Wanita, Riwayatmu Nanti

“Wah, lo kepikiran ya, gue sih gak kepikiran”, seorang saudariku berkomentar, disaat kami sedang berkumpul dan saat itu membahas rencana dan impian kami setelah menyelesaikan studi S1 di kampus UI ini. Ungkapan itu keluar setelah beliau mendengar rencanaku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, meraih ilmu yang lebih tinggi, menyelami pengetahuan lebih dalam, tentang apa yang sudah kupelajari sekarang.

“Oh ya?” aku heran, “kok gitu?”

“Gue sih mikir habis kuliah gue mau menikah dan setelah itu mengurus suami dan mendidik anak-anak gue dengan sebaik-baiknya” lanjutnya.

Subhanallah. Rencana wanita mulia. Tapi aku tergelisik.

“Lo anak UI gitu. Udah susah-susah masuk UI, trus lo cuma mau jadi ibu rumah tangga yang baik? Masyarakat di luar sana, menantikan kontribusi lo untuk mereka, karena cuma sedikit dari kita yang punya kesempatan belajar di UI”.

Ya, itu hanya sepenggal dari perbincangan saya dengan beberapa saudari-saudari saya,yang lagi-lagi selalu menggelitik rasa penasaran dan keingintahuan saya tentang bagaimana seorang perempuan merencanakan masa depannya.

Entah, bukan saya tak sepakat, namun terkadang saya sedih, bila perempuan memaknai keberadaan mereka nantinya hanyalah sebagai penghias rumah tangga. Bacalah lagi kalimat terakhir saya kepada saudari saya itu,

“…trus lo cuma mau jadi ibu rumah tangga yang baik?”

Itu penekanannya. Cuma mau jadi ibu rumah tangga yang baik. Jadi kalian pasti mengerti maksud saya, peran sebagai ibu rumah tangga itu harus ada, namun janganlah hanya itu satu-satunya peran kita.

Saya tak menampik peran utama seorang perempuan nantinya, siapa sih yang tak mau mendidik anak-anaknya kelak? Itu wajib bahkan, saudariku. Namun sadarilah, masih teramat banyak tugas dan amanah kita sebagai manusia di muka bumi selain mengurusi keperluan pribadi saja. Lebih khusus terkait status kita sebagai mahasiswa, atau mantan mahasiswa nantinya, ada harga tersendiri yang harus kita bayar kelak kepada masyarakat akan status kita. Bukan, bukan sekedar turun ke jalan demi membela kepentingan mereka, namun bisa memberikan sumbangsih (keren banget bahasa gue, sumbangsih men!) nyata dari ilmu yang telah kita pelajari sebelumnya.

Saya teringat perkataan seorang ikhwan di suatu forum besar dalam acara Pekan Tarbiyah, beliau berkata, “Bolehlah seorang wanita itu sibuk juga di luar rumah, mengurusi masalah lain, asal jangan istri ane”. Mulialah Allah SWT yang mengaruniakan sabar kepada hambaNya ini sehingga saya tidak sampai hati menimpuk ikhwan tersebut. Egois. Hanya itu satu kata yang paling mencermikan menurut saya. Terlepas dari apa yang melandasi perkataannya tersebut, saya berpikir apabila setiap lelaki mempunyai pandangan yang sama, maka sepilah dunia ini. Tak ada lagi wanita yang bisa berkarier, tak ada lagi wanita yang boleh mengurusi perniagaan, apalagi masuk ranah politik. Biarlah lelaki semua yang mengerjakan. Apa mereka mampu? Saya tak yakin.

Tapi ingatlah, seperti yang saya katakan, tugas sebagai ibu rumah tangga, berbakti pada suami, mendidik anak, itu memang tugas utama. Jadi jangan sampai yang utama malah dikalahkan dengan yang lain. Walau demikian, harus juga kita pikirkan akan keberadaan kita yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Bukankah manusia yang sebaik-baiknya adalah yang memberikan banyak manfaat? Jadi,harus bagaimana? Banyak sekali ya tuntutannya? Satu jawaban menurut saya, kapasitas. Untuk memenuhi tuntutan yang besar tersebut, kita pun harus memiliki kapasitas yang besar sebagai perempuan. Lihatlah bunda-bunda kita sebelumnya. Khadijah, seorang saudagar kaya, pengusaha eksportir, namun tak pernah dalam sejarah menyebutkan ia menelantarkan anak dan suaminya. ‘Aisyah, wanita cerdas yang menguasai dan mengajarkan bermacam ilmu: hadits, syair, bahkan kedokteran. Zainab binti Jahsyi sang pengrajin. Bahkan Asy Syifa’ binti ‘Abdullah Al ‘Adawiyah yang diangkat ‘Umar ibn Khaththab sebagai pengawas pasar. Merekalah, perempuan-perempuan dengan kapasitas diri yang luar biasa.

Saudari-saudariku, kalian cerdas, juga shalehah. Maka akan banyak sekali kebermanfaatan yang datang darimu, maka akan banyak sekali hal-hal di dunia ini yang bisa kau cicipi, maka akan banyak sekali orang-orang yang menanti tindak nyatamu. Jadi tak ada lagi istilah kasur, dapur, dan sumur. Karena duniamu luas. Dan kaupun bisa menaklukkan dunia =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s