Melesatkan Rindu

Bagiku rindu itu syahdu. Bagai menatap senja bersama ombak yang menderu. Perlahan-lahan semburat itu hadirnya, lalu sempurna mengubah lapisan warna langit menjadi lebih merona. Menyelimuti hari yang lelah dengan janji malam yang menenangkan. Begitu indah dan ditunggu. Mungkin seperti itu rindu. Tapi entahlah, Rasya tak pernah benar-benar tau apa itu rindu. Sekarang ia sibuk menatap layar telepon genggamnya. Banyak yang harus dihubungi, banyak yang harus diurusi. Mungkin dengan itu ia bisa lupa apa rasanya rindu.

Bagiku rindu itu lembut. Bagai menatap langit yang memunculkan mentari. Kala sejuk angin berpadu dengan tetes embun. Saat hening malam bersiap terganti manisnya pagi. Perlahan. Namun menjanjikan sesuatu yang pasti, bahwa kehangatan akan muncul lagi. Mungkin seperti itu rindu. Tapi entahlah, Dimas tak pernah benar-benar tau apa itu rindu. Komputernya menyala sejak berjam-jam yang lalu. Pekerjaan menumpuk bagai tak ada habis sampai kapanpun. Banyak yang harus dibereskan, banyak yang harus diselesaikan. Mungkin dengan itu ia bisa lupa apa rasanya rindu.

Bagiku rindu itu melesak dan mendesak. Entah seperti apa hadirnya namun menimbulkan sesuatu yang membuat sesak. Seperti Rasya yang tenggelam dalam diskusi tanpa henti, sejak pagi hingga ke ujung hari. Lelahnya tak bisa lagi dikira. Otaknya penuh, pikirannya keruh. Namun seketika dalam jeda, saat satu dua pergi dan menyampaikan salam sampai jumpa, ketika ruangan menjadi lega dan hening yang tersisa, ia hanya teringat satu nama.

Bagiku rindu itu menderu dan memburu. Entah seperti apa hadirnya namun memunculkan rasa yang mendadak sendu. Namun itu tak terlihat pada Dimas. Persiapan rapat penting dengan direksi esok hari menguras tenaga dan waktunya. Segalanya harus sempurna. Kesalahan kecil bisa mempengaruhi reputasinya di hadapan petinggi. Baginya, karir ini adalah puncak keinginan dan kepentingan. Namun ketika ucapan pamit pulang berdatangan, saat materi terkumpul dan selesai dirangkum, ia kembali sendiri dan teringat satu senyum.

Hujan rintik membahasi halaman gedung megah itu saat Rasya berlari kecil menuju taksi yang telah dipesannya. Satu tangan menutupi kepalanya berharap air tak banyak menyentuh kepalanya. Agak tersengal ia menutup pintu, menarik napas dalam-dalam dan mendesah, Ya Tuhan tolong jaga dia. Jalanan lengang ibu kota menyambut Dimas yang baru keluar dari basement kantornya. Dengan kecepatan sedang ia susuri jalan dan ia nikmati angin malam. Semoga ia selalu sehat, gumamnya. Ya Tuhan tolong lindungi dia.

Lalu aku harus mendefinisikan apa lagi tentang rindu. Rindu-rindu yang tak bicara dan tak mengeluarkan kata. Rindu yang sendiri dan seakan saling berlari. Rindu macam apa yang tak pernah tersampaikan. Rindu yang tertitip pada senja yang bersahaja, rindu yang tertitip pada angin pagi yang kemudian pergi. Mereka tak pernah menjanjikan akan menyampaikan rindu-rindu itu, bahkan mereka tak paham apa yang sebenarnya disampaikan. Rindu itu tertitip pada doa, ketika rasa bersatu dengan percaya. Rindu itu pada jiwa, dan ia memang tak bicara dalam bahasa manusia.

 

One thought on “Melesatkan Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s