Serial Banggai 2: Mencuci (Sendiri) Itu Perlu

Sejak pertama kali tiba, yang saya cari adalah tempat laundry, atau cuci kiloan, atau penyedia jasa sejenis yang intinya tak perlu membuat saya harus mencuci sendiri. Sepanjang perjalanan, saya melihat-lihat sekitar, termasuk sampai ke dekat tempat kos-kosan yang akan saya tinggali. Sayangnya, saya sama sekali tak menemukan usaha cuci-mencuci.

Saya mulai mengeluh dalam hati, mengeluhkan ini-itu sebagai dampak kekesalan karena sudah terbayang harus mencuci sendiri. Mengeluhkan lampu kamar kosan yang redup, mengeluhkan kamar mandi yang sempit, pintu yang sulit dikunci, kamar-kamar lain yang suka memutar lagu keras-keras, dan lainnya.

Namun, lama kelamaan saya sadar. Keluhan tersebut tak bisa mengubah keadaaan. Malah akan semakin memperburuk pikiran dan perasaan saya. Karena apapun yang terjadi, senang atau sedih, suka atau tidak, saya harus tetap mencuci.

Akhirnya saya memutuskan. Baiklah. Saya harus berdamai dengan keadaan.

Saya ambil sisi positif dari apa yang ada sekarang. Iya kamar mandi sempit, tapi bersih, dan airnya lancar serta jernih. Pintu yang sulit dikunci, mungkin itu hanya karena saya belum terbiasa, buktinya sekarang di hari kelima saya sudah lancar mengunci pintu. Lampu kamar sudah diganti dan lebih terang, dan kamar sebelah ternyata lagu yang diputar enak-enak juga, setidaknya masih bisa diterima telinga. Dan bahkan kamar disini lebih besar dari kamar saya di rumah.

Permasalahan dengan yang lain selesai. Sekarang masalah utamanya. Mencuci. Hufff…. Saya kemudian membuat list dalam pikiran akan manfaat-manfaat mencuci, sebagai sugesti positif, seperti:

1. Mencuci sendiri itu hemat
2. Mencuci sendiri itu olahraga, jadi bisa bikin kuyus
3. Mencuci sediri itu FUN, main-main air
4. Mencuci sendiri itu wangi
5. Mencuci sendiri itu latihan kalau nanti dalam kondisi susah (kata temen saya)

Berbekal semangat itulah, maka saya membulatkan tekad untuk mencuci tiap hari, agar cucian tidak menumpuk dan menggunung. Karena cucian yang menumpuk pasti membuat demot. Sebagai langkah konkrit, saya beli selusin Attack sachet besar. Niatnya, rendam saja yang lama dengan Attack, lalu kucek-kucek sedikit, target saya sekarang bukan bersih, yang penting kena sabun dan kecuci!

Sekarang, setiap malam hari (karena saya biasa sampai kosan diatas jam 9), saya mulai merendam pakaian, niatnya sekitar jam 11 bisa dicuci dan dijemur, tapi karena lebih sering ketiduran, biasanya pagi-pagi sebelum subuh baru saya bilas dan jemur.

Ternyata, mencuci tidak seburuk yang saya pikirkan. Setidaknya buktinya saya bisa melakukannya dalam 5 hari ini. Walau telapak tangan saya jadi terkelupas, walau saya jadi tidak punya waktu untuk mengurus kuku-kuku saya dengan alat meni-pedi yang sudah dibawa dari Jakarta😀 . Tapi tetap saja, harapan saya adalah cepat pulang ke Jakarta dan menemukan teknologi bernama mesin cuci!😀

Luwuk, 13 Februari 2011

One thought on “Serial Banggai 2: Mencuci (Sendiri) Itu Perlu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s