Segitiga Cinta

Berbicara soal cinta, saya akan mengulas kembali suatu teori tentang cinta. Saya kutip dari buku “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Salim A.Fillah, pada tahun 1988 Robert J.Stanberg mengemukakan sebuah teori, A Triangular Theory of Love. Sebuah teori segitiga cinta, dimana  ada tiga komponen di dalamnya:

1.       Keintiman (intimacy)

2.       Gairah (passion)

3.       Komitmen (commitment)

Keintiman merupakan elemen emosi yang di dalamnya terdapat kehangatan, keakraban, dan hasrat menjalin hubungan. Gairah merupakan elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual. Sedangkan komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan dan tekad untuk secara tetap dan sinambung menjalankan sesuatu.

Stanberg menjelaskan, apabila cinta hanya dibangun oleh keintiman, maka itu disebut liking, menyukai. Hanya menyukai saja. Lalu, jika cinta hanya dibangun oleh gairah, maka itulah sebuah infatuation, ketergila-gilaan. Ini yang terjadi pada sesuatu yang kita sebut love-at-first-sight.  Sedangkan bila cinta hanya dibangun oleh komitmen, itulah empty love, cinta kosong, tanpa gairah, tanpa keintiman.

Kita beranjak ke cinta yang lainnya. Jika cinta dibangun oleh keintiman dan komitmen, tanpa gairah, itulah companionate love, Persahabatan. Lalu bila cinta dibangun oleh gairah dan komitmen saja, tanpa ada keintiman atau keakraban, Stanberg menyebutnya fatous love, Cinta Buta. Dan apabila cinta dibangun berdasarkan keintiman dan gairah, itulah romantic love. Indah, namun sementara, sebab ia dibangun tanpa komitmen. Apabila ketiga unsur tadi menyatu secara sempurna, itulah consummate love. Cinta dengan keintiman dan keakraban di dalamnya, dengan gairah, dan tentu dengan komitmen.

Menarik kita lihat disini, lalu dimanakah letak cinta kita? Pasti kita semua ingin mendapatkan cinta yang memadukan ketiga unsur tersebut, consummate love. Tapi, darimana harus memulainya? Apakah harus dimulai dari gairah yang meletup-letup? Ataukah dari keintiman dan keakraban yang terjalin? Atau mungkin dari komitmen?

Kawan, mari ingatlah kembali cinta-cinta yang pernah kita rasakan. Cinta orangtua kepada kita, cinta guru-guru kita, cinta Rasulullah kepada kita, bahkan cinta diantara kita. Mari kita ingat kembali orangtua kita yang begitu ikhlas menyayangi dan mencintai kita sejak kecil, walau mereka tak pernah tahu, akan seperti apa kita ketika sudah besar, mereka hanya yakin dan percaya, kita adalah titipanNya yang paling berharga. Ingat kembali cinta Rasulullah kepada ummatnya, yang sampai akhir hayatnya yang diingat adalah kita, ummatnya, “ummati…ummati…”, walau Rasulullah pun tak pernah tahu akan seperti apa ummat-ummat sepeninggalnya. Maka mulailah cinta kita dari komitmen.

Sebuah komitmen, sebuah kesungguhan, merupakan titik awal terbaik akan cinta. Tentu komitmen saja tak cukup, namun dengan komitmen itu sendiri, kita bisa mengupayakan keberlangsungan cinta kita, menjalin keintiman dan mendapatkan gairah. Maka bila kita berkomitmen, kita bersungguh-sungguh, apa-apa yang kita inginkan dalam cinta kita akan tercapai. Man Jadda Wa Jada, barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil, itulah janji Allah. Ah, Allah tak pernah ingkar janji, hanya kita yang tak percaya.

Lalu langkah selanjutnya setelah komitmen adalah konsisten. Konsisten dengan apa yang telah kita ucapkan dan tekadkan. Konsisten akan segala kebaikan komitmen kita. Maka apabila kita memulai cinta kita dengan komitmen dan kita konsisten dengan itu, akan terasa manislah sesuatu bernama kesetiaan. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s