Hikmah

Siang ini, sekolah swasta tersebut nampaknya lebih sejuk dari biasanya. Matahari tak tampak, berganti dengan awan-awan gemuk berwarna sedikit kehitaman yang membuat langit agak temaram namun sejuk. Pukul 14.00, bel pulang sudah berbunyi, dan siswa-siswi nya pun sedikit demi sedikit telah meninggalkan gedung sekolah. Adalah seorang gadis, yang bersama keenam sahabatnya masih bertahan di gedung sekolah. Mereka, bertujuh, merupakan kawan akrab, teman sekelas, atau dalam bahasa mereka disebut teman satu geng. Empat perempuan dan tiga laki-laki.

Siang itu, tak seperti yang lainnya, mereka masih tinggal dalam kelas. Canda-canda, obrolan ngalor ngidul, tertawa bersama. Sebenarnya, ada misi  diantara mereka. Hal ini terkait status “masih sendiri” nya salah seorang kawan mereka. Tiga laki-laki dalam geng mereka, dua diantaranya sudah punya pacar. Sedangkan satu lagi sisa laki-laki yang ada, jangankan pacar, tak pernah bahkan terdengar hembusan kepada siapa sebenarnya ia menaruh hati. Punya pacar, adalah trend prestisius diantara mereka. Maklum, mereka merasa sudah “besar”, sudah kelas dua SMP, masa sekedar pacar saja tak punya.

Maka jadilah keenam kawannya yang lain “menahan” anak lelaki tersebut tinggal dalam kelas. Misinya satu: Mencari tahu siapa sebenarnya pujaan hatinya, dan kemudian membantunya untuk mengutarakan perasaannya, Untuk apa? Tentu saja, agar ia punya pacar! Sang gadis sebenarnya tak terlalu tahu maksud kelima kawannya yang lain, namun ia ikut saja, toh ia juga senang kalau kawan lelakinya itu bisa punya pacar.

Maka kemudian obrolan ngalor ngidul mulai diarahkan. Keenam kawan sang lelaki kini duduk melingkar, memberikan tempat hanya di tengah kepada sang lelaki. Dan kemudian satu per satu mereka mulai mencecar,

“Jadi, sebenernya lo naksir sama siapa sih?”

“Aduh, masa sama kita aja lo gak mau terbuka?”

“Sini, gue bantuin comblangin lo nanti”

Dan perkataan-perkataan lain bernada sama, menyudutkan anak lelaki itu. Anak lelaki itu hanya tersenyum-senyum, Sesekali menampik perkataan kawan-kawannya. Ia tutup mulut. Bungkam. Tak kehabisan cara, kawan-kawannya yang lain menggunakan berbagai metode untuk membuat sang anak lelaki buka mulut. Mulai dari cara memaksa, mengancam, sampai kemudian mereka membacakan surat Al-Fatihah dan akhir dari Surat Al-Baqarah, dengan alasan “menentramkan” hati anak lelaki tersebut. Namun ia tetap diam, bungkam.

Sang gadis merasa bosan. Ia merasa usaha kawan-kawannya takkan mempan, dan ia mulai tak peduli akan apa yang sebenarnya disimpan kawan lelakinya tersebut, yang masih bungkam dan tak mau terbuka. Ia keluar kelas, dan melihat langit makin gelap, dan sekejap hujan pun mulai turun, rintik-rintik. Kawan-kawannya masih memaksa di dalam kelas. Ia pergi keluar, tujuannya adalah balkon sekolah tersebut. Hujan semakin deras. Dan sayup-sayup ia masih mendengar kawan-kawannya membacakan Al-Fatihah.

Sang gadis sampai di balkon sekolah, lantai 2. Menatap jalan raya dari pinggir besi balkon tersebut. Hujan masih mengguyur, dan ia tak lagi mendengar suara kawan-kawannya membacakan bagian surat apapun dari Al-Qur’an. Sendiri di balkon sekolah, sang gadis menikmati hujan dan pemandangan jalan raya, dan tak menyadari kedatangan seorang lain.

Sang anak lelaki, kawannya yang sedang dicecar oleh teman-temannya itu, ternyata sudah ada di balkon tersebut. Agak sedikit kaget, sang gadis menyapa kawan baiknya itu,

“Hei, gimana?” riang, sang gadis menyapanya dengan senyum.

“Gue…. Mau ngomong…” sang anak lelaki berkata. Entah. Terlihat berbeda dari biasanya.

