Cerita Lebaran

Idul Fitri kali ini tidak banyak berbeda dengan Idul Fitri saya di tahun sebelumnya. Maklum, karena saya tidak punya kampung, maka kegiatan utama di hari Lebaran adalah mengunjungi rumah kakek-nenek yang letaknya juga masih di Jakarta. Hehehe. Dan setelah itu, lebaran hari kedua, ketiga, dan seterusnya, matgay deh alias mati gaya. Paling biasanya kita sekeluarga pergi ke tempat-tempat rekreasi baru atau ke Bandung. Nah, tapi kali ini arah jalan-jalan agak dibelokkan sedikit ke arah Kuningan. Mau apa ke Kuningan? Hmmm….

Tujuan utama ke Kuningan sebenarnya adalah mengunjungi rumah iparnya mama saya. Jadi, adik laki-laki mama dapet istri orang Kuningan. Nah kebetulan, karena gak punya kampung, kita datengin aja kampung orang! Hehehe…. Ditambah rencana kunjungan ke kampung anak buah papa saya, tukang ayam krispy di deket rumah, dan mantan PRT saya yang sama-sama di Kuningan.

Cerita ini akan berfokus pada kunjungan untuk mencari mantan PRT saya. Jadi begini ceritanya saudara-saudara. Dulu, sejak kakak saya dan saya masih secumil-cumil, kami punya PRT yang baiiiik bangeeet….namanya Mbak Mimi. Mbak Mimi ini kerja di keluarga kami selama 6 tahun. Dan setelah keluar, belum pernah kami bertemu lagi dengan beliau. Sekitar 15 tahun berarti kami tidak bertemu dengan beliau. Nah, di lebaran kali ini kami sekeluarga bertekad akan mencari Mbak Mimi. Berbekal alamat yang diberikan teman lama papa-mama saya yang awalnya membawa Mbak Mimi ke kami, berangkatlah kami ke Kuningan…

Akhirnya kami berangkat. Ya Allah….ternyata tempatnya jauuuuuhhhh banget!!! Dari Bandung ke Kuningan memakan waktu sampai sekitar 7 jam karena macet yang luar biasa. Dan ternyata, Mbak Mimi itu bukan di Kota Kuningannya, melainkan di sebuah desa antah berantah di dalam hutan2 Kuningan. Saya melewati 3 kecamatan dimana ketika saya googling dinyatakan 3 kecamatan tersebut merupakan kawasan yang terisolasi ketika ada tanah longsor (-__-“)

Setelah melewati 3 kecamatan dan beberapa desa serta jalanan yang menguji nyali dan ketahanan fisik serta mental, sampailah kami pada sebuah desa bernama (eh,apa ya namanya saya lupa, hehe). Alhamdulillah kami cukup mudah menemukan rumah teman lama papa saya tersebut (dia dan Mbak Mimi satu kampung). Kami disambut oleh Bude nya.Setelah mengatakan maksud kami, si Bude langsung menyuruh cucu nya untuk memanggil seseorang bernama Mintarsih. Menurutnya, Mimi itu adalah panggilan di Jakarta, sedangkan di kampung ia dipanggil Tarsih. Kami manggut2 aja.

Tak lama, datanglah sosok Mintarsih yang dimaksud. Jreng…jreng….itu bukan Mbak Mimi yang kami kenal! Walau sudah 15 tahun tak ketemu, tapi kami ingat lah raut2 muka dan perawakannya. Dan Mintarsih itu jelas2 bukan Mbak Mimi kami. Wahduh, si Bude jadi kebingungan, kami apalagi. Akhirnya, kami sibuk menelepon teman lama papa saya untuk minta kejelasan, sedangkan Mbak Mimi palsu alias Mintarsih perlahan namun pasti beringsut meninggalkan rumah Bude.

Ternyata, ada kemungkinan kedua bahwa Mbak Mimi yang kami maksud bukanlah Mintarsih melainkan Suhemi. Ya, udah jauh-jauh kesana ya udah lah ya dicoba aja. Pergilah kami ke rumah seseorang bernama Suhemi itu. Untungnya, rumahnya tidak jauh dari rumah si Bude. Setelah sampai di sana, kami mulai tanya2 pada orang disana yang ternyata adalah ibu dari Suhemi. Ibu Suhemi mengakui punya anak yang pernah tinggal lama di Jakarta. Kami mulai mendapatkan angin segar. Namun, ketika kami tanya dimana Suhemi, ibunya bilang Suhemi tidak tinggal disini, tapi di desa sebelah (hadeeeuuuhhh….).

Fortunately, 2 orang anaknya Mbak Mimi ada di rumah tersebut dan mereka bersedia mengantarkan kami ke rumahnya. Alhamdulillah! Awalnya, mereka bilang rumahnya deket dari situ, tapi papa tetep mau kesana naik mobil. Dan Ya Allah bener aja booo deketnya mereka tuuuuhhh Masya Allah….. Untung aja kita kesana naek mobil! Ga kebayang kalo eke harus jalan jauh siang-siang panas begitu. Hahahaha…. *manja.com*

Akhirnya, sampai juga kita di rumah Mbak Mimi. Alhamdulillah! Ternyata Suhemi ini bener Mbak Mimi yang kita cari! Saya sih ga begitu tau, secara saya masih kecil banget waktu diasuh sama dia. Hadeuuh….melihat kondisi keluarga Mbak Mimi, saya sediiiih banget… Mbak Mimi dan keluarganya (suami serta 3 orang anak) tinggal di rumah gubuk yang sempit dan di deket2 hutan (eh, gatau deng, abisan banyak pohon2 gitu dan jalan masuknya setapak2). Huhuhu sedih deh. Terus anaknya yang paling besar (kelas 1 SMA) cerita kalo dia sekolahnya di kecamatan sebelah. Berangkatnya jalan kaki. Berangkat jam setengah 6 nyampe sekolah jam 7.

Ya Allah saya bersyukur gak harus mengalami apa yang seperti orang-orang disana rasakan. Jalanan rusak, jauh kemana-mana, kadang terisolasi, kiri-kanan hutan, haduh sedihnyoo. Terpikir juga sih, nanti kalo udah lulus sekolah, anaknya mau kemana? Ugh….sedih deh ngebayanginnya, lebih sedih lagi karena ga punya solusi. Akhirnya tak lama kami pulang, dibawain kripik pisang plus toples2nya. Huhu, Mbak Mimi, semoga kau bahagia disana…

 

mbak mimi dan keluarganya

mbak mimi dan keluarganya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s