Pengakuan

Manusia memang dilahirkan bebas tetapi secara keseluruhan sebenarnya ia terbelenggu.

– Jean Jacques Rousseau

 

“Sya, malam ini bisa nemenin aku nonton gak?”

“Untuk kamu selalu bisa Sita sayang, hehehe…”

“Sampai ketemu di tempat biasa yah, jam tujuh. Waalaikumussalam.”

“Siaaappp… wassalamualaikum,” kataku menutup telpon.

 

Belakangan aku sudah mulai nyaman kembali jalan berdua dengan Sita. Tidak ada lagi nama Haryo yang ia coba tawarkan kepadaku. Nama yang lain pun tidak. Aku dengar Haryo sudah menikah beberapa bulan yang lalu.

“Jadi Lia gak masalah jika mas mengambil tawaran bekerja di Papua ini?”

“Nggaklah Mas, Lia lihat Mas Haryo senang banget pas dapat berita tawaran itu. Dan Lia pikir isteri yang baik adalah isteri yang tak menghambat kebahagiaan suaminya.”

“Tapi aku bakalan gak di sini tiga bulan loh. Kamu gak apa-apa?”

“Mas, Mas, jangankan tiga bulan, kamu membalikkan badan setiap pagi lalu tiga langkah menjauh aja rinduku udah menyentuh-nyentuh, hehehe… Lagian kan setelah tiga bulan, Mas Haryo bakalan di sini sebulan penuh. “

“Ha ha ha… bisa aja yah kamu. Oke deh kalau begitu.”

Haryo Pujasiswono <haryop></haryop>

to me <lia.am></lia.am>

 

Lia, Dindaku tersayang, ini hanya untukmu bukan yang lain.

Dinda tahukah kau kata-kata tertulis ini mungkin saja akan membuatmu takkan mampu menangis, bahkan saat aku menulis ini, aku tak mampu lagi menangis, ini terlalu pahit, terlalu, sungguh.

 

Di sela-sela sadarku di bongkahan-bongkahan tanah yang dulunya gunung tetapi kini jurang yang dalam ini, aku ingin menceritakan banyak hal kepadamu.  Semua yang selama ini kututup rapat. Walau tampaknya tak layak aku bercerita semua ini melalui email, tetapi apa boleh buat, aku tak cukup berani menyatakannya langsung kepadamu. Isteriku.

 

Tahukah kau dinda, saatku sudah hampir menyelesaikan pendidikan di UI dulu, bunda yang sungguh kucintai sepenuh jiwa memintaku untuk menikah.

“nak kau sudah berumur, bunda ingin melihat kau segera bersanding dengan seorang wanita, tak baik membujang terlalu lama”

 

Kata-katanya lembut dinda, tapi bagai belati menusuk, mengiris, pedih sekali. Saat itu aku hanya bisa berkata “bunda, maaf sampai saat ini belum ada wanita yang cocok,” kupaksakan tersenyum.

Dinda, bunda adalah manusia mulia, ia pun mengusap punggungku, “tak apa nak,”ucapnya pelan, ada haru di sana, membening matanya dinda.

 

Aku mengutuk diriku saat itu. Bukan apa-apa sampai saat itu memang belum ada wanita yang cocok. Lebih tepatnya mungkin tidak akan ada yang cocok. Aku tidak mengerti bagaimana menyukai wanita, belajar mencintainya, selain kepada ibu, ya selain bunda.

 

Dinda, kau pasti tahu aktivitasku di kampus dulu. Di saat malam-malam aktivitasku bersama sahabat-sahabat yang lain di masjid adalah jamak jika di sepertiga malam kami bertahajjud. Terkadang inilah waktu paling perih lainnya. Aku tak tahu perasaan ini munculnya dari mana dan aku tak tahu namanya apa. Bukannya perasaan haru yang muncul karena suara imam yang merdu ketika membawakan hafalan surat-surat panjangnya tetapi perasaan kagum yang tak aku mengerti jenisnya. Belum lagi jika malam itu aku melihat sang imam yang juga seniorku di kampus menutup matanya ketika berbaring setelah sesi diskusi malam. Rasanya aku ingin berdekatan terus dengannya. Tetapi aku tak berani memperturutkan rasa ini. Istighfar yang terus kulantunkan tak kunjung mengusaikan rasa itu.