“Ya? Gimana sudah mau terbuka sama anak-anak?” sang gadis melanjutkan dengan hati-hati.

“Gue suka sama lo.”

Singkat.

Namun hantaman keras bagi sang gadis. Sepersekian detik mereka terdiam. Setelah berusaha menguasai diri, sang gadis pergi. Meninggalkan balkon, meninggalkan gedung sekolah, meninggalkan kawan-kawannya yang ternyata hanya merencanakan ini untuknya. Sang gadis pergi. Tak peduli hujan makin deras. Karena hatinya menangis lebih kencang.

* * *

Kecewa. Itu yang dirasakan sang gadis di dalam hatinya. Anak lelaki itu, sama seperti dua lelaki yang lainnya, adalah kawan baiknya, teman satu geng nya. Dan ia bangga serta bahagia dengan persahabatan itu. Ia memuja, dan ingin memperlihatkan kepada seisi dunia bahwa ia mempunyai enam orang sahabat sejati. Sahabat. Sahabat. Sahabat. Dan sahabat selamanya sahabat, tak bisa lebih, itu menurutnya. Namun apa yang terjadi beberapa jam lalu menghancurkan rasa yang ditanamnya itu. Ah, sang gadis berdesah kesal di dalam kamarnya, ia benar-benar merasa dikhianati. Ia benci setengah mati.

Sebuah sms masuk. Di tengah kekecewaannya yang mendalam.

“Gimana?” sang anak lelaki tadi yang mengirim.

Sang gadis merutuk dalam hati, dan membalasnya dengan singkat, “Gimana apanya?”

“Jawaban yang tadi” balas sang anak lelaki.

Sang gadis makin kesal. Seingatnya, kawannya tersebut tidak bertanya apapun, lalu mengapa pula ia meminta jawaban?? Namun ia paham, dan tak ingin memperpanjang urusan. Maka sang gadis menghela nafas, hatinya masih hancur, lalu ia mengetik sebuah jawaban pasti,

“Maaf,gue gak bisa.”

Sms terkirim. Dan di ujung sana satu hati lagi yang hancur.

* * *

Tak lama berselang, sang gadis meraih kembali handphone nya. Mengetikkan sms lagi. Kali ini ia tujukan kepada sahabat wanitanya. Sahabatnya yang ia rasa mampu ia percaya untuk memndengarkan isi hatinya. Maka ia mulai bercerita, tentang perasaan yang ia rasakan. Tentang kecewanya, tentang rasa dikhianatinya, tentang bencinya, dan segalanya. Empat lembar sms tersebut. Penuh ungkapan jujur dari dirinya. Bahkan ada tambahan makian dari hatinya yang kesal.

Mungkin inilah jalannya. Allah SWT, sang penggenggam kehidupan, ternyata memerintahkan otak bawah sadar sang gadis untuk mengirimkan pesan tersebut tidak ke sahabat wanitanya, namun ke anak lelaki tersebut. Maka merah padamlah wajahnya, ketika sang gadis menyadari dirinya salah memilih nama dan malah mengirimkan pesan tersebut ke kawan lelakinya itu. Dan rasa panik makin membuncah, tatkala laporan “SMS Delivered” diterimanya.

Ah, sudahlah, berarti Allah SWT memang menakdirkan sang anak lelaki untuk mengetahui perasaan terdalam dari sang gadis. Dan kali ini sang gadis kembali berpikir, “Kenapa gue? Kenapa mesti gue??” dan kemudian ia mengingat deretan nama teman-temannya yang lain, yang lebih cantik, yang lebih menarik, yang lebih santun, yang lebih jadi primadona. Kenapa tak pilih salah satu saja diantara mereka? Mengapa harus ia? Menurutnya, dirinya tak cantik, bahkan sang anak lelaki adalah yang paling sering mengatakan bahwa ia jelek. Ia tak pernah malu melakukan apapun di depan sahabat-sahabatnya. Sang anak lelaki pasti sudah tau bagaimana sifat keras kepalanya, bagaimana galaknya ia membentak, dan bagaimana sifat-sifat mengesalkan lainnya yang dimiliki sang gadis. Maka apalagi yang diharapkan dariku, pikir sang gadis. Ah, sang gadis tak pernah memahami itu semua, ia tak pernah mengerti dan berusaha mengerti. Pun ia tak pernah mau peduli ketika si anak lelaki telah mengatakan, “Saya minta maaf. Saya hanya mau kamu”. Ia hanya tak paham. Kenapa tak gadis lain saja?

