Mungkin Perlu Diingat(kan)

Bunga* : Aku ga respect deh ama si fulan
Saya : Emangnya kenapa si fulan?
Bunga : Dia pernah negur aku, dengan cara yang aku gak suka. Dia negur aku karena aku pernah kelihatan nunggu bikun berdua dengan temen cowokku. Padahal cuma kebetulan aja ketemunya dan akhirnya ngobrol di halte. Dan ikhwan itu negur aku saat kami syuro. Bayangkan! Di depan teman-teman dia menegur aku tentang adab interaksi. Aku tahu aku salah. Tapi, musti ya ditegur di depan orang banyak??

(sebuah percakapan antara saya dan seorang teman, dengan sedikit gubahan)
*bukan nama sebenarnya

Sejujurnya, percakapan di atas hanyalah satu dari sekian percakapan saya dengan teman-teman saya yang cukup menggelitik. Pun percakapan-percakapan tersebut yang pada akhirnya memicu saya untuk menuliskan sesuatu terkait hal ini.

Coba baca sekali lagi percakapan tersebut. Dan coba kita analisa. Apakah ada yang salah dari isi teguran sang lelaki? Tentu saja tidak. Bukankah kita memang diperintahkan untuk saling mengingatkan dan nasehat-menasehati? Lalu, mengapa wanita tersebut menjadi resisten?

Saya akan memulai dari pihak wanita. Membicarakan makhluk yang satu ini tentu sangatlah menyenangkan, karena wanita adalah makhluk yang sangat istimewa. Saking istimewanya sampai begitu banyak sifat-sifat dan karakternya yang tak mudah dimengerti, tak mudah dipahami. Wanita pada dasarnya merupakan makhluk yang sangat perasa, sensitif. Makhluk yang lebih terbiasa menggunakan hati dan perasaan. Makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk. Maka sifatnya pun akan seperti tulang rusuk.

“Selalu wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita” (HR Bukhari, dari Abu Hurairah)

Lalu bagaimana dengan laki-laki? Berbeda dengan wanita, laki-laki lebih mengedepankan rasionalitas dan pemikiran. Oleh karena itu, sikap mereka adalah solution-based, cenderung tegas dan berterus terang. Maka ada yang pernah mengatakan, laki-laki biasanya berkata, “Saya pikir….” dan perempuan mengatakan “Saya rasa…..” . Mungkin tak semuanya begitu, namun mayoritasnya adalah demikian. Mungkin pula setelah membaca ini laki-laki akan banyak mengatakan “Saya rasa” agar dikatakan perasa. Hehe…

Sekarang kita kembali ke pertanyaan awal. Mengapa wanita tersebut menjadi resisten? Menurut saya, ada sesuatu yang kurang tepat dalam hal penyampaiannya. Ada dua hal macam penyampaian yang menjadikan nasehat dan teguran tersebut menjadi tidak hikmah, yakni cara dan waktu

Terkait cara, terkadang jiwa amar ma’ruf nahi munkar begitu bergelora dan membuncah-buncah dalam hati seseorang yang melihat sebuah kesalahan. Saking bersemangatnya sampai ia lupa bahwa tugasnya bukan hanya menegur lalu selesai. Tapi memastikan bahwa orang yang ditegurnya paham akan kesalahannya dan apabila ia kembali “ke jalan yang benar” maka itu haruslah karena kesadarannya sendiri akan kesalahannya. Bukan karena paksaan atau keterpaksaaan. Konkritnya, janganlah menegur di depan orang lain. Walau bagaimanapun, itu akan membuat yang ditegur merasa malu. Apalagi bila orang lainnya banyak. Saya pribadi mengusulkan, bila tidak yakin bisa menegur dengan baik-baik, maka minta tolonglah kepada orang lain, sahabat atau saudaranya misalnya. Karena orang yang dekat pasti lebih mengetahui bagaimana caranya. Wanita cenderung perasa. Maka terkadang mereka tidak hanya membutuhkan alasan rasional yang dapat menyentuh otak mereka tapi juga sesuatu yang dapat menyentuh hati mereka. Dan apakah yang dapat menyentuh hati? Percayalah, apa yang datang dari hati akan diterima oleh hati.

Terkait waktu, John C.Maxwell mengatakan, “Kunci awal mengatakan hal tepat di saat yang tepat adalah memerhatikan keadaan”. Atau kalau bahasa anak sekarang, “tau sikon”. Memilih waktu yang tepat adalah suatu keharusan karena penerimaan seseorang akan suatu teguran bisa terpengaruh dengan kondisi yang sedang dialaminya. Seorang teman, dimana malamnya tidak tidur sama sekali karena mengerjakan suatu hal, dan pagi-pagi buta harus berangkat ke kampus, kehujanan dan macet, berdesakan dalam angkutan umum, lalu hpnya ternyata tertinggal di rumah, dan sesampainya di kampus karena belum sempat sarapan ia membeli sebuah cemilan di koperasi. Saking terburu-burunya, ia setengah berlari sambil memakan makanannya. Dan seorang kawan yang melihatnya langsung menegur dengan menyindirnya. Bahkan teguran se-ringan “Jangan makan sambil berjalan” pun sangat menyakiti hatinya. Mengapa? Karena fisiknya sedang amat lelah sehingga rasa sensitifnya melebihi biasanya. Lalu menyesal lah yang menegurnya ketika tahu kondisinya sedang seperti apa. “Saya tidak tahu…” ungkapnya. Ya, tentu saja tak tahu, karena ia tak pernah bertanya.

Saudaraku,
Setiap niat baik pasti sudah tercatat sebagai kebaikan, pun niat baik kita untuk selalu mengingatkan dan menasehati. Namun, alangkah lebih baiknya apabila niat yang baik diiringi dengan cara yang baik. Senangkah kalian apabila diberi segepok uang? Tentu saja senang apabila uang tersebut diberikan dengan baik-baik dan tersenyum. Namun, bila uang tersebut dilemparkan di depan muka kita, mungkin rasanya akan berbeda. Padahal nominal uangnya sama. Tapi dampak penerimanya akan sangat berbeda. Maka sempurnakanlah niat baik kita dengan penyampaian yang baik dan hikmah. Dan apakah yang lebih baik dari dunia dan seisinya, selain seseorang yang mendapatkan hidayah lewat tangan kita? =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s