Selintasan Episode

Momen bulan Ramadhan sampai hari ini memberikan kesan dan makna yang teramat dalam bagi saya. Memasuki bulan Ramadhan, segala macam rasa akan harapan, optimisme, kedekatan, ketenangan, dan keyakinan menumpuk jadi satu. Inilah bulan itu! Bulan dimana waktu mustajabnya do’a berlimpah ruah, bulan dimana amal-amal ganjarannya dilipatgandakan. Siapa yang tak mau? Siapa yang tak percaya?

Maka saya pun bersemangat. Sudah penuh rasanya kepala ini dengan segala permohonan dan pinta. Permintaan-permintaan utama pun sudah diatur menjadi prioritas do’a setiap saat. Sekarang saatnya, meminta apa yang ingin diminta. Memohon, sekeras dan sebisanya. Bukankah Allah itu Maha Pengabul Do’a? Saya percaya. Dan saya tak pernah berhenti percaya.

Dua puluh sembilan hari berlalu.

Saya merasa puas. Saya merasa telah memberikan yang “terbaik” dalam bulan Ramadhan kali ini. Dan segala keyakinan akan kerasnya usaha saya selama bulan Ramadhan menggiring saya pada suatu lintasan dugaan dalam pikiran: terkabulnya do’a. Maka saya menunggu hasil dari semua do’a. Berharap dalam keyakinan. Yakin dalam harapan. Lama kelamaan, satu per satu pinta-pinta saya mulai memperlihatkan jawaban. Setelah dua puluh sembilan hari di bulan suci, ditambah hari-hari lainnya di luar itu, setelah semua do’a terucap tanpa terlupa, setelah semua sedekah dalam jumlah tak masuk akal, setelah semuanya….. Saya mendapatkan jawabannya: TIDAK.

Akan setiap ketetapan-Nya, saya membiasakan diri tidak berprasangka buruk. Di dalam hati, saya meyakini bahwa ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Kecewa hanya bagi mereka yang tak percaya. Kecewa hanya bagi mereka yang menggantungkan harap pada sesama hamba. Mungkin bukan disini, mungkin tidak sekarang. Dan hidup kemudian harus melaju seperti biasa. Waktu tidak berhenti karena kita tidak siap atau marah. Saya hanya meyakini, mungkin Allah menyuruh saya mengambil hadiah di atas sana. Maka saya naik, walau anak tangga ini licin dan curam.

Kemudian saya tak pernah berhenti untuk percaya. Hanya saja, saya belajar merubah pola pikir. Bahwa sejatinya berdo’a bukan sekadar jawaban YA atau TIDAK akan pinta-pinta kita. Berdo’a mengajak kita mendekat, memasrah, menerima. Dan sesudah itu, ya atau tidak adalah sama saja. Ketenangan hati dan kelapangan menerimanya adalah yang lebih utama.

Setelah itu, semua berjalan seperti biasa. Saya masih menunggu hasil dari do’a-do’a lainnya. Sampai pada saatnya, Allah mengganti keinginan saya. ¬†Sampai pada waktunya, saya menemukan hal lain untuk dipinta. Saya merasa, mungkin Allah ingin mengabulkan do’a saya dengan jalan ‘menggantinya dengan yang lebih baik’. Ah ya, siapa yang tidak ingin diganti dengan yang lebih baik? Saya masih percaya. Ada yang lebih baik dari apa yang pernah dipinta. Lalu saya kembali berdo’a.

Namun apa yang terjadi? Saya kalah dan dikalahkan. Saya memilih mengalah dan kemudian kalah. Pada intinya keinginan saya kali ini pun mungkin bukan yang terbaik dari apa yang ingin saya capai. Saat itu saya cukup goyah. Bukan goyah untuk tak percaya, namun goyah untuk kemudian kembali bermimpi dan merangkai keinginan.

Mungkin ini satu anak tangga lagi. Maka saya harus naik, walau anak tangga kali ini menyisakan kerikil tajam dan duri di telapak. Bila begini, lebih baik berdarah-darah asalkan bisa naik. Karena sesuatu yang berharga tidak bisa dicapai dengan mudah dan tanpa usaha. Alam mengajarkan, mutiara letaknya di dasar laut. Hanya ada kulit kerang dan karang di pinggir pantai.

Pengalaman kali inipun memberikan rasa yang berbeda pada saya. Saya jadi lebih pasrah. Saya seakan sudah berdiri di satu anak tangga dan tidak tahu masih sepanjang apa jalan yang harus ditempuh. Masih berapa anak tangga lagi? Masih banyak atau bagaimana? Apa semuanya curam dan sulit dinaiki? Berbagai pertanyaan menghantui. Walau semua tak ada yang tahu jawabannya. Satu-satunya cara untuk mengetahui jawabannya adalah dengan menjalaninya. Apapun, bagaimanapun, jika itu memang jalan yang harus ditempuh; jalanilah. Kita hanya makhluk, satu-satunya pilihan yang meneguhkan kedudukan kita adalah menjalani apa yang ditetapkan Sang Pencipta. Biarkan terjadi apa yang seharusnya terjadi. Pasrahkan, ikhlaskan.

Dan yakini, bahwa Allah takkan menyakiti hamba-Nya. Maka apapun yang menimpa kita, bisa jadi adalah skenario terbaik dari ribuan kemungkinan lainnya dalam hidup. Pun jika kita diperlihatkan kesemua resiko dan dampak dari pilihan-pilihan itu, kita akan tetap memilih skenario yang ini, yang sedang dijalani sekarang. Berprasangka baiklah, maka semua akan indah dalam perspektif yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s