Serial Sepi Paling Tepi

mencintai cakrawala harus menebas jarak

mencintaiMu(mu) harus menjelma aku

– Sapardi Djoko Damono

 

 “Sya, kamu jangan di situ terus dong, bantuin gue dong beres-beres kamar ayah.”

“Iya Baaaanng, sabar kenapa sih.”

“Sabar, sabar. Eh, sini cepetaannn… gue nemu barang yang pasti kamu suka nih.”

“Apaan Bang?”

“Sini ajah.”

Aku pun berlari menuju Bang Jingga.

 

“Nih, buku catatan peninggalan Ayah. Coba kamu baca deh, siapa tahu dia nyimpan catatan rahasia semacam peta harta karun gitu, hahaha…”

“Astaga Abang, orang tuh yah di mana-mana orang tuanya meninggal didoain, ini malah dibecandain, dikutuk jadi batu, tau rasa lu Bang.”

“Eh, jangan dong, entar anak bini gue makan apa kalau gue jadi batu, batu kan gak bisa dimakan, lagian asuransi gue pasti gak bakal bisa diklaim kalau gue jadi batu. Gak mau ah.”

“Yeayyy… duit ajah di otak lu Bang. Huuuu… Sinih tuh buku, biar gue baca, siapa tahu benaran ada harta karunnya.”

“Entar kalau udah selesai bacanya, ringkasannya lu ceritain yah. Gue mau lanjut beres-beres kamar Ayah. Udah berdebu gini.”

“Oke Bossss. Siap!”

Jakarta, 29 Juni 2012

Pada beberapa orang cinta itu muncul sekali. Begitu besar. Sehingga ia sadar jika ia sedang mencintai seseorang. Jatuh cinta namanya. Tidak ada yang tak sadar jika ia sedang terhempas. Tidak ada.

Padaku, cinta itu pelan-pelan lahirnya. Ia bahkan tak mengenal ketertarikan karena perbedaan laki-laki dan perempuan. Padaku, cinta tumbuh linear dengan pertumbuhan diriku sebagai manusia. Sehingga aku sulit menyadari apakah aku sedang mencintai seseorang ataukah tidak. Tumbuh cinta terlalu perlahan sehingga sering diabaikan memang.

——

Jakarta, 1 Juli 2012

Sebagaimana ratusan minggu sore sebelumnya, kami menghabiskan sore ini di taman ini. Berbincang tentang hal-hal yang telah kami lakukan selama seminggu ini. Hari ini rencananya aku akan mengabarkan aku telah diterima bekerja di salah satu perusahaan tambang di Kalimantan. Karena itu kupikir aku harus segera menikah. Tidak mungkin membiarkan ibu sendirian di rumah. Mesti ada yang menjaganya. Empat tahun ini, setelah selesai kuliah aku sengaja bekerja di Jakarta saja, agar terus bisa menjaga ibu. Tapi kini dengan biaya sekolah adik-adikku yang semakin membesar aku pikir aku harus bekerja di tempat yang lebih baik.

Sore itu sederhana. Sebagaimana pakaian yang digunakan Rasya. Tetapi aku tahu apa yang akan aku ungkapkan ke dia hari ini tak sesederhana itu. Hingga Rasya, teman baikku dari sekolah, orang yang suatu pagi berjingkrang denganku karena bisa masuk ke universitas yang sama, perempuan yang berfoto denganku dengan toga di pinggir danau kampus kami, mengabarkan satu hal. Hal yang menghentikanku untuk lebih banyak berkata padanya sore itu. Kabar itu pendek saja: ia mendapat beasiswa ke Eropa.

——

Jakarta, 2 Juli 2012

Beginilah cinta yang terlalu lama tumbuh. Tidak ada gairah di sana. Tidak ada sesuatu yang rasanya harus diperjuangkan. Tiada yang meletup-letup.

Rasya jelas mendapatkan apa yang ia inginkan selama beberapa tahun terakhir ini. Ia bekerja di beberapa LSM agar mendapatkan pengalaman yang cukup sehingga ia dianggap layak mendapat beasiswa yang ia incar. Ia juga telah melewati tahun-tahun yang berat setelah ditinggal orang tuanya dalam suatu kecelakaan.

Inilah cinta yang tak meledak-ledak. Ia tak akan kuat menahan seseorang untuk melepaskan impiannya.

——

15 Juli 2012

Sore ini sedikit mendung. Tapi tidak dengan Rasya. Ia begitu bersemangat menyiapkan berkas-berkas kepergiannya. Aku yang kehilangan daya menyiapkan tangis-tangis untuk kehilangannya.

Sore itu aku menanyakan kepada tentang seorang teman kuliah yang bernama Rei. Dengan lugas ia menjawab jika Rei adalah perempuan yang baik. Meskipun yang sefakultas dengan Rei adalah aku, tetapi Rasya pernah bekerja di organisasi yang sama dengan Rei.

——

29 Juli 2012

Sore yang sama. Rasa yang sama. Rasya yang aku harap akan berbeda. Tetapi ternyata tetap sama.

Aku bercerita kepadanya bahwa dua minggu lagi aku akan menikah dengan Rei. Sekilas kulihat ada yang berubah di wajah Rasya. Sekilas saja. Kemudian digantikan senyum. Ia tiba-tiba saja meminta maaf kepadaku, ia tak bisa hadir dalam pernikahanku. Argumennya ia harus berangkat pada hari itu. Tiketnya mahal, tidak bisa ditunda lagi. Lagi pula, menurutnya ia harus segera sampai ke sana.

Sontak saja alasannya kumatikan dengan fakta bahwa segala biaya perjalanannya ditanggung oleh pihak pemberi beasiswa, ia tak boleh tak datang ke pernikahanku. Ia adalah satu-satunya temanku, begitu kataku sore itu. Ia mengalah.

——

30 Juli 2012

Tentu saja aku butuh Rasya di pernikahan itu. Aku mau menyelesaikan perasaanku dengan menatapnya di hari itu. Semoga.

——

12 Agustus 2012

Sore yang bukan di taman. Rasya datang. Tetapi segera menghilang. Aku tak tahu ke mana. Yang aku tahu perasaanku kepadanya tak menghilang. Dan aku tahu letaknya di mana.

 

“Tante Rasya lagi baca buku apa?”

Aku, kaget. Kapan Ekalaya sampai di rumah ini.

“Tante Rasya, baca buku apa, Eka mau baca juga dongggg….”

Aku segera tutup buku catatan ayah.

“Sayang, ini buku kakek Dimas. Eka baca buku Tante yang banyak gambar-gambarnya yah?”

“Iya deh.”

 

Kisah ini ditulis oleh teman saya, Muhammad Akhyar, sebagai bagian dari kisah yang pernah saya tulis disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s