Cerita Tentang E-KTP

Pengurusan E-KTP mungkin menjadi hal yang sangat happening diantara sebagian kita akhir-akhir ini. Perpaduan antara antusiasme berlebihan masyarakat, kurang profesionalnya petugas, dan sistem yang berubah-ubah memberi warna tersendiri dalam proses pengurusannya.

Kali ini, saya mau cerita sedikit tentang sistem pengurusan E-KTP di Kelurahan Pulo Gebang, Jakarta Timur. Perlu menjadi catatan bahwa sistem ini bisa saja berbeda dengan kelurahan lainnya.

1. Sistem Tetapkan Tanggal

Pada awal dimulainya sosialisasi E-KTP, setiap warga diberi surat undangan yang telah tercantum tanggal kapan warga tersebut harus mengurus E-KTP nya. Jadi, setiap orang sudah mendapatkan tanggal yang pasti kapan harus mengurusnya. Tidak lama, sistem ini banyak menuai protes. Pasalnya, banyak warga yang jadwalnya tidak match dengan jadwal yang diberikan kelurahan. Ada yang sedang ada rapat penting, harus keluar kota, ada ujian bagi yang masih kuliah, dll.

2. Sistem Bebas Datang

Setelah sistem pertama dievaluasi, akhirnya kelurahan mengganti sistem pengurusan E-KTP. Kali ini, warga bebas mendatangi kelurahan kapan saja. Asalkan batas maksimalnya adalah tanggal 15 Desember. Akhirnya, warga kini bebas datang hari apa saja (Senin-Minggu).

Dengan dua buah kamera yang tersedia di kelurahan, daya tampung per hari untuk pengurusan E-KTP hanyalah untuk 200 KK (dimana satu surat undangan adalah untuk satu KK). Artinya, barangsiapa yang tidak mendapatkan nomor pada hari itu, maka dia harus kembali mengantri di keesokan harinya untuk mengadu nasib dan peruntungan di hari itu.

Nah, masalah kembali terjadi disini. Resminya, mulai pukul 06.00 warga dipersilakan untuk menaruh surat undangan dan pukul 08.00 akan dimulai pembagian nomor. Nyatanya, warga mengumpulkan surat undangan mulai dari pukul 01.00 tengah malam saudara-saudara! Bagaimana caranya? Mereka menitip pada tukang tambal ban di samping kelurahan (dengan uang tips sekadarnya dari setiap orang, tentu tukang tambal ban happy). Sehingga, para warga yang datang pukul 06.00 atau bahkan pukul 05.00 biasanya sudah menemukan ratusan tumpuk surat undangan. Biasanya, sudah sekitar 150-200 surat.

Alhasil, pada pukul 08.00 ketika pembagian nomor dilakukan, para warga yang datang ‘kesiangan’ tidak mendapatkan nomor dan harus gigit jari pulang kembali membawa surat undangan mereka. Besok, mereka mencoba lagi peruntungannya. Hal ini membuat warga frustasi dan emosi. Nyatanya, banyak diantara mereka yang sudah cuti kerja sampai 3 hari berturut-turut dan tidak juga mendapatkan nomor.

Puncaknya, chaos terjadi saat beberapa warga marah kepada tukang tambal ban. Mereka merasa jam resmi pengumpulan surat adalah pukul 06.00, maka seharusnya yang mengumpulkan di bawah pukul 06.00 adalah tidak sah, apalagi menitip pada orang non-petugas kelurahan. Mereka pun kesal dan lelah karena nyaris tiap hari ke kelurahan namun tidak pernah mendapatkan nomor. Pada hari itu, ada 2 tumpukan surat. Satu tumpukan dari kubu tukang tambal ban, satu tumpuk dari kubu warga lainnya. Masing-masing tumpuk ada sekitar 200 surat. Akhirnya, pukul 08.00 petugas kelurahan mengadakan rapat terlebih dahulu dengan kedua kubu untuk mencapai mufakat.

3. Sistem Bebas Datang dan Dapat Tanggal

Setelah sistem kedua dievaluasi, kelurahan kini menetapkan peraturan baru. Barangsiapa yang sudah mengumpulkan surat di hari ini namun tidak mendapatkan nomor, maka ia akan mendapatkan nomor di hari berikutnya. Bila di hari berikutnya sudah penuh juga, maka akan diberikan di hari berikutnya lagi, dan seterusnya. Saya mengurus E-KTP ini ketika sistem sudah berubah menjadi sistem yang ketiga ini. Saya datang mengumpulkan surat undangan pada hari Selasa, 22 November dan mendapatkan nomor di hari Senin, 28 November. Artinya, hari Senin saya harus kembali lagi ke kelurahan untuk mengurusnya (tidak perlu taruh surat dan ambil nomor lagi, cukup nunggu dipanggil).

Sistem ini dinilai yang terbaik dari yang pernah ada. Apalagi, kini kamera sudah ditambah dari dua menjadi lima kamera. Walaupun pada akhirnya tanggal ditetapkan juga dan ada kemungkinan kita berhalangan hadir di hari tersebut, setidaknya kita jadi bisa lebih bersiap-siap untuk mengambil cuti atau sebagainya, dibanding tidak ada kejelasan akan dapat nomor di hari apa seperti sistem kedua.

Di sela-sela mengantri dipanggil nomor E-KTP itu lah kita bisa duduk-duduk, ngobrol, atau makan Indomie. Itu ceritaku, apa ceritamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s