Balada I’tikaf

Ramadhan telah datang lagi. Artinya, kegiatan i’tikaf yang amat saya sukai kembali bisa digeluti. Cihiy! Rasanya gak sabar banget dari awal Ramadhan pengen segera ke 10 hari terakhir Ramadhan. Sejak kelas 3 SMA, saya biasa memulai i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Nggak, bukan i’tikaf yang 10 hari non-stop begitu sih, biasanya cuma malam-malam ganjil, datang ke masjid ketika magrib dan pulang kembali ke rumah sehabis Shubuh. Wah, begitu aja rasanya udah nikmat banget!

Bertaun-tahun saya gak bisa move on dari Masjid At-Tin. Udah saking betah dan cintanya, tiap tahun dan tiap malem pasti kesana. Salah satu hal yang bikin betah disana adalah kawasan tempat tidurnya yang terpisah dengan tempat shalat. Sehingga gak mengganggu apalagi mengotori daerah tempat shalat. Tempatnya juga luas sehingga gak perlu khawatir gak kebagian tempat. Di beberapa spot ada colokan sehingga gak perlu takut gak apdet karena tetep bisa nyalain bb. *pentung*

Kenyamanan saya di At-Tin mulai terganggu dua tahun lalu dengan tragedi wudhu. Saat wudhu menjelang Qiyamul Lail di malam ke-27, saya gak menyangka akan terjadi kepadatan parah antara antrian wanita yang sudah selesai berwudhu dan ingin naik ke atas dengan antrian jamaah pria yang ingin menuju tempat wudhu pria. Kondisinya, wanita ingin berjalan dari kanan ke kiri sedangkan di tempat dan waktu yang sama jamaah pria berjalan dari belakang ke depan. Nah, tubrukan deh semuanya! Hff.

Maka, tahun esoknya saya mulai mencari masjid-masjid lain sebagai tempat i’tikaf. Setelah tanya sana-sini, saya mulai mencoba i’tikaf di Masjid Baitul Ihsan alias Masjid BI. Huidiiih…. mesjidnya ber-AC, bukan angin cepoi-cepoi seperti di At-Tin. Hehehe. Ruangannya pun indoor dan terletak di lantai basement bawah dan dekat tempat wudhu. Ada layar besar dan sound yang mumpuni untuk menghubungkan kita dengan jamaah pria di atas. So far, tempat ini lumayan oke. Qiyamul Lail nya pun 3 juz selama sekitar 2,5 jam. Mantep banget deh. Cuma, ada beberapa hal yang mengganggu disini. Pertama, AC-nya terlalu dingin. Pada akhirnya, pulang-pulang saya pilek walau sudah pakai jaket. Kedua, karena tempat yang terbatas, maka tempat untuk shalat juga sekaligus tempat untuk tidur dan makan. Saya gak suka banget yang kayak gini. Karena kalo menurut saya sih….harusnya tempat shalat itu jangan sampe dikotori. Ketiga, WC-nya dikit amaaaaatttt! Untuk ukuran jamaah yang membludak, WC yang hanya ada sekitar 4 bilik ini benar-benar menguji keimanan dan kesabaran.

Seorang teman lalu memberikan rekomendasi tempat baru: Masjid Sunda Kelapa. Saya langsung tanya ke hal yang sensitif: WC nya gimana nih? Ternyata, WC nya banyak dan berlimpah! Wah, patut dicoba nih. Maka jadilah tahun ini di malam ke-22 saya mencoba i’tikaf di Masjid Sunda Kelapa. Konsepnya mirip seperti Masjid BI, ruangannya indoor, ada screen dan sound untuk menghubungkan dengan jamaah pria dan tempat shalat yang bergabung dengan tempat tidur dan makan. Cobaan tahun lalu berupa WC tertolong di masjid ini, WC nya memang cukup banyak dan bersih. Tapi, Allah sepertinya memberi tantangan lain bagi i’tikaf saya kali ini: ibu-ibu!

Bergabung bersama ibu-ibu yang bisa dikatakan umurnya sudah menengah ke atas memang membutuhkan kesabaran ekstra. Apalagi, kemarin saya menempati shaf belakang yang dekat dengan kumpulan ibu-ibu lansia serta manula yang tidak bisa shalat berdiri. Pada dasarnya saya menghargai dan mengagumi semangat beliau-beliau yang masih mau repot-repot i’tikaf di masjid seramai dan sedingin ini. Dengan fisik tuanya, padahal mungkin mereka lebih nyaman beribadah di rumah bersama anak cucu. Setelah diingat-ingat, ternyata banyak juga pengalaman saya yang “berkesan” dengan para kaum ibu selama i’tikaf.

Ibu-ibu selalu berniat baik walau kadang caranya kurang tepat. Seorang ibu yang begitu perhatian pada kesempurnaan shaf shalat menjadi terlihat begitu arogan dengan meneriaki setiap orang yang baru masuk masjid untuk memberi tahu di tempat mana mereka harus shalat. Jadi, di sela-sela shalat tarawih, saya pasti mendengar teriakan-teriakan membahana semacam “Ibu! Sana tuh deket layar kanan!”, “Mbak! Kosong itu di kiri depan!”, atau “Yang rapet shafnya! Dosa kita dosa kalo gak rapet!”. Walaupun saya pendukung lurus dan rapinya shaf ketika shalat, saya agak ciut juga dengan ibu ini. Abis kayak lagi diospek. Mana beliau gak jauh lagi tempatnya dari tempat saya. Ketika 2 orang sebelah saya pergi begitu aja saat tarawih belum selesai, saya jadi takut. Saya takut si ibu melihat shaf yang jadi renggang trus ngebentak-bentak saya. –”

Pada saat shalat telah selesai, saya ingin men-charge hp di colokan yang terletak di belakang masjid. Kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat saya shalat. Ketika beum sampai 2 menit nge-charge, ada seorang ibu-ibu membawa water heater besar dengan air penuh menghampiri saya yang ada di dekat colokan.

