Persiapan Hati Menuju Tanah Suci

Selain persiapan ilmu, materi, dan fisik, kita juga memerlukan persiapan hati ketika ingin mengunjungi Tanah Suci, sebuah tempat paling istimewa di muka bumi. Untuk itu, hati dan jiwa kita juga harus dipersiapkan agar kedatangan kita kesana bukan sekadar jalan-jalan tanpa pengalaman spiritual yang menambah keimanan. Berikut adalah beberapa cara untuk mempersiapkan hati dan rohani kita berdasarkan tuturan Pak Deddi Nordiawan pagi ini :

1. Sholat Taubat

Penting untuk melaksanakan taubat sebelum berangkat ke Tanah Suci, tujuannya agar kita lebih bersih dan suci. Walau bagaimanapun, kita pasti ingin hadir dalam keadaan yang sebaik-baiknya di rumah Allah dan tanah para Nabi tersebut, dan taubat adalah salah satu ikhtiar untuk menghadirkan diri yang lebih baik. Sholat taubat bisa dilaksanakan kapan saja (kecuali di waktu-waktu terlarang untuk sholat), namun akan lebih baik bila dilaksanakan di sepertiga malam terakhir. Agar lebih khusyuk dan memang merupakan waktu yang utama untuk ‘bercengkrama’ dengan Allah.

2. Rancang program khatam Qur’an

Menyusun program-program peningkatan ibadah menjadi penting agar kita memiliki target yang jelas akan ibadah selama di Tanah Suci, diantaranya adalah program mengkhatamkan Qur’an. Pemanasan untuk program ini bisa dimulai semenjak kita masih di tanah air, misalnya dengan memprogram target tilawah harian kita. Biar gak kaget-kaget amat. Mungkin terlihat sulit untuk mengkhatamkan tilawah 30 juz dalam 9 hari. Yang artinya setiap harinya harus membaca sekitar 4 juz. Tapi, kalau dihitung-hitung, kita “cukup” menyediakan waktu 30 menit setiap habis sholat wajib untuk tilawah dan target Insya Allah tercapai. Yah, yang penting diniatin dulu sih, trus minta Allah biar dimudahkan, biar gak cepet ngantuk kalo baca Qur’an gitu. Hehehe….

3. Jaga penglihatan dan pendengaran

Sepaket dengan program membersihkan diri, menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak baik juga harus diupayakan. Itulah sebabnya maka kita harus melatih untuk menjaga penglihatan dan pendengaran kita dari hal-hal yang tidak disukai-Nya. Mengurangi menonton film, meningkatkan membaca Qur’an. Mengurangi intensitas mendengarkan musik, memperbanyak memutar murottal. Tidak hanya mata dan telinga tapi juga keseluruhan panca indera dan segala yang akan mempengaruhi tingkat keimanan kita. Intinya, menjaga diri. Fokuskan untuk cukup mendekat kepada-Nya, bukan kepadanya. #eeaa

4. Bangun komunikasi lebih intens dengan orangtua

Membangun komunikasi yang baik dan intens dengan orangtua penting sebab orangtua adalah pihak yang sangat dekat dan mujarab doanya untuk kita😀. Terutama yang akan berangkat ke Tanah Suci bersama orangtua, membangun komunikasi akan memudahkan kita untuk menjalani waktu-waktu bersama mereka selama disana. Sehingga, jangan sampai ada perselisihan dengan orangtua yang akan mengurangi makna ibadah kita di Tanah Suci. Bagi yang tidak berangkat bersama orangtua, komunikasi yang baik akan membantu memudahkan proses kita di Tanah Suci karena doa-doa mereka akan selalu memeluk kita hangat di tengah dinginnya Madinah dan menyejukkan hati kita di tengah panasnya kota Mekkah. #hazik 

5. Sedekah

Bersedekahlah agar dimudahkan. Bersedekahlah agar ditambah rezekinya. Bersedekahlah agar dilancarkan urusan-urusannya. Bersedekahlah agar dihindarkan dari yang sulit dan jahat. Bersedekahlah. Mulai dilatih dan direncanakan untuk memberi sedekah setiap hari kepada yang membutuhkan. Sudah terlalu banyak keutamaan sedekah yang sering disebutkan, tinggal dijalankannya saja.

6. Meyakini undangan ke Tanah Suci hanyalah dari Allah

Nah, ini poin sangat penting menurut saya. Meyakini bahwa undangan ke Tanah Suci hanyalah hak Allah semata. Tatalah hati kita untuk percaya bahwa bukan harta-harta kita yang bisa membawa kita ke sana, bukan berlimpahnya uang orangtua kita, bukan sehat bugarnya fisik muda kita, bukan kesempatan dari janji-janji manusia, bukan tabungan apalagi pinjaman. Tapi semata hanya Allah. Maka, pasrah dan terus berharap dalam doa agar kita benar-benar diundang adalah hal yang amat sangat penting. Karena bila Allah berkehendak,  apapun bisa terjadi. Batal maupun jadi. Tugas kita hanya meminta dan mengusahakan. Sisanya, sungguh kita tidak punya kuasa apa-apa.

Itu adalah 6 poin persiapan hati yang disampaikan Pak Deddi (penjelasannya banyak saya karang-karang sendiri, mudah-mudahan gak sesat :p ). Tapi menurut saya, bukan hanya orang yang ingin ke Tanah Suci saja yang patut menjalankan poin-poin persiapan hati tersebut, tapi juga setiap orang dalam menjalani hidupnya. Toh, isinya semuanya baik, dan tidak akan ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan pula.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s