t-r-US-t

Saya teringat cerita seorang dokter yang ketika itu sedang mengisi seminar di kampus. Ibu dokter kulit dan kelamin tersebut bercerita tentang salah seorang pasien yang pernah datang kepadanya. Seorang wanita muda, datang bersama seorang wanita paruh baya yang terlihat seperti ibunya. Tak lama si wanita muda masuk ke ruang dokter, dokter tersebut menanyakan keluhan apa yang dirasakannya.

“Ibu yang di luar itu, adalah calon mertua saya” ujar si wanita muda menunjuk ke arah luar ruangan, tempat dimana si wanita paruh baya menunggunya. “Ia meminta saya datang kemari untuk cek keperawanan…”

Ibu dokter agak terkejut, namun tetap tenang. Sejurus kemudian, ia menunjuk ke arah belakang ruangan. Si wanita muda yang melihat dokter tersebut menunjuk, mengira ibu dokter menunjukkan arah tempat ruang pemeriksaan. Namun belum sempat ia beranjak, ibu dokter melanjutkan.

“Itu adalah pintu belakang dari ruang pemeriksaan saya. Kamu bisa keluar lewat situ sekarang. Buat apa, jika untuk hal seperti ini saja, ia tidak bisa mempercayai kamu dan memaksa melakukan pemeriksaan dokter. Kamu mau, seumur hidup dengan keluarga yang tidak akan pernah mempercayaimu?”

Dicintai memang menyenangkan, namun dipercaya adalah lebih indah. Ditanya memang wajar, namun dipertanyakan adalah menyakitkan.

We can’t buy love, we can’t buy trust. But there’s one more thing people unable to buy: trust from people they love.

Selamat Sore. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s