Standar Terbaik

Dalam berbagai hal, ketika kita menginginkan suatu keberhasilan atau pencapaian, maka kita mutlak harus memiliki sebuah standar. Standar dibutuhkan sebagai tolak ukur, sebuah acuan agar langkah-langkah kita menuju pencapaian tersebut terarah dan memiliki kemajuan yang signifikan. Begitu juga dalam kehidupan, ketika kita ingin selalu berproses menjadi manusia yang lebih baik di setiap harinya, kita harus memiliki standar tertentu akan bentuk kebaikan yang ingin dicapai.

Namun, standar seperti apakah yang dimaksud?

Bagi seorang muslim, standar utama jelas bersumber dari kitab suci; Al-Qur’an dan juga Hadist yang dibawa oleh Nabi. Seluruh usaha yang kita lakukan untuk memperbaiki diri sepatutnya bertujuan seperti apa yang dituliskan di kitab suci. Walau tidak sempurna, tapi kita berusaha. Lalu perlahan-lahan kita atur supaya langkah kita maju dan menuju ke arah yang paling benar.

Dalam proses perbaikan tersebut, hendaklah kita menjadikan pencapaian-pencapaian diri sendiri sebagai standar untuk langkah kita selanjutnya. Menentukan target dengan menggunakan patokan berupa pencapaian orang lain hanya akan melelahkan atau membosankan. Bila kita melihat seseorang dengan pencapaian jauh di atas kita, lalu kita memutuskan melangkah dengan standar orang tersebut, maka kita hanya akan menjadi lelah. Karena kita dipaksa melangkah terlalu lebar. Sebaliknya bila kita melihat seseorang dengan pencapaian jauh di bawah kita, kita akan merasa santai. Tidak perlu terburu-buru melangkah karena kita merasa lebih unggul. Lalu target-target kita akan terasa membosankan karena terlalu mudah untuk dicapai.

Maka, jadikanlah diri kita standar terbaik untuk langkah-langkah kita selanjutnya. Tidak masalah bila kita masih berada dalam tangga terbawah, yang penting kita mau melangkah sedikit-sedikit untuk bisa sampai ke atas. Tidak apa kalau kita masih tertinggal, yang penting kita berniat untuk mengejar, selangkah demi selangkah, walau kecil namun terus menerus.

Lebih baik mana, mereka yang dulu pacaran tahunan lalu kemudian kini merencanakan pernikahan; dengan orang-orang yang sejak lama menolak prinsip pacaran, namun kemudian jalan berduaan?

Lebih baik mana, mereka yang dulu tidak pernah membuka qur’an lalu kini mulai belajar mulai dari a-ba-ta, dibanding orang-orang yang sejak dulu mengaji pekanan, lalu merasa bisa dan tidak mau lagi meningkatkan pemahaman?

Tentu kita tidak tau pasti mana yang lebih baik. Dan kita tidak bisa menghakimi siapa yang lebih baik. Namun satu hal yang pasti, Allah akan menghargai setiap proses menuju kebaikan. Terkadang, bukan hasil dari kebaikan itu sendiri, namun bagaimana peningkatan atau penambahan dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya.

Jadikanlah keunggulan orang lain sebagai pemacu. Namun bergeraklah sesuai dengan lebar langkah yang bisa kau tempuh dengan kakimu sendiri. Bisa jadi ukurannya tidak sama untuk setiap orang. Dan itu bukanlah suatu masalah. Yang terpenting, kita tetap bergerak, berproses, menjadi lebih baik dibanding apa yang pernah kita lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s