Kami Tunas-Tunas Bangsa….

Sore ini, untuk pertama kalinya lagi setelah cukup lama, aku kembali mengunjungi sekolahku yang tercinta, SMA 61 Jakarta. Sore itu, seperti biasa kemacetan di jalan Taruna Revolusi itu sudah menyambut. Kemacetan itu, mengingatkanku pada ketar ketir hatiku empat-lima tahun silam, dimana kalau kemacetan seperti itu sudah di depan mata, pilihannya adalah lebih baik turun kendaraan, atau bila pasrah menunggu macet, maka siap-siaplah tidak akan sekolah, dipulangkan paksa dan tak hormat. Sampai depan gang itu, itulah rute paling kusukai, dibandingkan melewati jalur satunya lagi yang melalui sawah dan tangga berundak-undak, jalur ini jauh lebih menyenangkan. Sisi kiri perjalananku sudah agak berbeda, tak ada lagi lapangan luas seperti saat ku masih sekolah dulu, sudah berganti dengan pabrik entah apa yang berdiri kokoh dengan pagar besarnya yang angkuh dan senantiasa tertutup. Makin sedikit saja lahan untuk bermain bagi anak-anak di negeri ini.

Akhirnya, sampailah aku. Memasuki gerbangnya, sebuah spanduk ucapan selamat terbentang, bertuliskan prestasi SMA tersebut dalam meraih sertifikasi ISO. Masuk ke dalam, aku langsung menuju masjid sekolah. Tak tahulah itu masjid atau musholla, namun yang jelas itu satu-satunya tempat untuk sholat di sekolah ini. Setelah sholat Ashar, aku sejenak memperhatikan masjid yang kucintai ini. Masjid ini, bagaikan rumah kami di dalam sekolah, mengingatnya berarti mengembalikan ingatanku pada masa-masa Rohis ku dulu.

Tempat wudhunya, tidak berubah, masih dengan dua kaca yang suram dan kecil, sehingga kami sering berdesakan memakainya. Hijab itu, ah, juga tak berubah. Ingatkah kalian akan hijab rotan dengan kain hijau itu, yang begitu setia menemani kita bertahun-tahun. Lalu mukenanya, mukena SMA ini memang jempolan, nomor satu! FEUI tak ada apa-apanya dengan sekolah ini bila dilihat dari variabel kebersihan, kerapihan, dan kelengkapan mukenanya. Aku ingat, kelas X dulu aku sering sekali melipati mukena-mukena ini. Sepengetahuanku, tak ada masjid di SMA unggulan lain yang sekecil dan sesederhana masjid kita, tapi aku tak yakin semangat mereka sebesar kita. Semangat kita, yang terkadang berlebihan sehingga membuat alumni merasa kewalahan, semangat kita yang terkadang emosional, semangat kita yang membuat kita terus saling menjaga, yang satu futur, lalu bangkit, lalu futur lagi, bangkit lagi, tapi kita tak pernah lelah menopang dan mengingatkan.

Ketika pulang, melewati lapangan membangkitkan ingatan lain lagi padaku. Banyak hal terjadi di sana. Tiba-tiba aku teringat masa classmeeting dahulu, dimana permainan benteng antara ikhwan rohis dengan cewek-cewek gaul kelas X pernah terjadi, dan akhirnya terjadi suatu insiden, memalukan sekaligus menggelikan, tapi itulah kenangannya. Tiba-tiba aku teringat masa dimana Teater Angin masih berjaya dan mereka pernah tampil di panggung di lapangan itu. Tiba-tiba aku teringat grup nasyid Badai, yang walaupun orang mengatakan Badai Pasti Berlalu, namun mereka tetap percaya diri tampil disana, membawakan lagu Kera Sakti versi gubahannya. Ingatkah kalian akan itu? Aku masih ingat, semuanya.

Setelahnya, aku pulang. Dengan membawa kenangan yang masih melekat. Hmm…mungkin ini yang orang-orang tua itu bilang, masa SMA, memang masa yang paling indah. Indah, indah, indah, dan belum tergantikan.

Jakarta, 8 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s