Dua Tunggangan

Hidup itu syukur dan sabar.

Pada akhirnya, ia akan menikah. Bahagia sekali rasanya. Calon suaminya, teman lamanya saat kuliah dulu. Sarjana. Insinyur. Lulusan universitas negeri. Sudah jadi pegawai tetap di sebuah BUMN ternama. Sekarang bahkan sedang mengambil kuliah S2. Tampan dan rupawan. Tidak kalah dengan aktor-aktor di televisi. Dulu pun banyak yang memperebutkan. Ia bangga sekali. Bahagia. Teman-temannya tak henti memuji keberuntungannya. Saudara dan kerabat berdecak dan menyelamatinya. Orangtuanya bangga.

Ia jadi bersyukur.

Mereka menikah. Dua bulan setelah menikah, sang suami izin dinas keluar kota. Di tengah perjalanan, mobilnya kecelakaan. Terguling. Percikan api akibat gesekan menyambar tangki. Api menyala besar. Sang suami selamat. Namun lebih dari setengah wajahnya terbakar. Luka bakar akut. Ia bahkan nyaris tak mengenali wajahnya sendiri. Teman-temannya menampakkan wajah prihatin. Saudara dan kerabat menepuk pundaknya. Orangtuanya menguatkan.

Ia harus bersabar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s