and it goes like this

Ada saatnya kita ngerasa doa dibayar lunas. Dikabulin saat itu juga. Ada saatnya harus nunggu, mungkin gak sekarang, tapi suatu saat di masa depan. Ada saatnya ditukar, diganti, dengan hal lain yang lebih tepat menurut-Nya. Mana yang lebih baik? Semuanya baik. Semuanya dipergilirkan.

Setelah merasa sekian lama gak nulis, gue merasa aneh. Padahal, buanyak banget rasanya yang mau ditulis. Apa gitu kali ya, karena kebanyakan pikiran yang mau ditulis, malah gak ketulis satupun. Padahal juga, saya meyakini bahwa salah satu hal yang menjaga gue tetep waras adalah menulis. Duh, jangan-jangan sekarang gue udah gak waras. Hahaha….

Melanjutkan paragraf pertama tulisan ini, saya teringat doa sewaktu umroh April lalu. Doa yang paling sering disebut dan diminta adalah memohon agar yang menjadi keinginan hati saya hanyalah apa-apa yang akan menjadi takdir saya saja. Cakep kan doanya. Niatnya sih, biar ga kebanyakan kecewa. Maka gue memohon supaya yang ditanamkan di hati gue cukuplah yang benar-benar akan jadi takdir aja. Time goes by… Apa yang terjadi?

Saya punya sebuah rencana A dan hepi sekali menjalani rencana ini.  Jalannya pun rasanya dipermudah dan gak ada halangan yang terlalu berarti. Insya Allah udah mantep mau menjalani rencana A ini. Tapi ternyata, di tengah jalan, ada sesuatu yang datang dan merubah rencana A. Hal ini sama sekali gak pernah diduga. Gak pernah terbayang. Duh,  rasanya galau sekali. Gimana sih namanya udah punya rencana yang nyaris sempurna ternyata harus menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada.

Setelah gegalau, minta pendapat para pemangku kepentingan hidup dan ‘konsultasi’ dengan-Nya, saya memutuskan untuk “berbesar hati” meninggalkan rencana A dan beralih ke rencana B. Bukan hal yang mudah. Sama sekali bukan. Namun sudah diputuskan, dan hati sudah memilih. Bisa jadi ada banyak kebaikan di rencana B.

Hal selanjutnya adalah berdamai. Membujuk diri supaya tidak berlarut pada keinginan rencana A yang sudah lewat. Meyakinkan bahwa menjalani rencana B bisa jadi akan lebih menyenangkan dan menenangkan. Walau kadang masih ada rasa-rasa nyeri kalo inget rencana A yang gagal, tapi tetep berusaha mensugesti diri bahwa keputusan untuk memilih rencana B tidaklah salah.

Ternyata berhasil. Sedikit demi sedikit, saya mulai bisa menerima gagalnya rencana A dan berfokus pada rencana B. Alhamdulillah. Diriku mulai semangat dengan rencana baru dan berpikir that’s okay untuk rencana A yang benar-benar ditinggalkan. Saat itu sempet mikir, pasti Allah turut andil dalam membolak balikkan hati yang awalnya kekeuh dengan rencana A menjadi lebih riang dan senang dengan rencana B. Bisa jadi ini pertanda bahwa yang harus dijalani adalah memang rencana B, bukan rencana A. Alhamdulillah.

Namun, di tengah masa-masa itu, sebuah kabar datang tanpa terduga dan diduga: rencana B tidak bisa dilanjutkan. Yap, karena satu dan lain hal, rencana B harus dihentikan. Hal itu datang di saat hati ini sedang yakin-yakinnya untuk menjalani rencana B. Artinya apa? Saya harus kembali ke rencana A.

Astaghfirullah. Astaghfirullah. 

Rasanya kayak lagi main roller coaster. Belum selesai kagetnya karena turunan yang curam, tiba-tiba udah dijungkir balikin lagi tanpa ampun. Doa saya dulu apa? Semoga keinginan hati adalah yang menjadi takdir. Lha ini kenapa? Giliran hatinya condong ke A, disuruh pindah ke B. Giliran udah cenderung ke B, dipaksa balik lagi ke A.

Inilah jetlag yang sebenarnya.

Walaupun jetlag, saya harus rasional bahwa rencana A harus dijalankan. Hidup gak akan menunggu kita yang galau, cengeng, atau masih menye-menye. Akhirnya, kita balik maning ke rencana A. Walau dalam lubuk hati udah gak pingin-pingin amat jalaninnya.

Somehow mikir gini sih, kalo ujung-ujung nya rencana A juga yang dijalanin, ngapain pake ada selingan rencana B siiih? Nyusah-nyusahin ati aja. Hahaha…. sering banget sih mikir gitu. Tapi kemudian inget perkataan seorang temen, Allah itu gak pernah bermain dadu, termasuk dengan siapa kita bertemu. Atau dengan hal apa kita dipertemukan. Pasti ada pesan dibalik setiap hal (dan semoga kita dijadikan hamba yang mampu mengambil hikmah dari tiap peristiwa. aamiin), pasti ada pelajaran dari setiap kejadian. Kalo pun ngga untuk sekarang, mungkin nanti-nanti.

Saya sih ngeyakininnya begini, Allah kasih sesuatu hal kepada kita, Allah itu udah tau apa dampak nya buat hidup kita sekarang maupun di masa depan. Sedangkan, rasional kita terbatas hanya untuk berpikir dampak yang ada untuk saat ini. Yang bisa menembus ruang dan waktu kan hanya Allah. Jadi, yakinin aja kalo apapun yang terjadi adalah yang terbaik untuk urusan kita.

Lalu gimana dengan doa saya waktu umroh itu? Hmm… saya juga belum tau sih. Saya sempet berpikir gini, mungkin Allah pingin saya belajar bahwa hati saya lah yang harus fleksibel mengikuti keinginan-Nya. Hati saya lah yang harus dilatih untuk bisa segera “setuju” dengan keputusan-Nya. Terkadang, saya merasa Allah mengajari saya dengan cara-cara yang saya tidak mengerti. Tapi Insya Allah akan baik.

Saya nggak tau juga apakah benar begitu. Saya cuma berprasangka baik.

So, here’s my latest thought. At the end, kita akan selalu kalah kalau mau menantang keinginan-Nya, menantang takdir. Dan memang takdir bukan perkara menang atau kalah. Takdir itu untuk dijalani. Sesederhana itu. Namun bagaimana sikap kita menjalaninya yang akan menentukan kita akan jadi orang yang kalah atau menang. Yang kalah akan lelah, yang menang pasti tenang.

2 thoughts on “and it goes like this

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s