Shalat Jamak dan Qashar

Mengingat cukup seringnya saya melakukan perjalanan, saya jadi terpikir untuk membahas sedikit tentang shalat jamak dan qashar. Dua jenis shalat yang erat kaitannya dengan perjalanan. Sebelum lebih jauh, diingatkan lagi perbedaan antara jamak dan qashar. Qashar ialah meringkas rakaat shalat, yaitu dari 4 rakaat menjadi 2 rakaat seperti yang bisa dilakukan pada shalat Dzuhur, Ashar, dan Isya, sedangkan Jamak ialah menggabungkan dua waktu shalat, yaitu Dzuhur dengan Ashar serta Magrib dengan Isya.

Qashar

Seorang musafir boleh mengqashar shalatnya selama ia masih dalam bepergian, asal tidak berniat untuk bermukim atau menjadi penduduk tetap disana.

“Nabi SAW bermukim di Tabuk selama dua puluh hari dan beliau senantiasa mengqashar shalatnya” (HR. Ahmad, dalam kisah lain dikatakan Sembilan belas hari, shahih dari Bukhari)

Hal ini juga dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi yang lainnya, seperti Anas bin Malik yang berada di Syam selama dua tahun  ataupun ‘Abdullah bin Umar yang berada di Azerbaizan selama enam bulan dan tetap mengqashar shalatnya layaknya musafir. Ini disebabkan karena mereka tidak berniat untuk menetap di daerah tersebut, hanya saja ada halangan yang menyebabkan mereka harus berada lama disana (contohnya hujan salju yang terjadi pada ‘Abdullah bin Umar).

Terkait jarak yang diperbolehkan untuk melakukan qashar, banyak pendapat para ulama, namun kita ambil pendapat yang lebih kuat,

“Aku bertanya kepada Anas bin Malik mengenai mengqashar shalat. Ia menjawab, ‘Rasulullah SAW mengerjakan shalat dua rakaat kalau sudah berjalan sejauh tiga mil atau satu farsakh” (Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Baihaqi meriwayatkan dari Yahya bin Yazid)

Jamak

Kita diperbolehkan menjamak shalat dengan cara takdim maupun takhir. Takdim yakni mengerjakan di waktu shalat yang pertama (dimajukan) sedangkan takhir yaitu di waktu shalat yang kedua (diundurkan).

Dalam beberapa sumber yang saya baca, jamak diperbolehkan dalam situasi tertentu, seperti saat bepergian (baik pada saat berhenti ataupun masih dalam perjalanan), uzur, hujan besar, atau sakit.

Untuk jamak, saya  agak jarang menemukan riwayat yang menyatakan dengan pasti berapa jarak perjalanan yang ditempuh untuk kemudian diperbolehkan untuk menjamak shalat. Ada yang mengatakan jarak minimalnya ialah dua marhalah atau sekitar 89 km, tapi ada juga yang tidak mengatakan jarak minimalnya. Mungkin hal ini terkait dengan riwayat lain yang pernah menyatakan bahwa Rasulullah pernah menjamak shalat dalam waktu biasa,

“Rasulullah pernah menjamak shalat zuhur dan ashar serta magrib dan isya di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan. Ada seseorang yang bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Mengapa Nabi berbuat demikian?’. Jawabnya: “Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya”. (HR.Muslim)

Jadi, intinya selain karena bepergian, uzur, atau sakit, shalat jamak pun boleh dilakukan apabila disebabkan oleh adanya keperluan. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah asalkan hal tersebut tidak dijadikan kebiasaan serta tidak dimudah-mudahkan. Wallahua’lam.

Sumber: Fiqih Sunnah, karangan Sayyid Sabiq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s