Di Jalan Lurus Ini

Di setiap perjalanan yang saya lalui, baik perjalanan darat maupun udara, saya selalu menyukai tempat duduk di samping jendela. Dari samping jendela, saya dapat melihat dunia luar. Kadang awan-awan tipis, hamparan lautan luas, pucuk-pucuk pohon hijau, jalan raya tak berujung, dan banyak lagi. Indah!

Melihat ke luar jendela, membuat saya menyadari, bahwa dimanapun fisik seseorang berada, kita tidak bisa mengetahui dimana pikirannya berkelana. Orang-orang yang sedang bersama saya pun di mobil ini, mungkin pikirannya sedang ada di rumah, mengingat istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Mungkin pula pikirannya sedang ada di kantor, teringat pekerjaan menumpuk yang belum usai. Mungkin.

Pikiran saya pun sering berkelana saat bepergian. Lebih sering, pikiran ini memikirkan sesuatu yang melankolis. Keindahan alam, membawa pada pikiran kekaguman tak pernah habis pada Sang Pencipta, dan kemudian menimbulkan rasa malu, rasa senang, rasa terima kasih tak terbilang.

Tak jarang pikiran ini pun melewati masa yang belum dilalui. Masa depan. Seperti saat ini, saya menerawang jauh ke ujung jalan, mengikuti iringan awan yang mulai gelap di atas kami.

Masa depan rasanya hal paling mustahil yang bisa dibayangkan. Bila 10 menit lagi saya mati, selesailah masa depan saya di dunia. Namun bila 10, 20, atau bahkan 50 tahun lagi saya mati. Mungkin lain cerita. Sungguh abstrak.

Manusia sesungguhnya makhluk yang senantiasa berprasangka baik pada Sang Khaliq. Kita menyusun cita-cita, rencana, keinginan, capaian, dengan prasangka terbaik yakni mempunyai cukup umur sampai tujuan tersebut tercapai. Kita makan, minum, bernafas, dengan prasangka baik bahwa seluruh organ tubuh akan tetap berfungsi normal setelah makanan masuk ke perut, setelah nafas terhirup sampai ke paru-paru.

Lalu dengan prasangka baik pun, saya memikirkan masa depan. Apa yang saya inginkan dari masa depan saya? Saya ingin berbuat apa? Saya tidak ingin hanya menjadi -mengutip dari buku yang baru saya baca habis di perjalanan ini- seonggok daging yang punya nama. Saya ingin lebih.

Pemikiran yang carut marut ditambah dengan sebuah kekhawatiran. Apakah rencana-rencana saya, keinginan saya, merupakan rencana yang disukai oleh Nya? Bisakah masa depan saya membuat Allah lebih sayang pada saya? Lalu, apakah yang saya lakukan sekarang merupakan titian menuju masa depan?

Inilah sulitnya berpikir dalam perjalanan di samping jendela. Kadang kita tak mendapat jawaban. Kita hanya dituntut melihat dan menerawang. Merasakan hal-hal yang sulit dirasakan saat tubuh sedang lelah dengan pekerjaan dan tekanan.

Maka nikmati sajalah. Semua pikiran-pikiran tak terjawab itu. Dan berharap, di akhir jalan yang lurus ini, akan ada rangkaian-rangkaian jawaban.

Tol Cipularang,
16:22 WIB
5 April 2011
Ditulis dalam perjalanan menuju Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s