Sebuah Pembelajaran Tentang Orangtua

Momen lebaran merupakan momen dimana saya bisa bertemu banyak saudara dan tetangga. Selain bermaafan, lebaran juga menjadi momen silaturahim yang membuat saya menjadi lebih mengetahui kehidupan dari saudara atau tetangga saya.

Yang akan saya bicarakan adalah masalah orangtua dan anak. Banyaknya saudara dan kerabat yang sudah memiliki anak membuat saya melihat cara didik anak masing-masing. Disini, saya mendapat banyak pelajaran bahwa ternyata masih banyak sekali cara didik orangtua yang (menurut saya) salah. Terutama orangtua yang memiliki anak kecil. Beberapa diantaranya adalah:

1. Orangtua berbohong

Orangtua kerap kali berbohong pada anaknya terutama bila mereka tidak mau memenuhi kemauan sang anak. Misal, sang anak memaksa ingin naik ke lantai atas. Lalu orangtua menakuti dengan mengatakan, “Di atas ada genderuwo” atau “Di atas nanti ada setan” dan semacamnya. Tak jarang pula orangtua berbohong bila sang anak minta dibelikan ini atau itu.

Hmmm… Yang saya pahami, orangtua mencari cara “instan” untuk mengatasi kerewelan anak. Ada yang mengatakan, “ah, anaknya juga masih kecil, belum ngerti”. Justru itu, anaknya masih kecil, sudah dibohongi, jahat bukan? membesarkan anak dengan kebohongan demi kebohongan,  lalu seperti apa ia harapkan anaknya akan tumbuh?

2. Orangtua menyalahkan

Ini juga unik. Orangtua secara tak sadar sering menyalahkan pihak lain (atau keadaan) untuk sesuatu hal yang menimpa sang anak. Bila sang anak terjepit pintu, “itu pintunya nakal”. Bila sang anak terpeleset mainannya sendiri, “mainannya nakal”. Saya pikir ini lucu, ada juga seharusnya mereka introspeksi, kenapa pintu tidak ditutup sempurna dan mainan dibiarkan berserakan. Dengan ini, mereka juga mengajarkan anaknya untuk menyalahkan pihak lain akan apa yang terjadi pada diri mereka.

Seorang sepupu balita, menangis karena kakinya tertimpa toples kaleng yang sedang dimain-mainkannya, padahal sudah beberapa kali diingatkan untuk jangan memainkan toples yang ada di atas meja. Saat sang anak menangis, sontak para orangtua mengatakan, “cup cup… Toplesnya nakal ya… Pukul toplesnya”.

Konyol.

Saya yang saat itu ada disana, langsung menyambar, “Kan kamu udah diingetin daritadi jangan mainan toples, akhirnya sekarang toplesnya jatuh dan nimpa kamu. Bukan toples yang salah, kamu yang salah”.

Agak nyolot sih yang ini. Abis sebel. Hehehe.

3. Orangtua tanpa teladan

Sudah bosan saya melihat orangtua berbusa-busa menasihati hal-hal normatif pada anak. Namun pada akhirnya mereka sendiri yang melanggar. Anak diajarkan sopan pada orang lain, namun dia sendiri berkata kasar. Anak diajarkan sholat, tapi sang orangtua tetap ongkang-ongkang kaki saat azan. Lalu darimana anak mengharapkan teladan? Edannya lagi, ternyata banyak juga orangtua yang bahkan mengajarkan hal yang buruk kepada anak. Semisal (yang paling sering saya lihat) mengajarkan anak buang sampah di sembarang tempat atau merokok sembarangan. Speechless untuk yang ini.

Kira-kira itu 3 fenomena yang sangat sering saya jumpai. Saya sendiri belum pernah mempelajari tentang teori parenting dan sejenisnya, dan juga belum pernah punya anak. Namun, saya berpikir bahwa hal-hal diatas bukanlah hal baik sehingga tidak sepatutnya dilakukan. Sisi baiknya, saya mendapat banyak hikmah, bahwa menjadi orangtua artinya adalah menjadi pembelajar tanpa henti. Setiap pengalaman dan kejadian akan mengantarkan kita pada suatu pelajaran baru. Semoga saja, kelak jika saya menjadi orangtua, saya bisa menjadi sebaik-baik orangtua bagi anak dan membuat Allah bangga telah menitipkan mereka kepada saya. ツ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s