Jadi Nyamuk

Pernah denger istilah jadi nyamuk? Ketika kalian pergi bersama dua orang sejoli yang merupakan pasangan, saat itulah katanya kita jadi nyamuk. Karena sejatinya pasangan yang sedang kasmaran itu merasa dunia hanya milik berdua. Yang lain numpang ngekos. Jadi saat itulah kita bertransformasi menjadi nyamuk. Yang eksistensinya diakui namun tidak dianggap. Cuma nguing nguing. Enaknya tinggal ditepok. (Btw, kenapa gue menggunakan kata ‘kita’? Karena gue ga mau sendiri. Apalagi gue yakin yang baca tulisan ini juga banyak jomblo, HAHA).

Jadi nyamuk itu kata orang ngenes banget. Cuma bisa liat pasangan mesra-mesraan, peluk-pelukan, foto berduaan, kalo makan suap-suapan, sementara kita cuma mojok sendiri, nguntil di belakang, bahkan foto aja selfie. Eh itu kata siapa??? Itu bener kok. #loh. Maksudnya, ada benernya, tapi banyak juga enggaknya.

Berdasarkan pengalaman gue menjadi nyamuk selama ini, gue bisa bilang bahwa semuanya gak seburuk itu kok. Sebenernya, tergantung juga kalian pergi sama siapa. Pasangan baru biasanya masih norak. Masih anget-angetnya. Bawaannya mau nempeeeel mulu. Liat spot bagus dikit minta foto. Liat jalanan lurus dikit bawaannya mau gandengan. Nah untuk pasangan yang kayak gini, ada baiknya memang dimaklumi. Ya namanya juga baru bok. Ente juga kalo punya baju atau kacamata baru juga maunya difoto kan. Trus diupload. Biar banyak yang ngelike.

"Iiiihhh... panda nya lucuuuu... AERRR fotooiiiiin"

“Iiiihhh… panda nya lucuuuu… AERRR fotooiiiiin”

Pasangan yang sudah mencapai usia atau kebersamaan agak lama biasanya lebih dewasa. Manis-manisnya udah agak lewat. Walau masalah foto-foto sih biasanya tetep. Tapi keberadaan orang ketiga biasanya sudah lebih dimaklumi. #eh. Maksudnya, gak selalu dunia milik berdua. Kita juga jadi gak ngerasa jengah atau sungkan kalau harus jalan bareng mereka.

Bahkan, menurut gue, jalan bersama pasangan ini banyak sisi positifnya. Gue sering mendapatkan pelajaran dan obrolan bergizi dari mereka. Ada aja pembicaraan menarik yang biasanya menjadi ilmu baru buat gue. Entah bagaimana cara menghadapi mertua, mengurus anak, menghadapi suami yang gak pekaan, membagi waktu antara keluarga dan teman main, dan lain-lain. Selain itu, gue juga bisa belajar banyak dari cara pola komunikasi pasangan, melihat pola pikir dan tindakan satu kepada yang lainnya. Hal-hal semacam ini, mungkin gak bisa kita dapatkan kalau kita gak jalan bareng sama mereka. Apalagi, kalau pasangan tersebut berasal dari peer group yang berbeda dari kita, biasanya malah jadi memperluas pertemanan, bisa jadi kita malah dapet calon jodoh karena dibantu cariin kenalan dan koneksi baru yang bermanfaat bagi hidup kita ke depannya.

Ini bisa jadi meme nih: "Ini kisah cinta gue dalam sebuah foto. Btw, gue yang di belakang ngajak anaknya pergi pas emak bapaknya mau foto"

Ini bisa dibuat meme nih:
“Ini kisah cinta gue dalam sebuah foto. Btw, gue yang di belakang ngajak anaknya pergi pas emak bapaknya mau foto berdua”

Nah, makanya, gak usah anti-anti amat jadi nyamuk. Gak senyebelin itu kok. Perjalanan akan tetap sama menyenangkannya seperti kita pergi dengan teman-teman yang lain. Asal pinter-pinter pilih pasangan yang sekiranya bisa membuat kita nyaman jalan bersama mereka dan mereka pun merasa demikian.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s