Trip to Banggai

Pada tanggal 19-24 Desember lalu, saya bersama tiga orang kantor lainnya, kak Dika, kak Awin, dan pak Deddi pergi ke Banggai, Sulawesi Tengah. Perjalanan dimulai pagi-pagi buta (dimana harus membuat saya pergi ke bandara dari rumah sebelum pukul 03:00 pagi) sambil sedikit ngeluh-ngeluh kenapa ada yang mau adain penerbangan pagi-pagi banget begini😀

Setelah transit di Makassar, akhirnya kita tiba di Luwuk, Banggai. Total waktu yang diperlukan dari Jakarta ke Luwuk sekitar 3 jam. Kota Luwuk adalah kota yang suaangaaat panaaaass…. Sebelas dua belas lah sama Lamongan, kota-kota tempat tinggalnya dewa matahari. Kalo kata si pilot, waktu kami mendarat di Luwuk, temperatur udara di Luwuk adalah 30 derajat Celcius. Fyuh!

Walau begitu, pemandangan disana tetaplah ciamik dan apik.

Selama 6 hari tersebut, kami sangatlah sibuk disana. Inilah beberapa kegiatan kami yang sangat menyibukkan:

Foto-foto

 

 

 

 

 

 

 

Makan-makan

 

 

 

 

 

 

 

 

BB-an

 

 

 

 

 

Ngemil

 

 

 

 

 

 

Jalan-jalan

 

 

 

 

Makan lagi

 

 

 

 

 

 

 

Oke, masih makan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nah, namun diantara kesibukan-kesibukan kami yang padat tersebut, Alhamdulillah kami masih menyempatkan diri melakukan sosialisasi draft kebijakan akuntansi dan draft sistem akuntansi😀

Perjalanan penimbunan lemak tersebut akhirnya berakhir tanggal 24 Desember, dengan riang kami pulang menuju Jakarta. Di bandara Luwuk, kami diantar bapak-bapak dan ibu-ibu pemda layaknya jamaah haji yang ingin ditinggal keluarganya. Tak lupa oleh-oleh berbagai macam rupa dan warna (yang sempat kami niatkan ditinggal saja di bandara sultan hasanuddin) yang sangat banyak dengan terpaksa senang hati kami bawa pulang.

Ternyata keceriaan kami berhenti sampai Makassar. Secara sepihak, Merpati mengganti jadwal kami yang seharusnya pukul 15:00 menjadi pukul 16:40. Ah, kalau begini, mau dibawa kemana hubungan kita?? *eh*. Akhirnya, dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, kami menunggu. Tak lupa oleh-oleh penuh cinta tersebut kami titipkan di tempat penitipan barang.

Waktu berlalu, kami pun (baca: AR dan kak Dika) telah mengelilingi keseluruhan bandara. Belanja dari satu toko ke toko lainnya, naik-turun, keluar-masuk, dan segala rupa kegiatan kami lakukan. Penantian kami berbuah manis, pukul 16:40 datang jua. Dengan gembira kami memasuki boarding room.

Namun, lagi-lagi Merpati mengkhianati hubungan ini. Yang ditunggu tak kunjung tiba. Tak tanggung-tanggung, masih di Manokwari. Akhirnya kami lagi-lagi melakukan kegiatan tak bernilai tambah di dalam boarding room, dari mulai bengong, makan roti saos, main games di laptop, sampai joget-joget. Akhirnya, pukul 19:30 WITA kami baru benar-benar naik pesawat. 6,5 jam total kami menunggu di bandara. Andai saya dan kak Dika memutuskan nekat ke Trans Studio ketika baru sampai bandara, mungkin setidaknya kami bisa pulang membawa foto nyengir di depan gate Trans Studio.

Alhamdulillah, kami selamat sampai di Jakarta. Dan karena sialnya syukurnya oleh-oleh kami tidak disita petugas bandara, maka sebelum pulang kami membagi-bagi harta gono gini. Setelah itu, kembali ke rumah masing-masing dengan rasa lelah dan bete yang luar biasa. Namun alhamdulillah, masih bisa pulang!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s