Minyak Panas

Sejak tinggal di Sydney, ada hal-hal baru yang gue pelajari dan lakukan. Yang paling kerasa sih adalah soal masak. Mungkin pernah gue singgung di postingan sebelumnya, gue adalah anak yang gak pernah masuk dapur selama di Jakarta dulu. Semasa kuliah, selayaknya tipikal mahasiswa aktivis (keren ye kedengerannya? padahal mah….) gue sibuk ikut kegiatan ini-itu selama di kampus. Dampaknya, gue harus ngekos selama 4 tahun gue kuliah. Mencari tempat tinggal dekat kampus agar gak merepotkan kuliah dan rapat. Selama ngekos, dapur kosan adalah tempat yang nyaris gak pernah gue datangi. Gue inget, suatu hari gue pengen goreng telur dan menyadari kita (penghuni kosan) gak ada yang punya minyak goreng. Saking gak ada yang pernah masaknya. Lagian, menclok dikit ke warteg juga udah bisa dapet makanan murah meriah yang bikin kenyang. Ngapain masak?

Gue pulang ke rumah setiap weekend. Gak kehitung berapa kali mama gue mengajak belajar masak di kala weekend. Tapi, weekend pun berakhir dengan gue jarang di rumah. Urusan organisasi SMA atau jalan-jalan sama teman seringkali menghabiskan akhir pekan gue. Pun gue di rumah, maunya leyeh-leyeh, santai-santai, gegoleran sambil main internet. Dapur? Duh ribet. Minggu depan aja deh, ma. Yang berakhir dengan selalu “minggu depan”.

Lulus kuliah, gue berhenti ngekos walau akhirnya dapat kerja di daerah Depok juga. Udah ketebak ya betapa capeknya setiap hari kerja pulang pergi Depok-Pulogebang (yang gatau Pulogebang dimana, gugling plis, masih masuk Jakarta kok!). Akhirnya, weekend lebih sering gue habiskan dengan istirahat, pergi sama teman, atau KONDANGAN (waini yang paling sering!!) . Maklum, udah gajian, udah punya duit, maunya ngerasain nikmatin hasil kerja dong walau biasanya berakhir dengan jalan-jalan ke mall doang. Tipikal wanita Jakarta sekali. Begitulah. Sibuk. Gak ada waktu masuk dapur.

Kondisi berubah 7 bulan terakhir saat takdir membuat gue terdampar di benua kanguru ini. Gue ga bisa seenaknya beli-beli makanan di warteg sebagaimana gue dulu di Depok karena jelas disini ga ada warteg. Ditambah kenyataan bahwa gue hidup di salah satu dari 5 kota termahal di dunia, membuat gue harus mengatur keuangan sebaik mungkin. Uang beasiswa gue bukan tidak terbatas.

Salah satu cara menghemat adalah dengan cara memasak sendiri alih-alih beli makanan di luar. Satu porsi makan di luar berkisar antara $8-15. Secara rata-rata sekitar $10 lah. Sekali makan. Gue harus rasional dengan cara memasak sendiri yang memang akan sangat jauuuuuh menghemat. Satu kilo paha ayam sekitar $4, itu gue bisa dapet 10 potong paha ayam. Telur selusin $3. Nah, bisa buat berapa kali makan tuh? Jauh banget sama beli makanan jadi di resto…. Akhirnya, gue mulailah pekerjaan mulia ini. Memasak untuk diri sendiri.

Terus terang dan sangat jelas sudah pasti gue gegar budaya dengan kondisi ini. Gue bingung banget awalnya. Gue gak ngerti mesti masak apa dan belanja apa karena di Jakarta pun gak pernah belanja ke pasar. Tapi, kondisi ini keterpaksaan. Kalo gue ga masak, gue bisa keabisan duit. Kalo gue keabisan duit, boro-boro nabung buat booking gedung resepsi (#eh), buat hidup sehari-hari aja bisa-bisa gue gelagapan. Maka mulailah gue mengakrabkan diri dengan dapur. Satu minggu, dua minggu, walau masakan gue sederhana dan banyak memakai bumbu jadi, tapi gue semakin terbiasa dengan mengolah makanan. Beberapa kali gue tanya mama gue tentang hal-hal yang gue gak tau. Ngungkep ayam itu gimana? Makanan santen itu basinya berapa lama? Terkadang gue melihat bahwa mama gue mungkin merasa anaknya ini bener-bener gak tau apa-apa. Beberapa hal yang menurut beliau ‘pengetahuan umum’ tentang memasak ternyata gue gak tau. Kadang beliau yang minta maaf sama gue karena lupa ngasih tau ini-itu karena berasumsi gue udah tau. Yang nyatanya, sama sekali enggak😀

