Kunjungan

Malam ini, sepulang kerja, saya pergi ke panti. Saya pernah bilang, kalau sedang sedih, datanglah ke panti. Sebab kita akan kembali diingatkan tentang rasa bersyukur. Dan untuk mendukung program banyak-banyak bersyukur dan bertobat saya, maka saya memutuskan pergi kesana. Ke tempat luar biasa itu, tempat adanya manusia-manusia yang menyediakan dirinya untuk menjadi pembelajaran bagi orang lain.

Saya bertemu penghuni nya seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Delapan bulan saya mengunjungi panti itu, kondisi dan keadaan mereka ya begitu-begitu saja. Mungkin delapan tahun ke depan juga tidak banyak berubah. Toh mayoritas penghuninya juga penghuni tetap. Yang akan ada di panti bisa jadi sampai akhir hayat mereka.

Tadi saya mengunjungi Wulan, seorang anak yang menderita sekitar 7 kekurangan dalam dirinya: cerebral palsy (kelumpuhan otak), mental retardation (keterbelakangan ental), tuna netra, tuna wicara, lumpuh, hedrocepalus, dan spastik (pembengkokan tulang permanen). Saya selalu bingung bagaimana caranya berkomunikasi sama Wulan. Dengan kekurangannya, Wulan nyaris sempurna terisolasi dari dunia luar. Saya ngebayangin, gimana ya dunianya Wulan. Gelap. Kosong. Sepi. Gak bisa ngeliat, gak bisa denger, gak bisa ngomong, mau jalan juga gak bisa. Satu-satunya cara berkomunikasi dengannya adalah dengan sentuhan. Itu yang saya coba lakukan tadi.

Awalnya, saya mau memberi “tanda” sentuhan di telapak tangannya, tapi berhubung Wulan spastik, jadi telapak tangannya agak susah kebuka. Akhirnya saya sentuh di punggung tangannya. Saya bikin huruf A. Untuk menandakan itu saya yang lagi megang dia. Berkali-kali dengan pola yang sama. Wulan kemudian bereaksi. Kepalanya yang besar bergerak-gerak. Diikuti badannya yang bergerak condong ke arah saya. Seperti tersengal. Gerakan yang “besar”. Saya nggak tau Wulan ngerti apa nggak. Bisa jadi nggak. Yang jelas, saya seneng aja Wulan udah bereaksi, bisa berkomunikasi walau dalam bentuk yang sangat seadanya.

Penghuni yang paling pamungkas diantara seluruh penghuni menurut saya adalah Pak Teguh. Penghuni tertua di panti. Lahirnya tahun 1968. Masuk ke panti sejak 1975. Cerebral palsy, mental retardation, tuna netra, tuna wicara, lumpuh. Kebayang ngga? 38 tahun hidup begitu-begitu aja di kasur panti yang sama. Bahkan tangannya disarungin supaya gak nyakitin dirinya sendiri. Nyaris seumur hidupnya dia akan terus begitu. Bikin merenung. Apa saya gak malu kalo masih ngeluh?

Nyaris tiap ke panti, ritual saya adalah mendatangi tempat tidur Pak Teguh dan membacakan surat Ar-Rahmaan sampai habis dari pinggir kerangkeng tempat tidurnya. Saya juga gak tau buat apa sih. Toh dia juga gak bisa denger. Mungkin lebih tepatnya saya ngebacain untuk diri sendiri kali ya, untuk menampar-nampar diri sendiri yang masih suka gak bersyukur.

Banyak yang bisa dipelajari dari kunjungan hari ini. Termasuk berdamai dengan segalanya. Saya baik-baik aja kok. Hanya butuh lebih banyak tobat dan obat penenang untuk hati. Nah, semoga kunjungan hari ini bisa menjadi salah satu obatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s