Cara-Nya

Seorang anak bermain kelereng di depan pekarangan rumahnya. Asyik sekali ia bermain, dan sangat bersemangat. Saking semangatnya, ia menyentil kelereng merah kesukaannya terlalu keras. Kelereng meluncur kencang keluar pintu rumahnya, terus meluncur sampai ke arah pekarangan rumahnya yang ditumbuhi rerumputan liar dan ilalang.

Sang anak terkejut, dan sontak berlari keluar. Ia menyibak setiap rumput mencari kelerengnya. 15 menit berlalu. Nihil. Kelereng merahnya seperti ditelan bumi. Ia mulai menangis, pelan-pelan dan makin lama makin kencang hingga sang Ibu menghampiri.

“Sudahlah, nak” si Ibu menenangkan. “Nanti Ibu bantu cari”. Si Ibu kemudian ikut mencari di pekarangan luas itu. Namun hasilnya sama. Nihil. Tak pula ditemukannya.

“Kau berdoa ya nak, minta pada Allah supaya kelerengmu ketemu” si Ibu menyarankan. Sang anak mengangguk sambil menghapus air matanya. Ia kemudian berdoa. Komat kamit. Sepenuh hati. Meminta kelerengnya kembali pada Allah.

Sore harinya, sang anak sudah bermain kembali, riang gembira. Si Ibu kemudian menghampiri dan bertanya, “Sudah ketemu kelerengnya?”. Sang anak menggeleng. Namun sambil tersenyum, nyengir.

“Belum, Bu. Tapi aku gak sedih lagi”

“Loh, kenapa?”

“Karena aku sudah gak pingin kelereng itu lagi”

Ah, ya. Ia lebih tau bagaimana menjawab doa hambaNya. Kelereng tak ditemukan, bukan berarti permintaan sang anak diabaikan. Bukan berarti perasaan hatinya tak dihiraukan. Ia ganti. Ia berikan rasa tak lagi menginginkannya. Maka hamba-hambaNya akan tetap tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s