Satu Bulan

Tanpa terasa, sudah satu bulan tepat saya tinggal di Sydney. Perasaan baru kemarin gak bisa tidur di pesawat, perasaan baru kemarin menginjakkan kaki pertama kali di Sydney Kingsford Smith Airport, perasaan baru kemarin geret-geret koper ke flat. Tiba-tiba udah sebulan aja. Iya, waktu kadang emang jalan kerasa cepet banget. Nah, selama sebulan disini, ada hal-hal baru yang saya temui dan mau saya ceritain selama tinggal disini.

Tinggal di flat. Ya, pengalaman baru dan pertama bagi saya untuk tinggal di flat/unit bersama dengan orang lain. Ruang pribadi saya hanya kamar tidur. Sisanya, seperti dapur, ruang TV, dan kamar mandi, harus sharing dengan penghuni lain. Di unit saya, ada 3 kamar dengan 2 kamar mandi (WC dan tempat mandi terpisah), 1 dapur, 1 ruang TV, dan 1 ruang cuci. Flexibility. Itu kuncinya kata seorang dosen. Harus fleksibel dengan perubahan yang terjadi sebelum dan setelah pindah ke Australia.

♥ MASAK. Iya, masak. Jangan ditanya apakah anak ini pernah masak waktu di Jekardah apa ngga. Megang piso aja jarang. Tapi disini, ANE MESTI MASAK GAN. Ga ada pilihan, abisan kalo beli jadi, mahal. Ciiiih amit-amit banget mahalnya disini. Misalnya, beli makan di foodcourt kampus paling muraaaah sekitar $ 7. Tujuh dolar buat sekali makaaaaaan *njerit*. Itu dapet ayam satu potong sama kentang goreng. Padahal, kalo beli di supermarket, 10 potong paha ayam mentah cuma sekitar $ 5,5. Jauh bener kaaan?? Telor selusin $ 3. Yang murah lagi adalah susu. Seliter bisa cuma sedolaran. Minum dah ampe kembung. Nah, jadi jelas masak adalah pilihan paling efisien untuk menjaga kesehatan dompet. Walaupun masak seadanya dan sederhana, yang penting bisa diterima sama mulut dan perut. Hihi. Apalagi, sekarang banyak bumbu jadi. Memasak jadi lebih indah. #HidupBumbuJadi

♥ Satu hal lagi yang selalu gue lakukan tiap hari disini padahal gak pernah gue lakukan sebelumnya: mengecek ramalan cuaca. Disini, mengecek ramalan cuaca sebelum beraktivitas semacam fardu ‘ain hukumnya. Dari ramalan cuaca lah kita menentukan apakah akan pakai baju seperti apa, apakah perlu bawa payung, bawa sunglasses, atau bahkan bawa jas ujan mungkin. Dari ramalan cuaca pula kita tau apakah sebaiknya ngejemur baju hari ini atau besok. Orang yang gak bawa payung saat hujan deras akan dipandang semacam, “Emang lu gak liat ramalan cuaca? Jelas-jelas dibilang bakal ujan deres”. Walaupun ramalan cuaca disini bisa dikatakan nyaris selalu tepat, tapi namanya juga prediksi manusia, kadang suka juga ada melesetnya dikit-dikit. Yaaa namanya juga ramalan, kadang PHP. Yang gak PHP itu lamaran. #EEEHHH

♥ Ini hal yang paling gue cintah disini: kendaraan yang menghargai para pejalan kaki. Sewaktu baru sampai disini, setiap melewati zebra cross dan melihat ada mobil yang mau melintas, refleks gue langsung berhenti dong. Sebagai mantan penyeberang sejati jalan maut Margonda, jelas gue akan berhenti karena mobil yang sedang melaju kencang pasti akan melintas. Tapi disini, tiap ada zebra cross dan ada pejalan kaki yang mau nyebrang, mobil-mobil pasti berhenti. Mempersilakan pejalan kaki untuk melintas lebih dulu. Aku terharuuuuuuu…. Walau kadang kita masih jauh, mobil akan tetap berhenti, mobil belakang nya juga berhenti, sabar menunggu pejalan kaki lewat. Enggak, gak bakal diklakson-klaksonin. Klakson makruh banget disini; boleh dipake, tapi dihindari adalah lebih baik. Maka, kadang gue gak enak hati kalo masih agak jauh dan mobil-mobil itu sudah berhenti. Padahal, kalo mereka mau tancep gas dulu juga masih sempet. Bahkan kadang, gue suka pura-pura gak mau nyebrang supaya mobil gak nungguin gue (yang mereka lihat lagi berjalan ke arah zebra cross). Ini juga terjadi sama teman-teman yang baru datang ke Sydney setelah gue, kalau lewat zebra cross pasti mereka yang telah merasakan kerasnya hidup menjadi pejalan kaki di ibukota pertama-tama akan langsung berhenti kalau melihat mobil mau melintas di zebra cross. Gue bilang, “Maju aja, gak papa”. Dan kemudian takjub karena mobil yang tadinya ngebut langsung pada slow down, mempersilakan para pejalan kaki menyeberang….

