Cake of Life: A Bitter Piece Named Divorce

How do you spell a divorce? h-u-r-t

How do you spell a divorce? h-u-r-t

Di umur yang nyaris seperempat abad ini, wajar memang jika tema yang paling sering diangkat dalam perbincangan saya dan teman-teman sepantaran lainnya adalah tema pernikahan. Beberapa diselingi dengan tema parenting atau sejenisnya bagi mereka yang sudah berumah tangga dan memiliki anak. Dari sekian banyak obrolan, mayoritas memang mengangkat manis-manisnya kehidupan pernikahan, apalagi teman-teman adalah para pasangan muda yang masih dimabuk asmara (najong…bahasa gueeeee….). Namun, alangkah sedihnya saya, karena ternyata kini bukan hanya tema pernikahan yang menyeruak. Ada satu hal yang rasanya tabu sekali dibicarakan tapi kenyataannya terjadi di sekitar saya: perceraian.

Siapa yang menginginkan perceraian? Saya rasa tidak ada. Semua pasangan ketika menikah pasti mengharapkan rumah tangganya utuh sampai ke surga. Pasangan di dunia juga jadi pasangan di akhirat. Setia. Bersama. Tidak terlepas. Namun, ada kalanya datang kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, menghantam keras rumah tangga yang susah payah dibangun, dan tidak menyisakan banyak pilihan tindakan. Dan diantara pilihan tersebut adalah bercerai.

Rasanya mengejutkan mengetahui minimal dua orang kerabat saya, di umurnya yang belumlah mencapai dua puluh lima, sudah harus merasakan pahitnya perceraian. Padahal, mereka orang yang bisa saya katakan bisa menjaga diri. Tidak berpacaran sebelumnya, memutuskan menikah dengan matang, memilih pasangan sesuai kriteria yang diajarkan Rasul, dan deretan sikap lainnya yang rasanya membuat saya cukup bertanya-tanya kenapa perceraian itu harus ada. Tapi, memang begitulah kenyataannya, ketika rumah tangga dijalankan, ternyata sungguh banyak hal yang baru terbuka. Sifat, karakter, kemampuan mengatasi masalah, mental, ternyata tidak bisa kita ketahui secara sempurna ketika perkenalan menuju pernikahan. Pria yang selama ini dikenal baik, ternyata bisa sampai main fisik ketika menghadapi masalah yang menyulitkan yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Siapa bisa duga? Bahkan dirinya sendiri pun bisa jadi tidak menduga.

Jadi benarlah kata orang-orang bijak. Banyak-banyak meminta kebaikan dan keberkahanlah dari Yang Maha Kuasa. Masa depan itu gelap. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi. Hidup bukan sekadar menikah lalu selesai. Apalagi sekadar ingin menikah dengan si A, atau si B. Masih amat panjang perjalanan setelah itu, justru mungkin semakin berat seiring kompleksitas masalah yang dihadapi. Saya benar-benar tersadar, sungguh dibutuhkan kedewasaan yang matang untuk menghadapinya. Dibutuhkan kemauan untuk bersabar dan kemampuan untuk sadar. Bahwa yang terpenting bukanlah seberapa hebat orang yang akan kita nikahi, tapi seberapa besar kemauannya untuk tumbuh bersama.

At last, walaupun pahit, tapi perceraian tetap saja harus dipelajari, karena dalam beberapa kasus termasuk yang saya temui, memang bercerai adalah jalan yang terbaik. Bagi si istri, bagi si suami, dan bagi agama mereka. Maka, kalau kata Salim A.Fillah, perceraian itu adalah taman belakang yang tetap harus diilmui. Mudah-mudahan tidak perlu diamalkan, tapi tidak ada salahnya diketahui.

2 thoughts on “Cake of Life: A Bitter Piece Named Divorce

  1. Sedih banget Kak bacanya..aku juga punya teman (dan aku diminta jd saksi), belum ada 2 th usia pernikahannya dan hrus divorce, udah berusaha sebaik mungkin dipertahankan tapi ttp tidak berhasil. Sediiih T__________T. Smg kebaikan dan keberkahan hidup senantiasa melingkupi kita semua. Aamiin :’)

    • Huhuhu…. sedih ya Sulis…. semoga beliau bisa mengambil hikmah yang baik ya dari pengalaman hidupnya😦 aamiin semoga kita selalu diberkahi dan bahagia selalu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s