri belum pernah menonton acara tersebut. So, pada akhirnya gw menonton acara tersebut demi memuaskan rasa ingin tahu. Reality show ini mungkin tergolong agak “unik” karena menampilkan perselisihan rumah tangga. Yang dihadirkan ternyata bukan hanya pasangan yang berselisih, namun juga orangtua dari masing-masing pihak, bahkan di edisi sebelumnya gw diceritakan bahwa ada pasangan yang juga membawa anaknya. Entah, apakah masalah rumah tangga kini sudah bukan merupakan hal yang tabu untuk menjadi konsumsi publik atau memang rasa malu kini sudah makin terkikis sehingga masalah rumah tangga pun harus dibeberkan di depan layar kaca.

Terlepas dari dugaan bahwa ada rekayasa dalam pembuatan acara tersebut. Gw cukup banyak mendapatkan hikmah. Memang, perlu banyak beristighfar selama acara itu. Ternyata, permasalahan rumah tangga memang gak ada habisnya. Sumpah serapah, cacian, makian, dengan mudahnya terlontar antar mereka yang sudah pernah berjanji, berikrar, bersumpah setia dan selalu bersama suka dan duka. Kebersamaan bertahun-tahun yang jatuh bangun dijalin serasa begitu mudah untuk dirobohkan bahkan di depan ratusan ribu penonton. Ironis.

Mungkin kita bisa mengambil hikmah, bahwa dalam suatu pernikahan janganlah mengharapkan jalan itu selalu lurus dan mulus. Janganlah pernah berharap perbedaan itu akan semakin berkurang. Sejatinya perbedaan kadang menjadi semakin menajam. Perbedaan sudut pandang, pemikiran, pola komunikasi, bahkan keinginan senantiasa menghantui setiap rumah tangga. Disitulah gw bisa melihat bagaimana kedewasaan seseorang dalam menghadapi perbedaan tersebut. Kedewasaan saat itu berarti mau dan mampu memahami jalan pikiran orang lain dan bersedia bersama-sama menekan ego masing-masing disertai tindakan koreksi atau introspeksi terhadap diri sendiri. Sayangnya, biasanya ketika perbedaan itu mulai muncul, yang mulai mendominasi ialah emosi. Dan mungkin hanya sedikit dari makhluk Tuhan yang mampu mengatur nafsu nya saat itu terjadi. Sisanya, ya itu tadi, secara membabi buta menumpahkan segala amarah . Satu hal, kita bisa meminta maaf akan semua perkataan salah yang kita perbuat, tapi jangan harap orang lain akan mudah melupakan perkataan kasar dan menyakitkan yang pernah terlontar dari mulut kita.

Lagi, akhirnya gw harus kembali mengingat nasihat orang-orang tua, bahwa pernikahan sejatinya menggabungkan 2 keluarga besar, yang berarti bukan hanya menggabungkan kelebihan akan 2 keluarga tersebut namun juga bersedia menerima kekurangan dari masing-masing keluarga. Agak geli melihat acara kemarin, dimana pada akhirnya sesama besan harus saling adu mulut dan berkonflik. Masing-masing merasa anaknya lah yang paling benar, masing-masing merasa dirinyalah yang telah menjadi orangtua yang baik bagi anaknya dan menyesal karena anaknya harus menikah dengan seseorang yang mungkin tak terlihat sempurna di matanya. Tak pernahkah terpikir bahwa, anaknya juga manusia yang besar kemungkinan berbuat salah, bahwa anaknya bukan dewi dan menantunya pun bukan dewa, jadi sesungguhnya bukan saling menyalahkan atau membenarkan yang menjadi solusi. Be fair, kadang anak pun perlu “disentil” bila berbuat salah, bukankah itu inti dari keluarga? Dimana ada peneguran, bukan pembelaan, saat kita berbuat salah.

Terakhir, gw benar-benar mendapatkan input yang berharga. Terutama untuk orang-orang seperti gw yang belum menikah, bahwa pernikahan bukan hanya sekedar cinta atau tidak cinta. Namun bagaimana bisa mempertahankan cinta itu disaat-saat sulit. Pernikahan bukanlah suatu trend yang patut diikuti karena sudah banyak yang melaksanakannya, bukan wacana yang biasanya terlalu dini dibuat di kalangan aktivis mahasiswa, bukan sekedar gerbang untuk menghilangkan batas muhrim non-muhrim, pernikahan adalah sesuatu yang lebih sakral daripada itu. Sehingga, sesuatu yang sakral itu, tidak akan ternoda oleh hal-hal yang nonsubstansial.

Hmm…terlepas dari kontroversi acara tersebut, yang penting gw bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah itu semua. Udah gak jaman kan “belajar dari pengalaman”?
“Belajarlah dari pengalaman orang lain..”

B114
14 Mei 2009
10:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s