Pergi

 

Sore ini terasa berbeda. Padahal, entah apa yang membuatnya berbeda. Ini tempat yang sama yang telah ratusan kali mereka singgahi. Rumput-rumputnya sama, bunga-bunga warna warni  nya sama, kursi tamannya sama, ayunan dari karet tebalnya sama, bahkan bunyi deritnya masih sama. Angin sejuk yang mengalir semilir pun sama. Entah, namun sore ini berbeda.

“Jadi kenapa kamu pergi?”

Pertanyaan nya pun masih sama. Mungkin telah puluhan kali pertanyaan itu terucap tanpa mendapat jawaban. Yang ditanya masih diam seribu bahasa, mengayunkan dirinya di atas ayunan dari karet tebal yang berderit-derit setiap kali tubuhnya melaju. Sepuluh tahun yang lalu, deritnya belum sekeras ini.

Langit terlihat semakin menghitam. Awan-awan gemuk seakan tak kuat lagi menampung jutaan liter air yang siap ditumpahkan ke bumi. Perlahan, titik-titiknya mulai jatuh membasahi taman itu. Sang gadis menghela nafas. Mengusap dahinya yang mulai kejatuhan rintik air dari atas. Menatap lamat sang penanya yang sedari tadi sabar menanti kata darinya,

“Aku mencari janji kehidupan yang lebih baik”.

 

☼ ☼ ☼

Pagi ini Rasya sudah siap. Ia sudah bangun sejak pagi-pagi buta. Mempersiapkan kebutuhan-kebutuhannya. Memastikan tak akan ada lagi barang yang tertinggal. Koper besar sudah teronggok di sudut kamarnya, dokumen-dokumen penting telah ia pisahkan dalam tas kecil yang siap dibawa, passpor, visa, kartu kredit, uang, dan beberapa kartu lainnya telah siap berjejal dalam dompet besar beludrunya. Ia telah siap.

Perlahan ia menuruni tangga rumahnya. Sedikit kerepotan membawa koper besarnya sendirian. Sambil mengusap peluh, di lantai bawah ia kembali memastikan tak ada barang yang ketinggalan atau hal-hal lain yang terlupakan. Ia menyapukan pandangan ke ruang tamu rumahnya yang sederhana namun apik. Ah, matanya terasa panas ketika pandangannya tertumbuk pada foto kedua orangtuanya yang tergantung kokoh di tengah atas sana. Ia terburu mengusap matanya. Tidak ada waktu untuk bernostalgia.

Tatapannya sendu mengamati keseluruhan rumahnya. Empat tahun sudah ia tinggal sendiri disana. Menolak ajakan sanak saudara yang berbaik hati menawarkan untuk tinggal bersama. Tidak, ini rumahnya. Ia mau tinggal sendiri disini walau sendiri. Sungguh ia berkeras hati untuk hal ini. Sekarang ia akan pergi meninggalkan rumah yang telah lebih dari dua puluh tahun menemaninya. Entah sampai kapan. Mungkin selamanya.

Derum halus mesin taksi yang telah menunggunya sejak lima belas menit yang lalu menyambutnya di halaman depan. Pak supir separuh baya itu dengan sigap mengambil alih koper dan memindahkannya ke bagasi belakang. Rasya masuk ke bagian belakang taksi dengan diam.

“Bandara mbak?” bapak supir taksi bertanya sopan.

“Ya pak, tapi kita mampir dulu ke Masjid An-Nuur” jawab Rasya sembari memberi secarik kertas yang berisikan alamat lengkap masjid tersebut.

Pak supir taksi mengangguk. Masjid itu tidak jauh letaknya dari sini. Sepuluh lima belas menit juga bisa sampai.

Taksi perlahan berjalan meninggalkan rumah Rasya dan semua kenangannya disana. Rasya tetap terdiam di bangku belakang. Pikirannya berkelana. Menyusun satu demi satu cerita yang membawanya sampai kesini, sampai kepada keputusan ini.

“Gak bisa dong, Sya. Gak bisa! Kamu gila apa?? Kamu kan tahu besoknya itu aku….”

“Tiketnya mahal, Dim. Lagipula aku harus secepatnya berada di sana….”

