Mencintai, Memberi, dan Berbagi

Saya pernah mendengar ungkapan seperti ini,

Memberi belum tentu mencintai. Tapi mencintai tidak bisa tanpa memberi.

Ketika kita memutuskan untuk mencintai, maka tugas-tugas berikutnya adalah memberi dan membagi. Karena tidak ada cinta tanpa pemberian. Tidak ada cinta tanpa keinginan untuk berbagi dan merasakannya bersama. Bila mengutip dialog dalam sebuah film layar lebar populer, seorang pecinta akan memberi tanpa diminta. Maka bila kau ragu dengan apa yang kau rasakan, tanyakan saja dirimu apa kau mau memberikan sesuatu yang berharga tanpa diminta.

Pada awalnya, saya pun tidak tau mengapa saya ingin membagi salah satu hal berharga yang saya miliki. Ladang amal saya. Rahasia saya. Jadi begini ceritanya, tiga tahun lalu, saat saya lagi hobi-hobi nya main twitter, saya berpikir jangan sampai hobi nge-twit saya ini tidak ada manfaatnya. Padahal setiap perkataan dan tulisan kita kan akan dipertanggungjawabkan nanti. Lagipula, dunia sosial media ini besar banget potensinya, sayang kalau dipake cuma untuk main-main doang.

Akhirnya saya membuat sebuah account. Sebuah akun twitter yang berisi kutipan-kutipan ayat suci, hadist, atau perkataan-perkataan sahabat Nabi dahulu. Sesederhana itu. Tidak interaktif. Hanya menyampaikan, lainnya tidak. Saya mengelolanya sendiri, dengan ilmu yang sangat terbatas maka sampai situ sajalah yang bisa saya sampaikan. Komitmen saya sedari awal adalah saya bertekad tidak akan membaginya ke siapapun karena saya tujukan untuk ladang amal saya sendiri.

Waktu berjalan, tanpa disangka perkembangannya ternyata cukup mengesankan. Sejak beberapa hari yang lalu setidaknya ada 40.000 orang yang mem-follow. Saya mulai ketar ketir dan kewalahan karena terkadang ada follower yang bertanya tentang ilmu keislaman namun saya tidak bisa menjawab. Namun walau begitu saya menikmati bisa berbagi kebaikan dengan banyak orang. Menurut saya, ini adalah salah satu cara berbagi yang efektif. Misalnya saja saya ngetwit mengingatkan untuk shalat dhuha. Katakanlah saat saya ngetwit hanya 10% yang membacanya, artinya sekitar 4000 orang. Dari yang membaca, misalnya hanya 10% nya saja yang kemudian tergerak untuk shalat dhuha, artinya sekitar 400 orang. Di dunia nyata, gimana caranya ngajak 400 orang shalat dhuha dalam waktu 1 menit? Hehe…sedangkan sekali ngetwit bisa jadi kurang dari 1 menit.

Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya kemarin saya memutuskan untuk membagi hal ini. Ada beberapa alasan sebenarnya. Yang pertama, saya merasa potensi akun ini cukup besar, mubazir jika hanya saya yang mengelola. Saya dengan ilmu yang seadanya. Saya ingin akun ini bisa lebih berkembang dan bermanfaat untuk lebih banyak orang dengan lebih banyak ilmu. Yang kedua, karena saya ingin berbagi dengan orang-orang yang saya cintai. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadikan akun ini sebagai akun bersama teman-teman angkatan saya di kampus. Teman masa-masa dulu berda’wah di kampus. Anak-anak mesjid. Anak-anak musholla. You name it lah. Intinya mereka yang dulu dan masih sampai sekarang menemani saya. Saya ingin berbagi dengan mereka. Bukankah kita tidak bisa mencintai tanpa memberi? Tanpa berbagi?

Ah ya, pada akhirnya saya memutuskan untuk memberi salah satu hal berharga saya dengan mereka yang saya cintai. Semoga, semoga, keputusan saya adalah keputusan yang tepat. Yang bukan hanya akan mempererat ikatan di dunia, tapi mempertemukan kembali di akhirat.🙂

 

2 thoughts on “Mencintai, Memberi, dan Berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s