Sebuah Cerita Penuh Cinta

Beberapa minggu ke belakang, saya dan beberapa teman memiliki kegiatan baru yakni mengunjungi sebuah panti di bilangan Cimanggis. Kunjungan pertama sebenarnya saya datangi dalam rangka menyalurkan sedekah lewat gerakan Sedekah Brutal-nya Alumni FSI FEUI. Selanjutnya, saya sering mengunjungi sendiri walau tanpa agenda apa-apa.

Panti yang kami kunjungi bernama Wisma Tuna Ganda Palsigunung. Dari namanya saja sudah terlihat, panti ini menampung mereka-mereka yang menderita cacat lebih dari satu. Sejauh yang saya tau selama disana, paling sedikit mereka memiliki dua jenis cacat dan paling banyak tujuh jenis cacat. Panti ini didirikan sejak tahun 1975 dan masih bertahan sampai saat ini dengan bantuan banyak pihak. Alhamdulillah, sepertinya pihak panti tidak pernah terlalu kekurangan materi. Maka, tujuan kami kesana pun bukan untuk memberi bantuan materi, tapi sekadar berbagi kasih sayang, pelukan, tawa, dan keceriaan.

Panti ini menampung sekitar 30 orang dengan kondisi yang beragam. Setiap hari pun mereka diterapi oleh para therapist sesuai kemampuannya. Ada yang mampu didik, ada yang mampu latih, dan yang paling banyak adalah yang hanya mampu rawat. Mayoritas dari mereka adalah cacat sejak lahir. Yang mengiris hati, banyak diantara mereka yang cacat karena percobaan aborsi berkali-kali oleh ibunya. Ada pula yang dibuang di tempat sampah rumah sakit. Ada yang diserahkan ke panti karena orangtuanya tidak sanggup lagi merawatnya. Apapun, mereka adalah pihak yang kehilangan kasih sayang orang-orang terdekatnya, ditambah ditakdirkan hidup dengan berbagai keterbatasan.

Penghuni panti mayoritas adalah “penghuni tetap”. Ada yang sudah 5 tahun, ada yang 10 tahun, ada yang 20 tahun, bahkan ada yang sudah tinggal disana sejak panti didirikan. Kalaupun mereka keluar panti, kemungkinan kecilnya ialah diadopsi dan diambil kembali oleh keluarganya, kemungkinan besarnya ialah meninggal dunia.

Nah, ini foto beberapa penghuni panti yang paling sering kami ajak main:

My Little Angels

Mayoritas menderita kerusakan otak dan keterbelakangan mental

Anak-anak yang paling sering kami ajak main biasanya hanya yang menderita maksimal 3 cacat. Setidaknya, mereka masih bisa merespon orang lain. Sedangkan yang menderita 4 cacat lebih, biasanya hanya kami sapa dan genggam tangannya. Walau mereka tidak bisa merespon atau berkata apa-apa, kami yakin dia merasa. Setidaknya, dia jadi tahu bahwa dia sedang tidak sendiri. Bayangkan seseorang yang menderita kerusakan otak, keterbelakangan mental, tuna netra, tuna wicara, tuna rungu, lumpuh, dan hedrocepalus dalam satu tubuh. Membelainya artinya menguatkan mereka dan juga menguatkan diri sendiri.

Untuk yang masih bisa merespon, kami memperlakukannya sesuai kemampuan yang mereka miliki. Yang bisa baca kami belikan buku, yang tidak bisa baca kami belikan buku yang banyak gambarnya. Agar dia setidaknya bisa melihat “dunia luar”, atau setidaknya dia jadi melihat sesuatu yang baru yang tidak ada di dalam panti, atau setidaknya mereka jadi tersenyum dan tertawa-tawa walau tidak mengerti apa yang dipegangnya. Berikut adalah aktivitas yang biasa kami lakukan selama di panti:

Nggelosor di ruang tv

Ngebacain buku

Foto-foto

Setiap kali bertemu mereka, nggak ada rasa lain kecuali damai dan tenang. Walau anak-anak ini memiliki banyak keterbatasan, saya yakin Allah menitipkan kebaikan yang banyak bagi mereka. Dari mereka, kita belajar tentang rasa bersyukur. Kita belajar tentang penerimaan dan kesabaran. Kita belajar tentang kepedulian. Kita belajar tentang apa yang terasa, bukan hanya yang terlihat atau terdengar.

Ibu-ibu pengurus panti pun bagaikan malaikat tak bersayap. Kesabaran dan ketelatenannya patut diacungi jempol. Mengurus anak-anak yang bukan anaknya sendiri, yang terkadang menyulut emosi karena memang tidak bisa diatur, diperintah, atau diminta pengertiannya. Dari mereka kita belajar membagi rasa cinta kepada sesama. Insya Allah tidak akan habis, malah akan semakin banyak.

Nah, demikian cerita saya kali ini tentang panti. Mohon doanya semoga saya dan teman-teman diberi keistiqomahan dan kelapangan waktu untuk selalu mengunjungi dan menyayangi mereka.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s