Perdebatan dua minggu lalu terngiang kembali di benaknya. Ia masih ingat semuanya. Bahkan rasa sesak dan susah payahnya ia mengambil alasan ia masih sangat ingat.

“Kamu tuh gak bakat bohong. Jelas-jelas semua biaya penerbangan kamu akan diganti sama beasiswa. Ya Tuhan, Sya. Apa sulitnya sih mundurin keberangkatan kamu, sehari aja?”

Rasya menunduk. Sejujurnya ini bukan masalah mahal atau murah. Atau kapan ia harus berada di negara barunya tersebut. Toh kuliahnya juga baru akan dimulai pekan depan.

“Please, Sya. Please…. Aku gak mau kamu gak dateng. Kamu kenapa sih??”

Rasya terdiam, tetap menunduk. Kamu kenapa? Ah.

“Sya, aku mohon. Aku mohon kamu dateng. Setidaknya itu aja permohonan aku sebelum kamu pergi…”

Suara itu sekarang terdengar lebih merendah. Rasya mendengar nada nyaris putus asa dari pinta tersebut. Ia diam.

Pada akhirnya hatinya memutuskan. Ia menunda keberangkatannya, memundurkan jadwal penerbangannya satu hari. Ia tak pernah sampai hati untuk menolak Dimas. Sebenarnya semuanya memang telah ia atur. Ia tak mungkin lupa bahwa hari ini adalah hari spesial sahabatnya tersebut. Justru karena ia sangat ingat, ia sengaja mengatur jadwal kepergiannya satu hari sebelum hari itu tiba.

“Mbak, sudah sampai.” teguran bapak supir taksi membuyarkan lamunannya.

Rasya terkesiap. Memandang sejenak ke luar. Masjid An-Nuur yang megah telah berada di hadapannya. Janur kuning melengkung indah di depan gerbangnya yang kokoh. Setelah meminta bapak supir menunggu, perlahan Rasya turun dari taksi.

Sambil menarik napas panjang, Rasya menaiki tangga pualam masjid. Lantai masjid yang dingin menelusuk masuk sampai ke hatinya. Perlahan ia masuk ke ruang utama tempat diberlangsungkannya acara tersebut. Menyalami ibu Dimas dan adik-adiknya yang menyapanya ramah. Tersenyum kecil kepada sang calon pengantin wanita yang selalu terlihat cantik dalam kondisi apapun. Sejenak Rasya melayangkan pandangannya. Ah, itu dia. Dimas ada di seberang sana. Seakan sadar akan kehadiran Rasya, Dimas membalas pandangannya, tersenyum dalam gugupnya seakan berkata, “Makasih Sya kamu hadir.”. Rasya membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian memilih duduk di pinggir menjauh dari pihak keluarga.

Bunyi mikrofon yang dinyalakan menggemakan ruangan. “Tes…tes….” sang pembawa acara mencoba sound system. Tanda bahwa acara sebentar lagi akan segera dimulai. Rasya kembali tertunduk. Benaknya melayang pada masa-masa itu.

Masa awal mereka berkenalan. Masuk sekolah yang sama. Berada di kelas yang sama. Bersahabat. Mengikuti bimbingan belajar yang sama. Makan bakso pedas nyaris setiap hari di depan sekolah. Rasya menertawai Dimas yang tidak bisa pakai sumpit. Dimas meledek Rasya yang sering menumpahkan saus ke seragamnya.

Penghulu mulai maju. Para keluarga juga mulai bersiap mengambil posisi masing-masing. Dimas terlihat lebih gugup sambil terus berdzikir seperti kebiasaannya. Para hadirin yang tadinya mengobrol sendiri-sendiri mulai menghentikan obrolan dan menatap khidmat ke arah depan.

Kemudian tibalah masa-masa itu. Rasya dan Dimas berteriak kegirangan membaca hasilnya di koran. Mereka berdua diterima di perguruan tinggi negeri. Universitas idaman. Jadi anak kuliahan. Kelelahan bersama karena pulang pergi selama kuliah. Ikut organisasi yang sama. Rasya yang menemani Dimas sewaktu ia dirawat di rumah sakit karena tifus. Dimas yang menemani Rasya begadang di perpustakaan kampus sewaktu mempersiapkan sidang akhir.

