Trip to Singapore-KL: DAY 1

It’s  been a month after the journey, but let me just tell you all our stories!

13 Januari 2012

Pagi ini masih pagi buta. Mungkin sekitar pukul 3 atau 4. Tapi setiap dari kami sudah terjaga dan siap bergegas. Pesawat take off pukul 7, dengan segala persiapan sebelumnya khas manusia tipe melankoli, maka terlambat bukanlah bagian dari rencana. Adzan Subuh berkumandang saat saya tiba di parkiran Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Setelah selesai sholat dan berpamitan dengan orangtua masing-masing, kami berkumpul dan siap masuk ke dalam Bandara.

SINGAPORE! HERE WE COME!

Pukul 7 pesawat tinggal landas. Di dalam pesawat, perasaan bergejolak. Semacam excited, penasaran, bahagia. Maklum, jarang-jarang liburan. Saya memang sering jalan-jalan keluar kota, tapi intinya untuk kerja, bukan liburan. Maka kesempatan kali ini khusus untuk liburan sangatlah berharga. Apalagi, untuk pertama kalinya sejak dibuat tahun 2009 passpor saya akan dicap. Teringat dulu saat mau buat passpor mama bertanya, “Buat apa bikin passpor?”. Lalu saya jawab, “Yaaa… gpp lah. Masa iya sih sampe 2014 gak keluar negeri sekalipun”.😀

Selang sekitar 2 jam kemudian, pesawat akhirnya mendarat di Changi Airport. Akhirnya! Akhirnya saya melihat sendiri bandara yang sejak kecil hanya saya lihat di permainan monopoli. Dan memang tak bohong cerita orang-orang tentang bandara ini, “Ini bandara apa mall yaaa”. Mengagumkan. Selagi berjalan-jalan mencari arah keluar, saya menemukan komputer free wifi bandara. Dan secara tiba-tiba saya teringat itinerary yang telah kami susun……..

Itinerary

Maka demi menjunjung tinggi dan menghargai setiap perencanaan yang telah dibuat, kami memutuskan untuk mampir dan melaksanakan rencana update status yang mulia itu.

 

 

Setelah puas membuka-buka jejaring sosial masing-masing, kami kembali melajutkan perjalanan. Saat itu, saya baru tau kalau untuk keluar dari Changi harus menaiki kendaraan bernama SkyTrain. Maka, kami kemudian menaiki SkyTrain untuk menuju stasiun MRT terdekat setelah sebelumnya mampir ke Burger King untuk sarapan (atau mungkin brunch). Tujuan kami tak lain adalah penginapan kami di Chinatown. Disitu pula pertama kali saya mengetahui tata cara pembelian tiket MRT, hehe, agak kagok awalnya namun selanjutnya ternyata sangat mudah, dan efektif.

Sambil menikmati suasana kota dan sibuk saling berbincang, tak terasa akhirnya kami tiba di stasiun Chinatown. Well, here we are!

Karena baru sekitar jam 1 siang dan kamar belum siap, maka kami melakukan early check in. Namun, bisa menitip barang-barang berat di hotel adalah anugerah tersendiri. Sehingga kami setelahnya dapat bersiap mengelilingi kota tanpa rasa repot. Lalu, kemana kita? Tujuan utama adalah menuju Merlion Park. Ibarat Monas di Jakarta atau Pantai Kuta di Bali, maka Merlion Park ini juga tujuan wajib untuk wisatawan.

Perjalanan menuju Merlion Park yang terletak di dekat kawasan Hotel One Fullerton sangat menyenangkan. Saya terkagum dengan kota yang tertata, bersih, teratur, seakan manusianya digerakkan oleh sistem. Saya terkagum dengan sistem transportasi yang cepat, efisien, yang tidak membuat warganya tua dan frustasi di jalan. Saya terkagum dengan ide dan konsep, untuk membuat kota yang sebenarnya pemandangan alamnya tidak bagus-bagus amat menjadi tetap menawan dan tidak membosankan.

Lalu sampailah kami. Ah, karon tengab mungkin (baca: norak banget), tapi saya sungguh bersyukur akhirnya bisa menjadi bagian dari wisatawan yang sumringah berfoto dengan patung singa menyembur itu.😀

Believe me, we felt good. Holiday always gives indescribable feeling.

Cukuplah bersenang-senang dengan memenuhi kamera masing-masing dengan foto sesukanya. Kami memilih melanjutkan perjalanan untuk mencari oleh-oleh. Perjalanan yang saya maksud disini ialah dalam arti kata sebenarnya. Maksudnya, ya jalan kaki. Hehehe. Maka erangan karena sakit kaki atau pegal-pegal sudah biasa diantara kami. Tapi nyatanya kami terus berjalan dan tertawa. Mungkin sakit di kaki itu hanya intermezzo.

Bugis Street adalah tempatnya. Tempat penjualan berbagai macam barang murah. Termasuk oleh-oleh mulai dari gantungan kunci hingga arloji, dari tempelan kulkas hingga tas. Lengkap. Beragam. Harga miring. Kalaplah kami.

 

Sampai sore sekali rasanya kami pilih oleh-oleh. Sampai lupa bahwa waktu makan siang sudah ke-skip. Namun ya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali #prinsip. Menjelang Magrib, kami yang kelaparan dan kepegalan mulai mengais-ngais tanda ‘halal’ di tempat-tempat makan di dalam Bugis Junction. Mungkin ada orang lain yang tak begitu peduli, ada pula yang tak berpikir sampai kesitu, tapi bagi kami mencari makanan halal itu esensi. Penting dan perlu. Lagi-lagi terkait #prinsip.

Pada akhirnya kelelahan pula yang membawa kami kembali ke hotel. Perjalanan malam ke tempat yang agak jauh kami batalkan. Diganti dengan berjalan-jalan santai di sekitar hotel yang juga menarik dan sangat ramai (maklum, Chinatown, menjelang tahun baru Cina pula). Apalagi mengingat keesokan hari ada hari yang lebih menyenangkan. Dan untuk bisa menikmatinya, kami harus sehat (semacam iklan susu ultra), maka beristirahat cukup adalah prioritas. Kami menyudahi hari dengan senyuman. Dan untuk segala tawa, obrolan, canda, dan kehangatan di hari itu, saya takkan lupa. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s