Satu hal yang paling gue takutin dari proses memasak adalah saat menggoreng. Aseli, ini proses bikin gue panas dingin. Pertama, dulu gue gak tau kapan minyak itu udah panas apa belom. Saat gue memasukkan bahan makanan kemudian minyak di penggorengan belum terlihat menggelegak tanda panas, gue merasa gagaaaaaal banget. Minyaknya ternyata belom panas. Gue khilaf. Gue lemah. Kedua, gue gak tau standar makanan matang itu semana, gimana kalo luarnya doang keliatan kecoklatan tapi dalemnya gak mateng? Duh. Galau. Ketiga, dan ini yang paling penting sedunia, gue takut kecipratan minyak panas😦

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, setiap masak, sampai saat ini, gue selalu terkena cipratan-cipratan minyak panas. Apalagi kalau bahan masakannya mengandung air. Beeeuuuhh…. itu minyak rasanya muncrat gak terkendali kemana-mana. Sakitnya itu, disini…. Kadang di tangan, kadang di muka, astaghfirullaaaaah… pedih bener! Apalagi kalau minyaknya nyiprat ke daerah yang gak sewajarnya seperti kelopak mata. Sakitnya bikin pingin nangis. Dan begitulah, sebagai budak makanan berkolesterol, gue harus pasrah setiap kali adegan cipratan minyak panas menghampiri.

Somehow, hal ini pernah membuat gue merenung. Gue cuma masak buat diri sendiri doang aja dan baru juga intens masak berapa bulan sih, rasanya udah stress banget kena minyak panas terus. Gimana dengan para ibu ya yang setiap hari menyiapkan makan untuk keluarganya? Gimana dengan mama gue yang belasan-puluhan tahun masak buat gue? Berapa banyak cipratan minyak panas yang mereka terima demi menyajikan makanan yang baik untuk suami dan anak-anaknya? Berapa kali mereka harus menahan sakit yang bahkan bisa berbekas di kulit mereka? Pun habis masak, belum tentu sang anggota keluarga mau menghabiskan masakannya. Bisa jadi gak suka. Bisa jadi si anak sudah makan di luar bareng teman-temannya. Duh. Sungguhlah, salam hormat dan salut saya untuk seluruh ibu yang menyiapkan makanan untuk keluarganya. Lelah kalian berbalas surga, Insya Allah.

Meanwhile, gue lama kelamaan ingin memperbaiki niat gue dalam memasak. Pada awalnya, gue memasak dengan niat menghemat. Itu aja. Tapi, lama-kelamaan, gue melihat bahwa sebenarnya kebiasaan ini bisa membawa gue ke suatu tahap lain yang lebih baik. I’m started to think that this cooking experience is my effort to give a favor; to my unborn children, to my future husband. Anak-anak dan suami gue nanti berhak mendapatkan olahan makanan yang halal dan baik dari gue, mertua gue nanti berhak berlega hati menyerahkan anaknya ke tangan perempuan yang akan memberinya makan dengan baik, as she did before, dan mama gue berhak tidak kehilangan muka di depan besan dianggap gak pernah ngajarin anak perempuannya masak.

Walau gue tipe orang yang memegang prinsip bisa memasak bukanlah syarat mutlak menjadi ibu yang baik, namun gue menjadikan hal ini salah satu bagian keciiiiiiiil dari ikhtiar menjadi sebaik-baiknya ibu. Hal lain di luar memasak, masih amat sangat banyak sekali. Kuncinya menurut gue sama sih: mau belajar dan berdoa. Berdoa ini penting banget loh!!! Jujur-jujuran (spesial buat yang baca tulisan ini aja yah, uhuy), gue sering banyakan doa pas masak. Doa semoga masakannya jadi, semoga enak, semoga yang makan sehat dan lancar urusan-urusannya. Kalaupun masakan gue gak enak, nanti Allah yang belokkan lidah orang-orang yang makan supaya terasa enak. Wuihihihihihi.

Dan begitulah, setiap ada yang bertanya ke gue, “Gue gak bisa masak nih…. Gimana ya?”, gue selalu bilang, “Masak itu kemampuan yang bisa dipelajari. Dan setiap wanita cuma butuh diberi kesempatan”. Jadi, walau minyak panas menghadang, janganlah kita pernah lelah belajar dan berikhtiar kawan. MERDEKA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s