♥ Troli yang boleh dibawa sampe rumah. Iya, gue juga kaget pas tau kalo troli di supermarket sinih boleh kita bawa sampe rumah. Lha, trus gimana ngebalikinnya? Nanti akan ada mobil dari supermarket yang akan menyisir setiap jalanan untuk mengangkut troli-troli yang dibawa sampai rumah tersebut. Jadi, sudah menjadi pemandangan umum adanya troli-troli tak bertuan yang “parkir” di depan rumah atau flat. Kadang, hal itu dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk….pindahan kosan. Hihi, mayan kan ngangkut baju dan buku ke flat yang baru tanpa mesti nyewa taksi, tinggal ambil aja troli yang berserakan di jalan sebelum mobil supermarketnya patroli. Gue sempet berpikir dan bertanya, “Lho kalo trolinya dibawa masuk sampe rumah trus gak dibalikin gimana??”. Dan pertanyaan itu gak pernah terjawab, karena gak ada yang melakukan atau kepikiran melakukan itu disini.

♥ Ini norak sih. Tapi gue seneng kalo belanja di supermarket yang macem Giant atau Carrefour nya gitu dengan self-service payment. Jadi tinggal ngescan barcode barangnya sendiri, masukin barangnya ke plastik sendiri, trus bayar pake debit card. Di setiap stand ada EDC nya. Jadi tinggal gesek atau scan kartu kita aja, kalau udah authorized, beres deh gak perlu panjang-panjang antri di kasir. Hihi.

♥ Air dalam tap water yang tersedia dimana-mana dan bisa langsung diminum. Yap, seperti banyak negara maju lainnya, air kran disini bisa langsung diminum. Air kran di rumah juga bisa langsung dibuat minum. Inilah yang membuat penghematan cukup berarti. Tinggal bawa botol minum dari rumah, kalo haus di jalan cari tap water aja. Gak perlu beli air mineral botolan yang harganya $ 2 per botol.

♥ Apakah semua hal terlihat lebih indah di Australia? Oh tentu saja tidaaaaaakkk. Ada satu hal yang paling gue bencik disini, yakni…. TOILET nya!!! Sebagai orang pribumi yang cinta kebersihan, gue gak demen banget sama WC yang ga ada airnya begono. Waktu di Seoul, gue masih nemu WC yang pakai ecowasher, tapi disini gak ada. Semua WC ga ada ecowasher apalagi toilet shower. Boro-boroooo….. Kangen banget gue ih sama kloset dengan semprotan toilet shower. Oya, satu lagi perbedaannya, disini tisu toiletnya bisa kita langsung buang ke dalam lubang wc. Jadi, kalau gak nemu tempat sampah di dalam bilik WC, gak usah bingung, artinya tisu bisa langsung dibuang ke lubang WC dan tinggal flush.

Jarang nya polisi lalu lintas di jalanan. Di Jakarta kan kita sering banget tuh ya liat polisi yang mejeng di jalanan, entah untuk mengatur lalu lintas atau menilang kendaraan yang melanggar peraturan. Disini, sering banget ada peringatan bahwa kendaraan tidak boleh melaju di atas kecepatan sekian, tapi kok gak ada bapak polisi yang jagain? Ooh, ternyata CCTV banyak sekali dipasang di jalan-jalan raya. Juga kamera yang mendeteksi kecepatan kendaraan. Jadi, gue diceritakan bahwa kalau tertangkap kamera ada kendaraan yang melanggar aturan, langsung diselidiki informasi alamat rumah si pemilik mobil dari plat mobilnya. Dan tiba-tiba…. tarrraaaa…. datanglah surat cinta alias surat tilang ke rumah. Dan tiba-tiba lagi…. tarraaaaaa…. setelah itu rekening di bank si pemilik akan otomatis berkurang untuk bayar tilang. #pukpuk

Yak itulah sekilas hal-hal baru yang gue lihat selama satu bulan disini. Masih panjang perjalanan, masih ada sekitar tujuh belas bulan lagi. Mari kita hadapi dengan semangat dan hati yang ceriaaaaaaa ♥♥♥

2 thoughts on “Satu Bulan

  1. Gan bs share info kos2an mahasiwa dg hrga terjangkau d kingsford? Saya rencana awal mei 2014 k sydney gan. D tggu emailx yaa.thx bfore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s