Tentang Ketetapan

Mengamati keseluruhan hidup manusia adalah menarik. Sebab ia hidup tak hanya berdasarkan akal dan rasional. Manusia berusaha, bekerja, berupaya, dan berdo’a. Lihatlah, betapa unsur-unsur kemanusiaan pada akhirnya bertemu dengan titik ketuhanan. Kepasrahan. Manusia menjalani perannya di dunia, menjalani kehidupannya, adalah untuk menjalani suatu ketetapan. Sungguh menarik.

Ketetapan itulah yang kita sebut dengan takdir.

Memang, percaya pada takdir bukan berarti bermalas-malas dan enggan berusaha. Percaya pada takdir juga tak berarti diam tanpa melakukan apa-apa. Takdir adalah sesuatu yang amat rahasia. Amat tersembunyi. Bahkan manusia pun tidak pernah tau takdirnya sendiri sebelum itu terjadi. Maka Allah berikan kesempatan hamba-Nya untuk memperjuangkan takdirnya.

Tapi sungguh intinya bukan disitu. Bila kita meletakkan urutan-urutan prioritas, ketetapan-Nya ada di urutan paling atas. Mutlak. Tak diganggu gugat. Unsur-unsur manusiawi kita untuk berusaha dan bekerja ada satu tingkat di bawahnya. Di tengah-tengah antara keduanya, ada do’a.

Telah jelaslah bahwa ketetapan-Nya adalah prioritas nomor satu. Lalu buat apa berusaha jika semua telah ditetapkan? Karena memang hanya disitulah ranah kita terhadap takdir. Kita tidak bisa menerka, apalagi memaksa. Ranah kita adalah ranah usaha. Amal. Beramal-lah, lalu berharaplah Allah suka. Sesederhana itu.

Lalu kita bisa memperkuat usaha-usaha dengan lantunan do’a. Do’a-do’a yang menembus langit, bisa jadi membuat takdir menjadi berubah. Seorang ‘alim pernah berkata, kita bisa berpindah dari satu takdir ke takdir lainnya, dengan takdir-Nya juga. Tidak usahlah dipusingkan soal ini. Sebab pada dasarnya, hak prerogatif penentuan takdir hanya ada pada-Nya saja.

Lalu harus bagaimana kah menghadapi takdir? Permasalahannya tidak semua takdir indah di mata manusia. Tidak semua takdir manis dirasa manusia. Ah, tentu kita banyak tahu akan berbagai cobaan hidup orang-orang di sekitar kita. Ada yang belasan tahun menikah belum juga dikaruniai anak, ada yang usia berbilang tiga puluh belum juga bertemu jodoh, ada yang sudah menikah lalu menyesal dengan pilihannya, ada yang bercerai, ada yang ditinggal cerai orangtuanya, ada yang ditinggal mati, ada yang mati muda…. Maka sungguh cara termudah menghadapi takdir apapun adalah dengan menjalaninya.

Kita diberi dua bekal dalam menghadapi kehidupan: syukur dan sabar. Keduanya mulia. Bersyukurlah. Sungguh kita telah dijanjikan; bahwa dengannya hanya akan menambah kenikmatan. Bersabarlah. Sungguh para Nabi dan orang terdahulu telah membuktikan, tak ada kesabaran yang berbuah kesedihan. Fashbir lihukmi rabbika. Maka bersabarlah kamu terhadap ketetapan Tuhanmu. Maka jalani saja. Allah lebih tau kemampuan kita. Allah punya takaran untuk masing-masing manusia. Tak akan tertukar.

Jadi, mungkin benar kata orang-orang, jika menghadapi ketetapan yang (menurut kita) tidak enak; janganlah sedih, jangan menangis, jangan kecewa… Tapi di atas semua itu yang lebih penting ialah janganlah mati dalam keadaan berburuk sangka pada Allah. Jalani saja. Lalu mohonlah agar kita tidak ditinggal sendiri, agar Ia selalu menemani. Maka urusan itu tidak akan terlalu sulit.

Ini sudah cukup panjang. Marilah kita selalu memohon agar diberi pemahaman yang lurus akan kehidupan dan ketetapan. Sesederhana itu. Dan yakinlah, bahwa Allah tidak akan menyakiti hati orang-orang yang beriman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s