 

Sempat aku berpikir aku tak ingin mengikuti acara-acara itu. Aku ingin berhenti dari segala aktivitas yang akan membuat frekuensi bertemu dengan pria menjadi begitu tinggi. Akan halnya ketika aku melakukan itu hanya dalam beberapa minggu sudah muncul rasa sedih, mungkin rindu itu bisa dinamakan, ingin bertemu dengan dia. Hal ini diperparah ketika ia menelponku untuk menanyakan kabarku, menanyakan keberadaanku selama ini. Otakku tahu kalau pertanyaannya menyiratkan persahabatan atau persaudaraan tetapi konyolnya hatiku merasa hal yang lebih setidaknya aku berharap dia mau tahu apa yang kurasakan terhadapnya.

Pedih seperti ini sebenarnya hampir saja kuakhiri dengan menyelesaikan nyawaku di dunia, tetapi untuk itu pun aku tak berani melakukannya. Berbagai ikhtiar coba kulakukan termasuk menunaikan perintah ibuku tadi. Menikahi seorang perempuan. Mungkin jika itu kulakukan, rasa sukaku pada yang tak seharusnya itu pudar pelan-pelan.

 

Perempuan itu bernama Sita. Aku tentu saja tak pernah bisa benar-benar tertarik padanya. Sederhana saja, karena ia perempuan. Tetapi aku menghormatinya. Aku benar-benar berencana menikahinya. Sampai suatu ketika kudengar kabar itu. Ia mengalami luka bakar yang hebat. Aku tak mengerti setelah kejadian itu ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pernikahan kami. Mungkin ia berpikir segala jenis atribut kecantikan pada perempuan penting bagiku, padahal tentu saja aku tak pernah peduli dengan hal-hal seperti itu.

Lalu aku mencoba mencari tahu apakah sebenarnya ia benar-benar melupakanku ataukah ia masih menginginkanku. Aku tahu apa yang aku lakukan sungguhlah kejam. Aku dengan teganya meminta ia untuk menjodohkanku dengan temannya. Rasya namanya. Perempuan yang menarik. Cantik dan cerdas. Tapi sekali lagi, aku tak pernah tertarik dengan atribut-atribut seperti itu. Tak pernah. Karena itulah pada saat perjumpaan pertamaku dengan Rasya aku sengaja membuatnya tak menyukaiku. Ya, tujuanku bukanlah benar-benar ingin dijodohkan tetapi hanya ingin mengetahui apakah Sita masih menginginkanku. Dan aku tahu, Sita tak pernah benar-benar melupakanku.

 

Dinda, maafkan aku jika membawamu ke dalam pusaran kisah yang begitu menyakitkan ini. Tapi aku pikir, sungguh tak termaafkanlah aku jika bahkan kepada isteri sendiri aku simpan rahasia semacam ini.

Dinda, saat aku tahu Sita sebenarnya masih belum melupakanku, aku berencana untuk melamarnya kembali. Aku akan jelaskan kepadanya bahwa aku tak pernah peduli dengan segala bekas luka bakar yang ada di tubuhnya. Aku ingin mencintainya hanya karena Allah. Bukan karena ia perempuan. Bukan karena ia rupawan. Bukan karena ia menawan.

 

Lalu ketika hal itu ingin kulakukan, engkau tiba-tiba menelponku. Entah setan apa yang bergelayut di kepalaku saat itu, aku dengan bodohnya malah mengatakan aku juga mempunyai perasaan yang sama denganmu. Sungguh saat itu aku pikir sungguhlah kejam jika aku menyatakan bahwa aku tak punya perasaan apa-apa padamu, sementara kamu sudah begitu berani menyatakan perasaanmu kepadaku. Pria macam apa yang membiarkan pergi perempuan terhormat yang menyatakan cintanya kepada pria itu.

 

Setelah itu kita pun menikah. Aku belajar mencintaimu. Mencintaimu semata-mata karena Allah. Bukan karena kamu perempuan. Cukup karena aku percaya itulah yang diperintahkan Tuhan. Walaupun, seperti kamu tahu, aku bahkan belum menyentuhmu semenjak hari pertama kita menikah. Aku tak bisa.

Dinda, kupikir sampai di sini saja cerita ini kutulis. Semoga kamu memaafkan aku. Jika pun tidak aku rela dengan semua keputusanmu. Semoga tiga bulan ke depan, hingga aku pulang dari sini, cukup bagimu untuk memutuskan masa depan kita.

 

Salam,

Mas Haryo

 

Keyboard itu pun basah.

 

Pemirsa, kembali lagi dengan kami di sekilas info. Kami baru saja mendapatkan laporan dari Papua, bahwa salah satu kantor yang sedang dipakai perusahaan tambang di kawasan itu tiba-tiba rubuh…

 

 

 

 

Kisah ini ditulis oleh teman saya, Muhammad Akhyar, sebagai bagian dari kisah yang pernah saya tulis disini.

 

2 thoughts on “Pengakuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s