Rezeki Gak Akan Kemana

Selama ini, sering saya mempercayai bahwa selalu ada hubungan kausalitas antara usaha dan hasil dari Allah. Jika kita menginginkan sesuatu, pasti kita harus berusaha keras dulu untuk mendapatkannya. Semakin keras upaya kita, maka probabilitas hasilnya tercapai akan semakin besar. Begitu pula sebaliknya. Sebagai bagian dari kaum yang beriman, kita tambahkan doa diantaranya. Selesai. This is how it works.

Tapi kemudian, beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan pengalaman yang cukup membuat saya berpikir. Begini ceritanya…

Delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005 saat saya masih kelas 2 SMA, saya pernah mengemban sebuah amanah yang mengharuskan saya membawa sejumlah uang tertentu. Saya sendiri sekarang lupa itu uang apa, yang jelas jumlahnya saya ingat, Rp 600 ribu. Sebuah jumlah yang cukup besar bagi seorang anak sekolahan yang tidak berpenghasilan seperti saya.

Saat itu, uang harus saya bawa di dalam tas. Walau agak deg-degan, tapi saya berusaha santai. Kebeulan, di hari itu saya menghadiri sebuah acara sekolah yang mengharuskan kami menitipkan tas di suatu tempat. Saya pun menitipkan tas bersamaan dengan belasan tas teman2 lainnya.

Singkat cerita, selesai acara, uang di dalam tas tersebut raib. Entah bagaimana dan oleh siapa. Saya lemaaaas sekali. Gak kebayang uang tersebut akan hilang. Saat itu, saya hanya punya tabungan Rp 2 juta yang saya titipkan ke mama saya dan akhirnya saya ambil 600 ribu untuk mengganti uang tersebut. Plus diomeli orangtua karena saya teledor dan segala macem.

Time goes by. Saya gak pernah ngusut siapa yang ngambil. Gak pernah bahas. Saya anggep aja itu musibah dan teguran karena saya gak hati-hati terhadap amanah.

Beberapa bulan yang lalu, mungkin awal tahun 2013. Tiba-tiba ada seseorang yang menghubungi saya. Kenalan lama. Agak surprised juga beliau menghubungi saya karena sebelumnya kami bisa dibilang tidak terlalu dekat. Setelah basa basi menanyakan kesibukan saat ini, beliau tiba-tiba memulai pembicaraan baru,

“Kamu inget gak dulu kamu pernah kehilangan uang 600 ribu pas SMA? Aku mau ngaku, sebenernya aku yang ngambil uang kamu dulu…”

Kemudian bertubi-tubi permintaan maaf diucapkan, bahwa dulu beliau terdesak suatu hal (walaupun saya tidak menerima rasionalisasi alasannya) sehingga gelap mata harus mencuri, bahwa beliau bertahun-tahun menyimpan rasa bersalah dan menunggu waktu yang tepat untuk mengakui perbuatannya kepada saya, bahwa beliau akhirnya baru berani mengaku sekarang karena sudah punya uang untuk mengganti. Dan beliau memaksa mengganti lebih. Saya menolak. Tapi dia bersikeras. Akhirnya disepakati kelebihan uangnya kami sumbangkan ke panti asuhan. Masalah selesai. Saya sudah memaafkannya sejak lama.

Kejadian itu kemudian membuat saya berpikir keras. Sedikit banyak mengacak-acak kepercayaan dan tatanan berpikir saya tentang hubungan antara usaha dan hasil.

Saya tidak berusaha apa-apa untuk uang yang hilang itu. Tidak sama sekali. Ketika uang itu hilang pun, hanya beberapa kawan dekat yang akhirnya tau. Sampai setelah uang itu diganti pun, saya tidak bertindak apa-apa untuk membuatnya kembali pada saya. Logikanya, saya tidak mungkin mendapat hasil karena saya tidak berusaha. Tidak berikhtiar.

Lalu kenapa setelah delapan tahun uang itu kembali pada saya? Dan seseorang yang tidak pernah saya tuduh kemudian mengaku dan mentransfernya saat itu juga.

Saya jadi termenung, teringat pesan guru-guru saya, bahwa logika usaha dan hasil bukan seperti yang selama ini kita simpulkan. Ketika usaha senilai 100 maka akan dapat hasil senilai 100. Bukan seperti itu. Ada hal-hal yang menjadi wewenang-Nya, terjadi atau tidak terjadinya tidak selalu tergantung dengan apa yang kita lakukan, kita biasa menyebutnya dengan takdir.

Loh, kalau begitu, manusia bisa ongkang-ongkang kaki aja dong gak perlu usaha apa-apa?

Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa segala ikhtiar dan usaha kita BUKAN untuk mencapai hasil yang kita inginkan, melainkan untuk menjadi amal baik kita sebagai manusia. Ranah manusia adalah ranah amal. Bukan ranah hasil. Berusahalah yang terbaik sebagai amal terbaik yang kita persembahkan kepada-Nya, sebab Allah suka jika hamba-Nya memberi amal dan ikhtiar yang terbaik. Jika Allah sudah suka, bisa jadi Ia tidak sekadar memberi apa yang kita inginkan, melainkan lebih dari apa yang bisa kita impikan.

Tapi, tapi, ada hal-hal yang memang sudah ter-tetapkan untuk kita. Maka untuk hal yang seperti itu, pasti kita akan mendapatkannya. Pasti. Contohnya uang 600 ribu saya yang kembali. Mau saya dendem, ikhlas, ingat, atau lupa, uang itu pasti akan kembali. Atau misal kita akan mati tanggal sekian bulan sekian tahun sekian, mau mati sambil menenggak minuman keras atau saat bersujud di saat shalat malam, maka akan tetap mati. Contoh lainnya mungkin bisa kita berikan dalam masalah jodoh. Jika ditetapkan jodoh kita adalah si X, mau kita berusaha dengan ngerayu, maksa, pakai dukun, atau memohon dalam setiap doa dan melamarnya baik-baik, maka jika sudah ditetapkan, tetap si X lah yang akan menjadi jodoh kita.

Lalu, apa yang membedakan?

Betul. Rasa berkahnya.🙂

Bukankah itu yang kita cari? Karena dengan keberkahan, satu hal yang sama bisa berbeda rasa manis dan pahitnya.

Jadi, memang ada rezeki yang tidak akan kemana-mana, tapi kita lah yang harus bergerak kemana-mana, bukan mencari cara untuk meraihnya, tapi mencari cara untuk memberikan amal dan ikhtiar yang terbaik agar Allah memberikannya dengan cara terlembut dan termanis kepada kita; hamba-Nya.

Cengkareng, 15 Desember 2013
Sambil menunggu pesawat untuk perjalanan keliling nusantara berikutnya. Semoga Allah hitung sebagai ikhtiar yang baik dalam rangka mengamalkan ilmu.

3 thoughts on “Rezeki Gak Akan Kemana

  1. Memberikan amal dan ikhtiar terbaik agar Allah memberikan dengan cara terlembut dan termanis.. –> iya bnget iniiii..

    Gw jadi inget…pernah dibilang gini..lo mau dikasih duitnya 1 juta dgn cara baik…atau dikasih 1 juta juga…tapi recehan dan dilempar ke muka lo…wakwau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s