Menerima Orang Baru

Akhir-akhir ini, saya sering sekali membaca postingan teman di sosial media yang membahas betapa banyak nya teman-teman kita berubah terhadap kita (atau sebaliknya) karena sikon yang sudah berbeda dengan dahulu ketika kita masih bersama teman-teman baik kita. Kita jadi jarang bertemu, jarang komunikasi, bahkan jarang bertanya kabar karena kesibukan dan sikon yang sudah berbeda. Berubah. Dan kita menjadi sedih karena tidak bisa menjadi seperti yang dulu lagi bersama mereka.

Saya pun merasakannya, nggak bohong bahwa banyak perubahan antara interaksi saya dengan sahabat-sahabat saya. Terutama masalah intensitas pertemuan. Kesibukan kita sudah berbeda. Ada yang kerja, ada yang bisnis, ada yang kuliah, ada yang di Jakarta, ada yang di luar Jawa, ada yang di luar negeri.

Wajar aja kalo kita ngerasa sedih dan kangen dengan teman-teman baik kita, tapi seiring berjalannya waktu, saya merasa ada hal yang tidak perlu dibesar-besarkan dari perubahan tersebut. Bahwa perubahan itu adalah keniscayaan sudah kita yakini. Kita tidak bisa selamanya berjalan di samping mereka, ada saatnya kita harus berpisah dan mengejar impian masing-masing.

Dua setengah bulan saya di Sydney, rasa rindu dengan teman-teman tentu saja meluap-luap. Saya kangen jalan sama mereka. Saya kangen kumpul sama mereka. Tiap pergi ke suatu tempat, saya merasa pasti asik banget nih kalo ada mereka disini, pasti beda rasanya nih kalo saya kesininya dengan mereka. Pasti lebih seru. Duh. Mellow. Yang saya ingat cuma yang gak ada bersama saya saat itu, sampai saya lupa bersyukur dengan mereka yang saat itu bersama saya….

Terkadang kita fokus pada hal yang tidak ada. Mengeluh. Galau. Padahal andai mau membuka mata sedikit, aduh betapa banyaknya nikmat yang sebenarnya ia sodorkan pada kita, tapi tidak kita sadari karena kita hanya mengingat yang tidak ada. Menjalin hubungan baik dan tetap menjaga silaturahim dengan teman-teman baik adalah wajib hukumnya. Namun dalam setiap fase kehidupan bersiaplah untuk menerima orang-orang baru.

Belajarlah untuk menempatkan rasa rindu dalam posisi yang proporsional. Wajar kangen dengan mereka yang di tanah air. Tapi jangan sampai membuat kita melupakan apa dan siapa yang ada di sekeliling kita saat ini. Bisa jadi merekalah yang Allah kirimkan sebagai sahabat terbaik untuk kita saat ini. Bersyukur. Nikmati yang sedang dijalani. Percaya bahwa Allah pasti akan memberikan pengganti kerabat dan kawan.

People come and go. But ones who go from others’ life might come to ours. So, dont be too worry. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s