* * *

Sejak saat itu, sang gadis telah menghapus nama si anak lelaki di folder SAHABAT dalam pikirannya. Sahabat adalah sahabat. Cinta, itu urusan lain. Itulah prinsipnya. Dan ia tak segan menghapus siapapun yang tak sejalan dengan itu. Sang gadis membatasi interaksinya dengan si anak lelaki, walau kelima sahabat lainnya protes, ia tak peduli. Ia hanya tak mau berdekatan dengan seseorang yang ia anggap pengkhianat. Pengkhianat persahabatan.

Waktu terus berjalan. Sang gadis dan keenam sahabatnya sudah naik ke kelas tiga SMP. Masih di kelas yang sama. Namun dengan rasa persahabatan yang berbeda. Waktu terus bergulir, sang gadis dan keenam temannya kini telah menginjak bangku SMA. Kali ini mereka berpisah. Namun yang pasti, sang gadis tetap tak berkomunikasi apalagi bertemu  dengan si anak lelaki. Masih merasa kecewa rupanya ia.

Waktu berjalan terasa semakin cepat. Kini sang gadis dan teman-temannya sudah memasuki gerbang dunia kampus. Teriring hamdallah, sang gadis bahagia dengan sambutan yang diberikan padanya. “Welcome New Yellow Jackets!”. Kawan-kawan lainnya pun bahagia dengan kampusnya masing-masing. Ia tetap bertukar kabar dan mengetahui teman-teman yang lainnya pun mendapatkan hal yang sama yang mereka inginkan. Pun si anak lelaki, ia tak mengetahui kabarnya, terakhir ia bertemu adalah saat selesai SPMB karena ternyata mereka di gedung yang sama. Walau empat tahun sudah berlalu dari masa itu, masih canggung rasanya. Entah, sang gadis hanya menduga mungkin si anak lelaki melihat perubahan pada dirinya. Mungkin si anak lelaki melihat sang gadis yang semasa SMA nya banyak terlibat dalam kegiatan keislaman di sekolahnya kini mulai terwarnai dengan percikan-percikan nuansa da’wah Islam, tanpa sang gadis sadari bahwa dirinya pun telah terwarnai dengan warna yang sama.

Adapun sang gadis, kini telah lebih dewasa dalam menilai sesuatu. Tak bolehlah ia seharusnya mencap negatif seseorang begitu cepat. Apalagi memutuskan pertemanan secara sepihak. Tanpa mau mendengar. Tanpa mau memahami.

Seiring waktu berjalan, sang gadis menikmati masa-masanya menjadi mahasiswi salah satu universitas terbaik di negerinya. Dan ternyata, alangkah kagetnya sang gadis karena ternyata si anak lelaki pun berada di tempat yang sama. Di kampus seribu danau, mereka bertemu kembali. Rasa kagetnya belum hilang karena ternyata si anak lelaki berada dalam suatu komunitas yang sama dengannya. Ternyata warna yang didapatkannya saat SMA sama-sama membawa mereka ke dalam manisnya dunia da’wah di kampus.

Namun kini berbeda. Sang gadis tak lagi menyimpan rasa kecewa apalagi dendam kepada sahabatnya tersebut. Cukuplah, enam tahun waktu yang dibutuhkannya untuk menerima kembali sahabatnya itu. Pun harusnya ia menyadari, mungkin tak sepenuhnya kesalahan ada pada sahabatnya itu, mungkin banyak pula kontribusi kesalahan dirinya. Ia kini bisa memahami, dan mau memaafkan. Ia pun masih tak berkomunikasi dengan si anak lelaki. Ya, karena tak perlu berkomunikasi jika tak benar-benar diperlukan. Ia hanya mendengar dan mengetahui bahwa jam terbang sahabatnya itu semakin tinggi. Dan menyadari bahwa si anak lelaki memegang suatu amanah, yang dalam bahasanya adalah amanah langit, yang tak sembarang manusia bisa memperolehnya. Dan sang gadis pun mendengar, bahwa si anak lelaki berencana menggenapkan separuh dien nya. Menikah. Dan sang gadis bahagia, karena kini ia tak mempunyai rasa kecewa lagi. Karena ia kini bisa berbahagia untuk sahabatnya. Karena ia dan si anak lelaki sudah saling memahami, tak perlulah mengingat itu semua, karena sahabat tetaplah sahabat, dan tak ada mantan sahabat dalam kamus mereka.

 

Jakarta, 25 Januari 2010

kita tetap sahabat bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s