(Yakin Banget Lu) Ngomongin Jodoh?

Di sore yang sendu dan dingin habis hujan ini, gue iseng blogwalking dan end up menemukan tulisan-tulisan bertema serupa yakni tentang pencarian jodoh terutama buat wanita-wanita dalam umur yang menurut banyak orang Indonesia udah lebih dari cukup untuk menikah. Ahauhauhaua. Diriku langsung ga konsen ngerjain tugas dan malah berselancar lebih jauh membaca tulisan-tulisan para blogger itu.

Mayoritas yang gue baca adalah tulisan mbak-mbak yang baru pada menikah di umur dua puluh tujuh ke atas nyaris tiga puluhan. Mayoritas tinggal di luar negeri. Alasan mereka dulu masih menjomblo sampai umur segitu macam-macam yah, tapi seneng aja bacainnya. Lucu-lucu dan kontekstual sekali dengan daku, wuahaha.

Salah satu alasan mereka dianggap masih menjomblo sampai usia segitu adalah karena dianggap terlalu ambisius dengan dunia akademis karena sebagian mengenyam pendidikan sampai tingkat s2 di luar negeri. NAH INI! Sama banget dengan apa yang gue rasakan. Gak sekali dua kali komentar senada ditujukan kepada gue sebelum gue berangkat ke negeri kanguru ini.

Salah seorang kenalan pernah berkata seperti ini kepada gue beberapa minggu sebelum gue berangkat,

“Mbak, aturan itu nikah dulu sebelum S2. Nanti cowok-cowok pada takut lho kalo ceweknya udah s2, di luar negeri lagi. “

Deuh. Walaupun gue bukan tipe orang yang suka masukin ke hati komentar-komentar gak enak, perkataan yang ini cukup nancep juga mengusik euforia gue yang mau capcus ke Sydney. Gue saat itu senyum aja. Ambil napas dan berkata perlahan penuh kesabaran,

“Pak… saya memang tidak mencari yang penakut.”

Gile. Keren gak jawaban gue?

Kadang emang dalam kondisi kepepet gue bisa aja ngeles-ngeles dengan jawaban berbagai macam rupa. Padahal mah pas ngomong gue juga ketar ketir. Yaelah nis jomblo aja belagak amat jawaban lu. Ahahahaha~

Agak sedih sih kenapa upaya dan niat mulia mencari ilmu ini malah dianggap sebagai penghalang datengnya jodoh. Padahal, bisa jadi malah ketemu jodohnya disini. Who knoooowwss? Di salah satu blog yang gue baca ada yang menulis begini,

“…Jadi salah banget kalo dibilang sekolah bisa bikin jauh jodoh, justru sebenernya pas sekolah itu banyak kesempatan menemukan calon pasangan. Coba bayangkan…..dua mahasiswa Indonesia, satu pria, seorang lagi wanita. Sama-sama jauh dari kampung halaman, sama-sama kangen makanan Indonesia, sama-sama berjuang untuk beradaptasi di negara asing…”

Bener juga ya. Indah bener bacanya. Tapi kenapa gua gini-gini aja ya? Wakakakaka.

Sejujurnya makin kesini gue makin gak terlalu pusing dengan urusan ini. Soalnya, banyak hal lain yang mengambil porsi pikiran gue untuk dipikirin. Pengen galau, tapi tugas paper banyak. Mau mellow, tapi cucian dan jemuran numpuk. Ga enak kan bergalau sambil nyetrika? Dan saat ini pun, yang membuat lebih galau hati adalah urusan perkuliahan daripada urusan percintaan. Maklum masa-masa tugas numpuk dan ujian baru dibagiin. Pertanyaan “gimana kuliahnya?” menjadi lebih sensitif daripada pertanyaan “kapan kawin?”

Lagipula, gue makin percaya bahwa hal yang baik akan datang di waktu terbaik. Klise. But that’s trueeee. Sepuluh tahun gue  nunggu kesempatan buat bisa tinggal dan belajar di luar negeri, saat inilah baru Allah kasih waktu dan tempat yang terbaik. Dan selama sepuluh tahun itu juga gue gak diem. Gak pasif. Ya kalo bisa jangan sampe sepuluh tahun juga sih nunggu buat dapet jodohnya, but I mean, akan selalu ada masanya. Kalo gak sekarang, mungkin nanti, kalo gak nanti, mungkin bentar lagi (ihik!). Yang penting nikmatin dan manfaatin aja waktu yang gue punya sebaik-baiknya. Daripada nyesel di akhir kenapa dulu waktu single gue gak melakukan itu atau ini.

Gue juga sebenarnya punya banyak harap pada orang di luar sana. Yang pastinya gak bisa gue sampaikan jadi gue tulis sajalah di laman ini. Sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan menyudutkan tentang kapan kawin itu tidak enak didengar. Walau gak niat jahat atau melukai, tapi bertanya sesuatu yang gak bisa dijawab itu bikin bingung loh! Bikin gengges. Ahahahaha. Gak papa sih sebenernya, cuma kalo bisa sambil disemangatin gitu, jangan sekadar jadi ceng-cengan (#pesansponsor). Sudahlah, gak usah nanya yang bikin keki, gak usah mengeluarkan statement yang mengecilkan hati, gak usah menggosipkan, sungguh difaktain itu lebih enak daripada digosipin. Jadi mari kita mandi dan mengaji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s