A Forest Story

Alkisah, di suatu hutan di tepi gunung yang jauh sekali, hiduplah seorang gadis penyanyi dan penari. Seorang gadis periang yang siap menghibur siapa saja yang hatinya sedang sedih, siap menyanyi untuk kembali menenangkan hati. Gadis ini disukai oleh makhluk-makhluk hutan; burung-burung yang hinggap di pohon, binatang yang mencari makan di dalam hutan, para ikan yang hidup di danau, semuanya. Siapalah yang tak suka pada yang periang, keberadaannya membawa tawa dan ceria, menghibur siapa saja dengan nyanyian dan tarian.

Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda dari negeri yang jauh. Ia tak sengaja memasuki hutan tempat tinggal si gadis dalam suatu perjalanannya. Entah bagaimana awalnya, mereka akhirnya bertemu. Si pemuda baru kali ini menemukan seorang gadis yang begitu pandai menyanyi dan menari. Setiap mendengar nyanyiannya, ia seakan dibawa ke sebuah dimensi kehidupan baru; tersemangati, tergugah, bahkan tersenyum dan tertawa bersamanya. Nyanyiannya mampu menenangkan hatinya yang ternyata sedang risau. Tariannya mampu menyenangkan hatinya yang selama ini diam tak bisa bercerita.

Maka sang pemuda lebih sering meluangkan waktu untuk datang ke hutan. Ia kembali datang dan mendengar nyanyian si gadis, bersama burung-burung dan hewan lainnya, atau bahkan sendiri ketika burung-burung telah kembali ke sarangnya. Nyanyian sang gadis tetap sama. Indah, menceriakan, membahagiakan, menyamankan hati dan perasaan.

Lalu bagaimana dengan si gadis?

Ah ya. Tentu saja ia bahagia bisa menghibur dengan nyanyian dan tariannya. Apalah yang lebih menyenangkan daripada berbagi keceriaan. Ia pun senang bisa mendapat teman baru di dalam hutannya. Seseorang yang baru. Yang sedikit banyak memberi warna warni baru dalam tiap nyanyian dan tariannya.

Apalah yang bisa kita terka, dari sebuah kisah pertemuan yang terus menerus, dari sebuah perhatian-perhatian yang menyentuh sisi perasaan. Sang gadis jatuh hati. Hutannya menjadi terlihat lebih indah, nyanyiannya terdengar lebih merdu, udara, angin, matahari, semua terlihat lebih segar dan bercahaya. Semua! Dunianya menjadi lebih hidup; hangat dan menghangatkan. Begitulah dampak tak logis dari sesuatu yang berasal dari hal yang juga tak berlogika.

Ketika kau mencintai, maka kau akan memutuskan untuk memberi. Begitu pulalah sang gadis. Ia kemudian menyiapkan nyanyian-nyanyian yang indah tentang cinta. Tentang perasaannya, tentang rasa sayangnya, tentang hatinya. Biarlah nanti ketika si pemuda datang lagi, ia sudah siap dengan apa yang hendak diungkapkannya lewat nyanyian.

Tak perlu menunggu lama, si pemuda kemudian datang lagi menemui si gadis penyanyi dan penari. Namun hari ini ia terlihat berbeda dari biasanya. Seperti ada yang berat membebani pikirannya. Maka ia urung bernyanyi, ia ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Maka berceritalah si pemuda, bahwa tujuannya datang ke hutan selama ini tak lain adalah karena ia mencintai seorang peri hutan. Peri hutan tercantik yang ada di dalam sana. Namun ia risau dan ragu, maka ia tak pernah berani menemui peri hutan itu. Ia memutuskan pergi ke tepi hutan, menemui si gadis penyanyi dan penari, berharap mendapatkan kekuatan, keberanian, dan ketenangan dari nyanyian si gadis.

Ah. Tentu kita telah bisa menebak apa yang kemudian terjadi. Nyanyian-nyanyian tentang cinta itu takkan pernah ada. Ia selesai sebelum dimulai. Si gadis menguburnya dalam-dalam, membiarkannya terbuang dan tenggelam. Apalah yang bisa ia harapkan dari lirik yang tak pernah bisa dinyanyikan. Hilang. Semua mendadak dipaksa hilang dan terbang. Tak apa. Ia hanya menyangka ia mungkin telah menemukan siapa yang ia cari selama ini. Namun ternyata ia salah, ia masih harus menunggu lagi. Selama ini, ia hanya salah menilai. Siapalah ia dibanding si peri hutan.

Ketika kau memutuskan untuk mencinta, maka kau akan memulai untuk memberi. Maka si gadis mengganti nyanyiannya dengan nyanyian tentang peri hutan. Nyanyiannya tetap merdu, tetap indah, tetap ceria. Ia memutuskan berbahagia untuknya. Ia memutuskan melupakan apa yang belum diperjuangkan. Ia tahu ia bisa menenangkan, walau tak bisa memenangkan.

Tapi rasa ini bukan soal menang atau kalah. Ini tentang mengambil kesempatan atau mempersilakan. Kesempatan baginya hanya angan, maka ia memutuskan untuk mempersilakan. Mungkin dengan berkorban, ia merasa telah mendapat kesempatan itu, kesempatan untuk memberi. Apalah yang lebih indah selain memberi kebahagiaan.

Ia hanyalah gadis penyanyi, takkan ada yang mau mendengar nyanyian sendu dan tarian lesu. Ia boleh saja merasakan kesedihan dan kekecewaan, tapi siapa mau peduli. Ia tetap harus menebar senyuman kebahagiaan. Maka simpanlah kesedihan untuk sendiri saja, ketika si pemuda telah pulang ke negerinya, ketika hewan dan burung-burung telah kembali ke sarangnya.

Ada pelajaran tentang rasa, bahwa terkadang ia tak selamanya bisa berjalan sesuai yang diharapkan. Inilah kehidupan, dimana meninggalkan adalah juga bagian dari perjuangan. Kau boleh katakan itu kebodohan. Tapi ini tentang pilihan. Entah apakah ada pilihan yang salah atau yang benar. Yang jelas, yang ada adalah pilihan yang dipertanggungjawabkan. Pun bila waktunya tepat, melangkah maju akan menjadi bagian dari memperjuangkan. Semua akan ada waktunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s