Pihak keluarga maju dan memberi sambutan. Pesan-pesan dan nasihat tentang harus seperti apa sebuah pernikahan berjalan. Wejangan-wejangan kepada kedua calon mempelai.

Lalu Rasya teringat saat itu. Matanya mulai memanas. Rasya ingat setiap tangis dan jeritnya kala itu. Kedua orangtuanya dikabarkan meninggal dalam kecelakaan mobil. Rasya yang pingsan berkali-kali. Dimas yang ikut masuk ke liang kubur membantu proses pemakaman. Terjadi tepat satu minggu sebelum ia wisuda. Keluarga Dimas akhirnya menggantikan kedua orangtua Rasya saat wisuda. Bersama-sama berusaha membantu mengembalikan senyuman dan keceriaannya. Rasya yang anak tunggal. Dimas yang sulung dari lima bersaudara.

Pihak keluarga telah selesai dengan wejangannya. Pihak KUA, atau entah penghulu, Rasya juga tidak tahu pasti, sekarang berbicara. Entah pula tentang apa. Mungkin syarat-syarat pernikahan, Rasya tidak dengar.

Rasya dan Dimas mulai bekerja. Tetap bersahabat. Dimas yang tumbuh semakin dewasa dan Rasya yang tumbuh dengan segala penerimaan hidup. Dimas yang bercerita tentang Rei, gadis cantik kawan sefakultasnya dulu. Rasya yang diam. Dimas yang merencanakan akan pindah rumah begitu ia menikah. Rasya yang diam. Dimas yang merahasiakan itu semua sampai undangan selesai dicetak. Rasya yang diam. Dimas yang memberikan undangan. Bukan gak mau ngabarin dari lama, Sya. Tapi emang baiknya baru diumumkan ketika mau akad dan resepsi. Begitu dulu ujar Dimas sambil tersenyum lebar. Rasya yang diam. Dimas yang akan segera membangun. Rasya yang segera mengubur dalam-dalam kemudian memutuskan pergi untuk kuliah lagi. Jauh, ribuan kilometer dari negeri ini. Dan hanya Dimas yang tahu bahwa Rasya tak berniat untuk kembali lagi.

Dimas maju ke depan. Sudah berhadapan dengan ayah Rei yang duduk berdampingan dengan penghulu. Ayah Rei mengucap ijab. Dimas menyambut, “Saya terima….”

Rasya bangkit. Dengan cepat menyelinap keluar dari ruang utama. Ada yang aneh rasanya. Ada yang seketika menjadi kosong. Hampa. Hilang. Berganti dengan entah apa namun begitu sakit rasanya. Rasya berlari kecil menuruni tangga masjid. Belum habis anak tangga dituruninya, ia terjatuh. Terduduk. Rasya tertunduk. Seketika itu juga pertahanannya runtuh.

 

☼ ☼ ☼

 

Awan hitam makin menggelayut. Bunyi petir sekali dua terdengar seakan langit akan segera menumpahkan isinya. Rintik-rintik semakin cepat turun. Membasahi. Meluruhkan. Taman itu tetap lengang. Dan pembicaraan diantara kedua manusia di taman itu menjadi semakin senyap.

“Kehidupan yang baik itu ada di sini, Sya. Disini. Bukan di tempat lain.”

Dimas menghela nafas. Mengucap dengan nada antara kecewa dan sedih. Antara tak puas dan tak terima. Antara menerka dan tak tahu apa-apa. Untuk pertama kalinya ia merasa tak mengenal orang yang dikenalnya. Untuk pertama kalinya ia merasa terselubung oleh rahasia yang ia tak pernah tahu entah karena apa.

“Untuk kamu Dim….” suara itu mulai serak. “…..bukan untuk aku.”

Hujan sempurna turun. Derasnya dengan cepat menciptakan suara gemuruh. Langit menumpahkan semuanya. Membasahi. Meluruhkan.

One thought on “Pergi

  1. Pingback: Serial Sepi Paling Tepi | A Different Side of Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s