Batas Kita Masih Di Atas

Mencapai hari-hari akhir di bulan Ramadhan, saya mendapatkan beberapa pengalaman dan hikmah yang walaupun bukan sesuatu yang baru, namun sangat terasa dampaknya.

Beberapa hari di malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadhan saya habiskan dengan beriktikaf (berdiam diri di masjid). Seperti layaknya iktikaf, kegiatan di waktu tersebut tak jauh-jauh dari membaca quran, dzikir, sholat wajib & sunnah, dan hal-hal lainnya yang mendekatkan diri pada Allah.

Nuansa yang sangat berbeda saya rasakan ketika beribadah di rumah dengan di masjid. Saat di rumah, tidur rasanya tak bisa terlalu larut, pun bangun kembali di sepertiga malam terakhir bisa dikatakan bukan hal mudah. Namun, saat berada di masjid, waktu berjalan tanpa terasa. Membaca quran dan menghapalnya sampai tengah malam bukan hal sulit. Tidur hanya 1-2 jam kemudian bangun shalat malam dengan bacaan sampai 3 juz ternyata bisa terlewati, tanpa kantuk sama sekali.

Apa yang terjadi? Ternyata bisa! Ternyata bisa! Ya, hal yang selama ini jarang bahkan nyaris tidak pernah dilakukan ternyata bukan hal yang mustahil. Hanya perlu sedikit menekan ke diri sendiri, push our self into the limit, dan kita akan terkejut menyadari kita sebenarnya mampu.

Ya, kita mampu. Tapi kita mungkin selama ini terlalu manja. Atau mungkin terlalu pesimis. Lalu enggan mencoba. Padahal, sebenarnya diri kita punya kemampuan masih jauh di atas batas.

Ada beberapa hal yang menurut saya pribadi menjadi penyebab hal tersebut:

Pertama, tidak terbiasa. Tidak terbiasa bukan berarti tidak bisa. Harusnya dibiasakan, nanti lama-lama pasti bisa. Untuk ini kita harus mau mencoba.

Kedua, kenyamanan yang melenakan. Kenyamanan terkadang menjadi musuh besar akan perubahan. Tidur di masjid dengan alas keras dan udara terlalu dingin atau terlalu panas pasti tidak nyaman. Beda dengan tidur di kasur empuk berselimut di rumah. Namun, karena itulah saya jadi tidak betah tidur lama-lama di masjid, orang tidurnya gak enak, hehe. Akhirnya saya jadi bisa mempersedikit waktu tidur. Itulah saya katakan, kenyamanan terkadang melenakan.

Ketiga, lingkungan. Suasana masjid yang kondusif untuk beribadah mau tak mau ‘memaksa’ kita untuk selalu ibadah. Malu kan kalo tetep enak-enakan tidur sementara yang lain qiyamul lail misalnya. Nah, makanya jangan salah pilih pergaulan lingkungan. Suka nggak suka, itu mempengaruhi kita lho.

Akan hal dan pencapaian apapun, perlu kita menekan kembali diri kita. Ibarat per, harus ditekan dulu baru bisa melejit lebih jauh. Hal ini untuk menyadarkan kita, bahwa apa yang BISA kita lakukan ternyata lebih besar dibanding dengan apa yang TELAH kita lakukan. Bahwa sebenarnya batas kemampuan diri kita bukan segini, masih jauh, masih bisa naik lagi, masih di atas batas.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s