“Mbak, saya ganti ya mau masak air, sebentar kok!” ujar si ibu sambil segera ingin mencabut charger saya.

“Oh, sebentar bu. Saya bawa kaki tiga kok”, kata saya sambil senyum sambil menuju tempat shalat saya.

Beberapa detik kemudian, saya sudah kembali ke colokan sambil membawa colokan kaki tiga. Maksudnya, biar semua hepi dan bisa menggunakan colokan bersama-sama. Toh ga ada yang dirugiin kan?

“Gak usah pake gituan mbak! Udah saya aja duluan sebentar kok!”, tiba-tiba si ibu mencabut charger saya dan langsung menggantinya dengan colokan air panasnya. Tanpa peduli dengan keperluan saya, si ibu langsung menuju ibu-ibu lainnya untuk mengobrol.

What the %&$#%$#$#%$. Apa salahnya sih berbagi dengan orang lain?? Kenapa susah amat cari solusi yang sama-sama enak sih?? Sabar….sabar…..orang sabar disayang mertua. Ya istighfar aja dalam hati sambil nyabar-nyabarin diri.

Sewaktu membeli makan sahur juga bisa menjadi ajang latih kesabaran. Pada suatu malam, saya mengantri di tukang soto untuk sahur. Saat itu, tempat makan penuh dengan jamaah yang juga ingin makan sahur. Karena si bapak soto melayani pembeli cuma berdua dengan istrinya, maka saya bersabar menunggu giliran. Pada saat antrian saya, mangkuk soto yang sudah siap diserahkan oleh si bapak kepada saya mendadak direbut oleh seorang ibu-ibu. Tanpa peduli, dia langsung mengambil alih mangkuk sambil berkata, “Udah sini saya duluan ini sotonya buat anak saya!” . Hellloooooo~

Sebuah konsep sayang anak yang kebablasan. Lagi-lagi saya cuma nyabar-nyabarin diri aja. Gak ada gunanya berantem ama ibu-ibu di bulan Ramadhan begini. Kalo dipikir-pikir, kok ya lucu, pas shalat khusyuknya minta ampun, do’a panjang, dzikir gak berenti, air mata berderai-derai, eeeehhh selesai shalat dan berbaur dalam masyarakat, kok ya kayak gak keliatan “bekas” shalatnya?? Bukannya shalat itu pencegah perbuatan keji dan munkar ya? Termasuk berbuat dzalim terhadap manusia lain di masyarakat. Hmmm…..

Bicara antrian, memang jangan coba-coba ngelawan ibu-ibu. Ngantri di WC misalnya. Beeeuuuhh…. Taruh aja di kepala prinsip bahwa yang tua harus dihormati. Udah. Itu aja. Gak usah inget ada prinsip yang tua harus menyayangi yang muda. Pada saat di At-Tin, saya lebih sering menahan pipis dibanding harus ikut antrian yang panjangnya gak kira-kira. Diantara panjang antrian itu, belum lagi adegan nyelak-nyelak yang biasanya disponsori oleh kaum ibu. Saya berusaha maklum, kemampuan menahan pipis antara anak muda dan orang tua kan beda. Mungkin hal itulah yang menyebabkan mereka terpaksa melakukan hal-hal yang melanggar norma kesopanan yang berlaku di masyarakat. Bahkan, ketika sudah tak sanggup lagi mengantri, seorang ibu pernah pipis di tempat wudhu! Kontan, orang-orang di sekitar shock. Tapi mau diapain lagi?? Toh si ibu juga cuek bebek menjalankan aktivitasnya itu. Saya juga shock. Walau dalem hati rasanya teriak, “Ibu, kalo gak tahan pipis, Y U NO ITIKAF DI RUMAH AJA??”. Tapi yasudahlah. Mungkin memang ini jalannya.

Terkadang, untuk menyenang-nyenangkan hati, saya membesarkan hati dengan bilang ke diri sendiri, “Anggep aja ini latihan kalo naik haji!”. Hihihi. Latihan untuk sabar, latihan untuk gak komen terhadap orang-orang yang kelakuannya semua ada di sini. Walau bagaimanapun, jangan sampai hal-hal teknis seperti ini mengganggu kekhusyuan ibadah dan i’tikaf kita. Itu sebabnya, tahun ini, setiap malam selain malam ke-22 saya selalu i’tikaf di Masjid UI. Memang tidak sempurna, tapi setidaknya disini lebih menunjang untuk ketenangan ibadah. Lebih banyak anak muda, peserta i’tikaf yang sedikit sehingga kamar mandi tidak perlu ngantri, waktu Qiyamul Lail yang pas sehingga bisa mengakhirkan sahur, plus bisa sekaligus bernostalgia masa-masa lalu saat menjadi mahasiswa di masjid ini #eeaaa.

Nah, berhubung bulan Ramadhan akan usai dalam beberapa jam lagi, maka mari kita berdo’a semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dan beri’tikaf lagi di tahun-tahun selanjutnya. Aamiin.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s